Oleh: Kristian Strutt

Sebuah penemuan terbaru bisa secara radikal mengubah pandangan kita tentang salah satu situs arkeologi yang paling terkenal di dunia, Makam Tutankhamun.

Pemindaian terhadap komplek di Lembah Para Raja di Mesir itu mengungkapkan bahwa masih banyak ruangan yang belum ditemukan di sana, termasuk tempat peristirahatan Ratu Nefertiti, meskipun kita telah mempelajari makam itu selama hamper 100 tahun.

Temuan terbaru tersebut telah “menyentuh” misteri dan dugaan seputar makam sang ratu Mesir, Nefertiti, yang meninggal sekitar 1330 SM. Sejumlah pakar percaya bahwa ia dimakamkan di sebuah ruangan di dalam makam Tutankhamun, yang merupakan anak tirinya (dikenal sebagai KV62), meskipun para ilmuwan lain telah mendesak kehati-hatian atas hipotesis ini.

Nefertiti adalah tokoh penting dalam sejarah Mesir kuno. Dia dan suaminya, Firaun Akhenaten membantu membawa sebuah revolusi agama di Mesir kuno, dan ia mungkin bahkan sempat memerintah negara itu dalam tempo singkat setelah kematian sang suami. Namun meskipun kita memiliki sedikit informasi yang solid tentang kehidupan dan kematiannya, jenazahnya tetap tidak pernah ditemukan.

Oleh karena itu, penemuan makamnya bisa berperan dalam mengungkapkan lebih lanjut tentang masa kritis dalam sejarah, dan bahkan mengubah pandangan kita pada seberapa kuat dan pentingnya sang ratu. Nicholas Reeves, direktur penelitian, percaya bahwa berdasarkan ukuran dan tata letak Kv62, mungkin awalnya telah dirancang untuk sang ratu. Dia juga telah menggunakan survey radar penembus tanah (Ground Penetrating Radar – GPR) untuk mencari kemungkinan ruangan tersembunyi yang mungkin berisi sisa-sisa jasad Nefertiti setelah penelitian ulang tentang hubungan antara Nefertiti dan Tutankhamun yang menyebabkan minat baru melakukan pemindaian terhadap kuburan itu.

Arkeologi bawah tanah

Teknik survei geofisika yang digunakan untuk mempelajari makam telah diterapkan dalam arkeologi sejak 1970-an. GPR melibatkan pemancaran gelombang radar elektromagnetik melalui struktur dan mengukur berapa lama waktu yang dibutuhkan bagi mereka untuk memantul oleh objek yang berbeda dan elemen yang terkandung. Bahan yang berbeda mencerminkan gelombang radar pada kecepatan yang berbeda sehingga dimungkinkan untuk menggunakan informasi ini untuk menciptakan peta 3D berdasarkan struktur tersebut. Untuk Kv62, peta menunjukkan bahwa terdapat ruangan di luar dinding makam, yang bisa jadi merupakan ruangan yang belum ditemukan.

Masalah dengan survei tersebut adalah bahwa harapan yang tinggi dari kesimpulan awal yang dirilis ke publik mungkin tidak sesuai dengan realitas temuan nantinya. Data seringkali dapat ditafsirkan dalam cara yang berbeda. Misalnya, retakan alami dan celah di batu mungkin menghasilkan respon yang mirip dengan ruangan yang belum ditemukan. Dengan mengumpulkan data yang lebih luas, kita perlahan-lahan bisa membangun sebuah gambaran yang lebih jelas tentang sejarah situs tersebut.

Mengungkapkan Stonehenge yang sesungguhnya

Sementara itu, teknik geofisika lainnya cenderung digunakan untuk mempelajari situs yang lebih terbuka dan lansekap. Dengan meggunakan teknik seperti itu pada Stonehenge, misalnya, telah benar-benar mengubah cara berpikir kita tentang bagaimana lansekap itu digunakan, dan bentuk-bentuk ibadah yang digunakan oleh masyarakat Neolitik. Sebelum survei tersebut, hanya segelintir yang diketahui tentang Stonehenge sebagai monumen ritual, yang berarti bahwa arkeolog tidak bisa dengan mudah mengevaluasi tentang fungsi sebuah lansekap.

Survei geofisika mengungkapkan ratusan fitur arkeologi, termasuk 17 monumen ritual utama. Untuk pertama kalinya para arkeolog mampu memetakan setiap kemungkinan sisa- sisa monumen dalam lansekap, termasuk engsel, lubang, gerobak, dan parit. Ini berarti bahwa kita dapat mulai untuk sepenuhnya meneliti tentang bagaimana penyelenggaraan ritual di situs tersebut. Misalnya, temuan baru juga mengungkapkan tentang fungsi astronomi yang sebelumnya tidak diketahui atau hanya sebagian diakui.

Mirip pekerjaan survei geofisika di Ostia Antica di Italia yang telah benar-benar mengubah teori-teori kita tentang tata letak kota dan pelabuhannya. Sebuah survei magnetometer yang dilakukan di daerah antara Portus dan Ostia antara 2008 dan 2011, menemukan keberadaan gudang yang terkubur dan struktur terkait. Hal ini menunjukkan kota itu lebih dari sekadar digunakan untuk penyimpanan, bahkan mungkin membuatnya memiliki peran yang lebih penting sebagai pelabuhan terdekat Roma daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Sebuah survei yang sedang berlangsung di Old Sarum di Wiltshire, Inggris telah mempelajari daerah di sekitar sisa-sisa kota abad pertengahan dan Zaman Logam. Dengan menggunakan GPR, magnetometri, dan ketahanan Bumi bersama-sama telah menemukan struktur abad pertengahan, halaman, dan sisa-sisa Romawi lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat sebuah pemukiman yang jauh lebih besar dan kompleks di Old Sarum yang jauh lebih awal daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Dari penemuan-penemuan baru itu, menunjukkan bahwa teknologi geofisika memiliki peran besar dalam arkeologi, baik melalui penyelidikan situs dan lansekap, dan juga monumen kecil seperti bangunan dan makam. Namun kita perlu melihat aspek yang lebih sensasional dari penelitian tersebut dan memahami perannya dalam gambaran yang lebih besar guna mengungkap masa lalu. (Epochtimes/Osc/Yant)

Kristian Strutt adalah seorang peneliti geofisika di University of Southampton, Inggris.

Share

Video Popular