- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Bank Sentral RRT Minta Pertolongan The Fed

Oleh: Dr. Xie Tian*

Akhir Maret tahun ini, Gubernur Bank Sentral Partai Komunis Tiongkok/ PKT menyatakan harapannya mendatangkan lebih banyak dana tabungan untuk masuk ke dalam investasi saham dengan mengembangkan pasar modal. Baru saja pernyataan dilontarkan, kantor berita Reuters memberitakan, setelah bencana bursa saham RRT Juli tahun lalu, Gubernur Bank Sentral pernah meminta pertolongan darurat pada The Fed, meminta petunjuk metode penanggulangan bencana di bursa saham.

Kalangan industri berpendapat secara momentum kedua kejadian tersebut bukanlah suatu kebetulan, The Fed telah memperingatkan PKT agar tidak mengintervensi pasar. Namun surel yang isinya meminta pertolongan darurat yang dilayangkan Ketua Perwakilan Bank Sentral RRT di Amerika Serikat kepada Kepala Keuangan Internasional The Fed yakni Kamin, telah mengungkap sisi gelap di dalam pemerintahan PKT.

Topik surel meminta tolong itu adalah, “Kami akan sangat berterima kasih, bila Anda memberikan bantuan darurat ini!”

Di dalam surel tersebut disebutkan soal anjloknya bursa efek RRT baru-baru ini, dan disebutkan, “Gubernur Bank Sentral kami berharap dapat belajar dari pengalaman Anda. Bisakah Anda memberitahu kami segera, tindakan apa yang Anda tempuh pada saat itu?”

Pada 1987 Bank Sentral PKT merasa sangat tertarik dengan tindakan The Fed dalam menangani perjanjian pembelian kembali dan metode suntikan modal pada sistem perbankan. 19 Oktober 1987 (Black Monday), bursa efek di seluruh dunia runtuh, mulai dari Hongkong, menyapu sampai ke Eropa dan AS. Indeks Dow Jones anjlok 23%, indeks S&P anjlok sebesar 20%.

Tentu saja Kamin ingin membantu, dengan cepat ia mengirimkan penjelasan umum, ditambah dengan puluhan lembar catatan, penjelasan dan laporan milik The Fed. Sebenarnya, dokumen yang diberikan oleh Kamin tersebut adalah data yang dipublikasikan The Fed di situs internetnya. Setiap lembar dokumen tersebut bisa didapat lewat jalur umum, karena hukum di AS mewajibkan notulen rapat pejabat Bank Sentral untuk dipublikasikan. Data yang dipublikasikan itu, mengapa PKT tidak mencarinya sendiri, menganalisa dan menggunakannya?

Inilah salah satu bukti kecil tidak berdayanya PKT dalam menjalankan pemerintahan.

Bank Sentral PKT bertanya pada Kamin, adalah keputusan yang tepat. Steven B. Kamin adalah pakar finansial internasional, jabatan resminya adalah Director of International Finance. Pada 1979 Kamin meraih dua gelar S1 yakni sarjana ekonomi dan sejarah. Pada 1987 ia meraih gelar doktor ekonomi dari MIT, dan pada tahun yang sama ia memulai karir di The Fed sebagai asisten riset, hingga akhirnya mengepalai Divisi International Finance, pengalamannya sangat kaya.

Sungguh menggelikan melihat PKT meminta pertolongan dengan cara yang begitu menyedihkan. Meminta pertolongan dengan rendah hati tentu tidak ada salahnya, belajar dari negara maju juga merupakan hal baik. Tapi peristiwa meminta pertolongan internasional ini mengungkap satu hal, bahwa PKT telah benar-benar tidak berdaya memerintah negara, dan sudah “tidak ada siapa-siapa” lagi. Saat ini masyarakat Tiongkok kehilangan tidak hanya kekayaan dan devisa asing, di mata masyarakat dunia, Tiongkok juga telah kehilangan kecerdasan dan kebijaksanaan, para elite di negeri Tiongkok telah ber-emigrasi.

Masyarakat tak pelak bertanya-tanya, dimana para pemikir RRT sendiri, sehingga harus begitu terburu-buru meminta tolong?

Tak heran, belasan tahun terakhir demam “tim pemikir” melanda Tiongkok, dalam sekejap muncul ratusan “tim pemikir.” Tapi tim pemikir RRT, menurut mereka sendiri, tidak memiliki “pikiran,” hanya kulit kosong semata. Memang, tim pemikir RRT bukan tim pemikir negara yang sebenarnya, lebih tepat disebut “partisipasi tinggi” yang mengabdi pada PKT. Karena munculnya tim pemikir ini bukan atas dasar rakyat serta kepentingan dan masa depan serta kelangsungan hidup bangsa Tiongkok, melainkan demi kepentingan PKT semata.

Kini masyarakat tahu, kepentingan partai dan kepentingan rakyat saling berseberangan. Apalagi, para pemikir ini sebenarnya juga tidak layak disebut partisipasi tinggi atau pemikir PKT, karena mereka bahkan tidak bisa jujur dalam memberikan masukan yang paling menguntungkan bagi masa depan puluhan juta anggota PKT, karena dalam menghadapi realita akhir hayat PKT, para pemikir dan pakar tidak berani menghadapinya, juga tidak berani lagi menelitinya. Mereka bahkan tidak berani membahas secara terbuka buku “9 Komentar” yang mengupas soal PKT secara mendalam, jadi mereka tidak mampu mengemukakan ide apa pun.

“Lebih Baik Berikan Pada Orang Lain, Daripada Budak di Rumah Sendiri”

Masalah yang paling krusial adalah, api telah membakar rumah, situasi keuangan begitu genting, grup penguasa PKT tidak segera mengumumkan kepada rakyat dan para pemegang saham Tiongkok tentang situasi krisis sekarang, tapi sebaliknya yang pertama diberitahu adalah orang Amerika! Inilah yang patut dipikirkan dan direnungkan.

Sebenarnya memang begitulah PKT selama ini, mereka meyakini kebijakan “lebih baik diberikan kepada orang lain, daripada diberikan kepada budak di rumah”, ini juga karakter unik suatu rezim otoriter, ini ditentukan oleh karakter kediktatoran, otoriter serta suka merampas dari suatu rezim.

Dulu, mengapa Ratu Cixi (dari dinasti Qing) berkata “lebih baik diberikan kepada orang lain, daripada diberikan kepada budak di rumah” dan “menakar materi yang dimiliki Tiongkok, untuk mengambil hati negara lain?”

Ini sebenarnya adalah keputusan bijaknya sendiri, dengan mempertimbangkan kepentingan kerajaan.

Ketika menandatangani “Boxer Protocol,” Dinasti Qing sudah diambang kehancuran, bagi Ratu Cixi maupun Kerajaan Qing, siapa “keluarga” dan siapa “orang asing,” mereka sangat paham. Seumur hidupnya Ratu Cixi begitu banyak mengalami gejolak politik, satu persatu kejadian: kabur dari Xianfeng, kudeta di Xinyou, reformasi hukum Wuxu, gerakan Yihetuan (Boxer) dan lain-lain. Ia menyaksikan kerajaannya digerogoti dan semakin lemah, semua gejolak politik itu terkait erat dengan keselamatan dirinya, masa depan politik serta nasib kerajaannya. Ancaman kerajaannya (etnik minoritas Mancu), adalah ratusan juta rakyat Tiongkok (etnik mayoritas Han). Ratu Cixi lebih rela memberikan kerajaannya pada orang Barat, memberikan kerajaannya kepada orang-orang yang mampu membantu Dinasti Qing untuk bangkit kembali, daripada memberikan kerajaannya kepada “para budak” negerinya sendiri.

PKT saat ini juga seperti Ratu Cixi. Pada dasarnya PKT adalah roh jahat yang berasal dari luar negeri, yang tidak mewakili kepentingan orang Tiongkok. Setelah melihat krisis ekonomi di berbagai sektor dan Tiongkok terperangkap di tepi kehancuran, dengan situasi genting seperti ini, di dalam hati rezim PKT tidak memikirkan kekayaan dan kepentingan rakyat Tiongkok. Apalagi hak rakyat untuk mengetahui situasi yang sebenarnya, yang dipikirkan hanya kepentingannya sendiri, serta keselamatan dan keamanan rezimnya. Saat ini PKT bahkan rela merendah diri memberitahu orang Amerika tentang krisis yang melanda RRT, tapi tidak ingin memberitahu fakta mengenai krisis ini kepada “para budak,” rakyat Tiongkok, rakyatnya sendiri.

Contoh kasus PKT “lebih baik diberikan kepada orang lain, daripada diberikan kepada budak di rumah” cukup banyak. Pada 2011, Dubes RRT untuk Macedonia mengumumkan akan memberikan bantuan 23 unit bus sekolah dan akan diserahkan kepada wakil PM Macedonia, padahal 10 hari sebelumnya, baru saja terjadi tragedi bus sekolah di provinsi Gansu! Tahun 1979, sebelum PKT menyerbu Vietnam, Deng Xiaoping datang ke AS dan memberitahu pemerintah AS bahwa Tiongkok akan segera mengirimkan pasukannya. Padahal waktu itu tidak ada seorang pun rakyat Tiongkok tahu menahu soal itu.

PM PKT Li Keqiang ketika menjabat sebagai Sekretaris propinsi Liaoning, lebih rela memberitahu Dubes AS bahwa angka ekonomi RRT adalah palsu, bahkan dirinya sendiri tidak percaya angka itu, tapi tidak mau memberitahu rakyatnya bahwa pemerintah telah merekayasa sistem statistik ekonomi. Dulu PKT memberikan bantuan uang kepada Albania sebesar RMB 9 milyar per tahun, persis cukup untuk membantu 100 juta anak-anak desa di RRT untuk menyelesaikan sekolah hingga SMP. Padahal menurut laporan PKT pada 1980, sebelum Revolusi Kebudayaan di RRT terdapat 100 juta anak putus sekolah karena tidak ada biaya.

Pada 2008, PKT menghapus hutang 46 negara senilai lebih dari RMB 40 milyar dan pada 2009 PKT kembali menghapus hutang 32 negara, tapi tidak rela memberikan uang itu untuk memperbaiki pendidikan di tempat-tempat terpencil, atau menyediakan air bersih bagi rakyat, atau menggunakan uang itu untuk mengatasi polusi udara yang begitu parah di RRT!

Di ambang hidup dan mati, PKT tidak akan mengungkap fakta sebenarnya pada rakyat, sebaliknya justru meminta pertolongan pada orang lain yang dianggap “musuh.” Ini cukup menjelaskan sisi gelap dari hati PKT. Tapi ketika RRT-AS bersitegang, suasana di Laut Tiongkok Selatan semakin memanas, strategi jitu PKT terhadap AS pasti tidak akan bisa sepenuhnya diterima. Apalagi, kesulitan RRT mulai dari ekonomi, keuangan, hingga politik, telah mengendap bertahun-tahun, rumit dan kacau balau. PKT sendiri sudah tidak mungkin menyelesaikannya, bantuan AS juga tidak akan bisa mengatasinya, mungkin hanya tangan Ilahi atau kekuatan dari Langit, yang akan mampu mengatasi semua itu. (sud/whs/rmat)

*Dr. Xie Tian adalah Professor di Business University of South Carolina Aiken