Oleh: Yu Qingxin

Pada 24 Maret 2016, Pengadilan Pidana Internasional Bekas Negara Yugoslavia Den Haag Belanda memvonis mantan pemimpin Serbia Radovan Karadzic telah melakukan kejahatan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang serta 10 kejahatan lainnya. Karadzic dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 40 tahun penjara.

Setelah eks Uni Soviet runtuh pada 1991 dan eks Yugoslavia juga disintegrasi. Selanjutnya dalam perang Bosnia Herzegovina yang terjadi, di jazirah Balkan muncul tiga buron penjahat perang. Kecuali Karadzic yang baru saja divonis, yang lainnya adalah Milosevic dan Mladic. Karadzic adalah presiden dari Republik Serbia Bosnia, sementara Mladic adalah panglima tertinggi angkatan bersenjata negara itu, sedangkan Milosevic adalah mantan presiden Yugoslavia.

Pada 2008, Karadzic yang ketika itu berusia 63 tahun melarikan diri. Ia tertangkap di Serbia setelah 12 tahun pelariannya. Sekarang divonis hukuman 40 tahun penjara dalam usia 70 tahun. Nasibnya sudah sangat jelas sekali, cepat atau lambat bakal meninggal di dalam penjara. Pada 2001 Milosevic tertangkap. Lalu pada Maret 2006 ia meninggal di dalam penjara PBB dekat Den Haag dalam usia 64 tahun. Setelah Milosevic tertangkap, Mladic melarikan diri.

Pada 2004, anak buahnya mulai menyerahkan diri pada Pengadilan Internasional Den Haag, namun Mladic tidak menyerahkan diri sehingga pemerintahan Serbia berada di bawah tekanan besar, sampai-sampai menawarkan hadiah satu juta Euro (kurs tukar sekarang: 15 miliar Rupiah) untuk menangkap Mladic. Karena Serbia ingin bergabung dengan Uni Eropa maka mereka harus melewati ‘aral lintang’ kasus kemanusian Mladic ini.

Nasib memalukan dari tiga orang “penjahat perang,” yang satu sudah meninggal dunia, satu lagi melarikan diri dan yang satu menghabiskan sisa hidup dalam jeruji besi. Kejahatan paling besar yang dilakukan oleh Karadzic dan Mladic adalah mereka harus memikul tanggungjawab pidana berat atas pembantaian Srebrenica pada 1995. Pada saat itu pasukan Serbia membantai 8000 pria dan anak laki-laki muslim, pembantaian tersebut dikenal sebagai kekejaman paling serius di Eropa setelah Holocaust Nazi di Perang Dunia II.

Namun, jika dibandingkan dengan penindasan Jiang Zemin terhadap Falun Gong, berapa banyak yang telah tewas akibat kekejamannya?

Cara penyiksaannya saja ada 100 macam lebih yang dipergunakan secara umum, kekejaman yang diluar batas perikemanusiaan. Hanya pengumuman di situs Minghui saja sudah ada 3.000 lebih praktisi Falun Gong yang beridentitas jelas yang disiksa hingga tewas. Ada pula puluhan ribu praktisi Falun Gong yang dibunuh dan organ tubuh mereka direnggut secara hidup untuk diperjual-belikan. Penelusuran petunjuk yang dipaparkan, telah membuktikan bahwa kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilanggar oleh Jiang Zemin adalah kejahatan paling serius di muka bumi ini sejak Holocaust Nazi PD-II.

Dalam banyak kejahatan besar yang dituduhkan kepada Jiang Zemin, “kejahatan terhadap kemanusiaan” termasuk kejahatan besar yang paling berat. Di luar RRT, Jiang digugat di banyak ngara karena perannya sebagai dalang “kejahatan terhadap kemanusiaan.” Seiring dengan tersebar luasnya fakta tentang Falun Gong, tuntutan hukum kejahatan terhadap kemanusiaan ini walaupun masih termasuk berita sensitif dan disensor di RRT namun sudah tidak asing lagi bagi khalayak.

Selain itu, pada 13 Desember 2014, pidato Xi Jinping pada upacara peringatan publik nasional para korban pembantaian massal Nanjing (oleh pasukan agresor Jepang pada PD-II) untuk pertama kalinya menyebutkan “kejahatan terhadap kemanusiaan.” Ini juga merupakan pertama kalinya pejabat tinggi Beijing menyebutkan kejahatan ini secara umum. Hal yang cukup berarti adalah Xi Jinping di pagi hari dalam upacara peringatan publik nasional itu mengutuk kejahatan terhadap kemanusiaan itu. Lalu  pada sore harinya ia berkunjung ke Zhenjiang tempat yang paling tabu bagi Jiang Zemin (Zhenjiang ‘鎮江’ yang arti harfiahnya bisa bermakna ‘Menghancurkan Jiang’- red.), menyuarakan  kejahatan terhadap kemanusiaan dengan cara menyampaikan sinyal “Kalian mengertilah” yang diarahkan kepada Jiang Zemin.

Dibandingkan dengan pembantaian Nazi terhadap orang Yahudi, alasan penindasan kelompok Jiang Zemin terhadap pengikut Falun Dafa lebih tidak masuk akal. Jangka waktu penindasan yang lebih lama, cara menganiaya yang lebih kejam, bentuk penyiksaan yang lebih tersembunyi, kelompok orang yang teraniaya lebih banyak, pengrusakan terhadap umat manusia juga lebih berat dan mendalam.

Ban Ki-moon Sekretaris Jendral PBB mengatakan bahwa vonis terhadap Karadzic telah menunjukkan bahwa penjahat seperti ini tidak bisa meloloskan diri dari tuntutan masyarakat internasional yang menerapkan supremasi hukum. Dengan kata lain, mantan kepala negara seperti Jiang Zemin, yang telah melanggar pasal kejahatan terhadap kemanusiaan ini, walaupun tidak diadili di dalam negeri juga tidak bisa meloloskan diri dari tuntutan menurut hukum dari masyarakat internasional. Vonis yang dijatuhkan kepada Karadzic bagaikan suatu peringatan pendahulu. (lin/whs/rmat)

Share

Video Popular