Oleh Xu Jialin

Seorang gadis yang pernah bekerja sebagai pelayan restoran Korut dan berhasil membelot ke Selatan mengungkapkan bahwa rezim Kim Jong-un memaksa para gadis pelayan itu menjadi mata-mata. mengumpulkan berbagai informasi penting tentang Korea Selatan dari para pengunjung.

Media Korea Selatan ‘Korea Times’ mengutip wawancara tertulis yang dimuat situs web VoA pada 4 April melaporkan, gadis pembelot Korut berinisial ‘J’ dalam wawancaranya mengungkapkan bahwa rezim Korut menghendaki ia bersama seorang gadis mantan rekan untuk memperhatikan atau menguping isi pembicaraan para tamu yang datang makan di restoran. Setelah itu segera memberi laporan kepada pemimpin restoran yang tak lain adalah petugas khusus Korut tentang apa-apa yang tertangkap dalam pembicaraan para tamunya.

Gadis ‘J’ mengatakan, “Sekitar 60 – 80 % tamu yang berkunjung ke restoran adalah orang-orang Selatan, termasuk para pengusaha dan politisi. Kita bertanggung jawab untuk mengumpulkan dan melaporkan apa-apa yang kita dengar dan lihat. Ini semua harus kita lakukan karena kita juga diawasi dengan ketat.”

Kabarnya, Korea Utara telah memiliki kira-kira 130 restoran yang tersebar di 12 negara, tetapi kebanyakan bertempat di Tiongkok, Rusia, Kamboja, negara-negara komunis atau bekas komunis. Di Belanda mereka juga ada.

Gadis-gadis pelayan restoran selain bertanggung jawab untuk menyajikan hidangan yang dipesan, mereka juga menyanyi, memainkan alat musik, menari untuk menghibur para tamu.

Tidak ada kebebasan dan upah pun hampir keseluruhannya disita

Untuk alasan keamanan, Suara Amerika (VoA) tidak mengungkap nama pelayan termaksud dan di negara mana restoran Korut itu berada. Gadis ‘J’ kepada pewawancara juga mengatakan bahwa setelah tugas kerja 4 tahun di luar negeri berakhir, upah hasil jerih payah seluruhnya harus diserahkan kepada pemimpin restoran sebelum berangkat pulang ke Korut.

Upah bulanan seorang gadis pelayan itu adalah USD. 10 – 15 setiap bulannya. Setelah tiba kembali di Korea Utara, umumnya mereka akan diberikan hadiah berupa peralatan elektronik seperti TV, kulkas, mesin cuci dan sejumlah uang kontan dalam KPW (Korean People’s Won).

Sebuah artikel dalam bahasa Mandarin yang dimuat blog online di Tiongkok menulis  bahwa para pramusaji restauran yang dikelola orang Korea Utara itu seluruhnya adalah gadis-gadis Korut lulusan perguruan tinggi jurusan bahasa mandarin atau pariwisata. Mereka ini tidak diperkenankan untuk pulang ke Korut, berbicara melalui sambungan telepon dengan keluarga kecuali berkomunikasi lewat surat-menyurat. Mereka tinggal di asrama yang tidak menyediakan radio, TV,  jaringan internet. Mereka juga tidak diperkenankan untuk memiliki handphone. Meskipun seminggu ada sehari untuk beristirahat, tetapi mereka tidak bebas bepergian. Bila ingin membeli sesuatu keperluan pribadi, maka mereka akan diatur pergi secara bebarengan dengan pendampingan seorang manajer. Gadis-gadis ini pada dasarnya tidak diupah, hanya kerja secara cuma-cuma untuk Korut.

Menurut informasi Dinas Intelijen Korea Selatan bahwa rata-rata pendapatan restoran Korut itu diperkirakan berkisar antara USD. 100 juta setahun. Jumlah ini hampir sama dengan devisa yang diraih pemerintah Korut tahun lalu melalui 45.000 orang karyawan mereka yang ditempatkan di proyek industri Kaesong yang dikembangkan bersama Korsel.

Instansi rahasia Korut ‘Kantor no. 39’

Seluruh restoran Korut di luar negeri itu dikelola oleh ‘Kantor no. 39’ yang dirahasiakan. Situs Taiwan SETN.com memberitakan bahwa ‘Kantor no. 39’ itu didirikan oleh Kim Jong-il pada tahun 1970. Sekarang dipegang oleh adik perempuan Kim Jong-un. Instansi itu selain selain melakukan beberapa kegiatan ilegal juga sebagai mesin penghisap darah para tenaga kerja Korut di dalam maupun luar negeri. Ia juga terlibat dalam pembuatan uang Dollar AS palsu yang kemudian dimasukkan ke dalam daftar obyek menerima sanksi dari pemerintah AS.

Tidak hanya melakukan pencucian uang, instansi tersebut juga melakukan penyelundupan dan perdagangan manusia, dan bahkan terlibat dalam memproduksi metamfetamina (sabu-sabu) dan heroin. Apa saja yang bisa menghasilkan uang akan mereka lakukan.

Seluruh hasil ‘operasional’ dari ‘Kantor no. 39’ termasuk proyek pengembangan industri Kaesong yang dihentikan itu harus terlebih dahulu dimasukkan ke rekening pribadi milik Kim Jong-un untuk kemudian diatur penggunaannya. Hal yang pasti anggaran buat militer yang cukup besar dan biaya kehidupan mewah Kim Jong-un dan keluarga menjadi tanggungan dari rekening itu. Sisanya yang kurang dari 30 % baru untuk biaya upah para tenaga kerja. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular