Media Korea Selatan ‘Daily NK’ pada 5 April melaporkan, harga bensin di Korea Utara telah naik sampai 53 % dari harga sebelumnya dalam waktu sebulan internasional memberlakukan sanksi bagi negara itu.

‘Daily NK’ mengutip ucapan sumber di Ryanggang-do, Korut melaporkan harga bensin pada akhir bulan lalu yang KRW. 7.000  per liter (+/- Rp.79.000,-), kini sudah naik menjadi KRW.10.700  per liter (+/- Rp.122.000,-).

Bensin yang dijual swasta kebanyakan dicampur dengan minyak lain yang didapat dari Angkatan Udara. Analis berpendapat bahwa harga bensin jadi terpicu naik karena adanya sanksi internasional yang melarang negara-negara mengekspor minyak penerbangan kepada Korea Utara.

Sumber juga mengungkapkan, “Harga barang-barang di kota seperti Pyongyang dan Sinuiji juga naik sampai 20 % dibandingkan dengan harga sebelum sanksi diberlakukan.”

‘Daily NK’ mengutip ucapan sumber menyebutkan, setelah otoritas Beijing menyatakan akan aktif terlibat dalam sanksi internasional. Beberapa perusahaan swasta antara Korut dengan Tiongkok berkongkalikong untuk mengirim berbagai macam perlengkapan militer ke Korut dengan cara disembunyikan dalam kiriman barang-barang kebutuhan umum, barang-barang itu termasuk ban roda dalam berbagai spesifikasi, baja nirkarat, suku cadang mesin, aseton, minyak tahan air untuk senjata, pelumas mesin, bahan kimia dan sejenisnya.

Setelah pemerintah Tiongkok memberlakukan pemblokiran semua transaksi keuangan dengan Korea Utara. Pihak berwenang Korut mencoba mengatasi masalah dengan cara ilegal melalui jalur pribadi-pribadi. Mereka memilih menggunakan  KA internasional Beijing – Pyongyang yang lebih longgar dalam pemeriksaan pabean maupun bagasi penumpang untuk membawa dana yang sudah berhasil ditarik secara ilegal.

Korea Utara yang semakin bergolak karena sanksi internasional, masih saja mempertahankan program pengembangan senjata nuklir. Lembaga peneliti AS ’38 North’ baru-baru ini memberitakan bahwa pembangkit listrik untuk laboratorium radio kimia Yongbyon, Korut terpantau lewat citra satelit sudah diaktifkan kembali. Diduga fasilitas itu akan memproduksi lebih banyak plutonium untuk persediaan.

Direktur Dinas Intelijen AS James Clapper bulan Pebruari lalu di depan anggota Komisi Militer AS mengatakan, “Korea Utara diperkirakan dalam beberapa pekan sampai bulan ke depan akan kembali memproduksi plutonium.” (sinatra/rmat)

Share

Video Popular