Oleh Xu Jialin

Banyak orang telah mengetahui bahwa di bawah pemerintahan keluarga diktator Kim, rakyat Korea Utara hidup menderita. Tetapi mungkin saja hanya sedikit orang yang tahu betapa sengsaranya sejumlah orang yang ditahan dalam kamp kerja paksa di Korea Utara.

Seorang pria pembelot yang melalui masa kecil hingga remajanya di dalam kamp mengungkapkan bahwa untuk bertahan hidup, para tahanan terpaksa mengandalkan serangga dan tikus sebagai makanan. Mereka juga dipaksa untuk menonton secara langsung saat tahanan lain dieksekusi mati. Ketika berbicara tentang terputusnya hubungan dengan dunia luar ia bahkan mengaku bahwa sikat gigi yang memiliki bentuk berbeda itu baru ia ketahui setelah tiba di Korea Selatan.

Menurut laporan ‘Daily Mail’ 1 April 2016,  kakek dari pembelot Korut yang bernama Kang Chol-hwan ini dituduh melakukan pengkhianatan terhadap negara oleh rezim Kim, sehingga ditangkap dan dimasukkan ke dalam Kamp Tahanan Politik Yodok. Saat itu Kang Chol-hwan baru berusia 9 tahun.

Selama 10 tahun Kang Chol-hwan hidup dalam lingkungan di mana setiap tindak tanduk dalam pengawasan  pihak berwenang. Ia juga sering mengalami pemukulan dan bahkan ancaman kematian sepanjang waktu itu.

Setelah ia bersama keluarga akhirnya mendapat kebebasan, Kang Chol-hwan mulai rajin mengikuti siaran radio Korea Selatan dan berencana untuk melarikan diri. Pada 1992 ia berhasil masuk Korea Selatan setelah beberapa saat transit melalui Tiongkok.

Kang yang saat ini, berusia 40 tahun adalah seorang penulis dan aktivis sosial yang banyak membantu orang-orang Korea Utara.

Melalui tanya jawab langsung di media sosial ‘Reddit’ ia banyak menceritakan pengalamannya selama hidup dalam kamp kerja paksa Korea Utara.

“Situasinya tidak berbeda dengan kehidupan dalam kamp Auschwitz Nazi, mengerikan!” katanya.

Para tahanan dipaksa bangun pukul 5 pagi dan mulai bekerja sampai matahari terbenam. Dipaksa untuk menerima ideologi Kim Il-sung melalui pelajaran-pelajaran cuci otak. Harus pergi ke lapangan terbuka untuk ikut menonton adegan eksekusi mati tahanan lain.

“Kita menerima penganiayaan jasmani berupa pemukulan-pemukulan. Saya rasa ini adalah bentuk lain dari kehidupan kamp Auschwitz,” katanya.

Kang Chol-hwan juga mengatakan, sebagai produk Nazisme, kamp tahanan Korea Utara sama seperti kamp konsentrasi Nazi, diadakan tak lain untuk membunuh orang hanya saja caranya yang berbeda. Kelaparan serta kekurangan gizi memaksa para tahanan itu memakan serangga, cacing bahkan daging tikus untuk bertahan hidup.

Ketika Kang bercerita tentang kehidupan rakyat Korea Utara yang tertutup di bawah kepemimpinan keluarga diktator Kim. Ia mengatakan bahwa ekonomi pasar di Selatan membuat ia paling terkesan. Di Utara, sikat gigi hanya satu macam, “Tetapi di sini (Korsel), (sikat gigi) ada beberapa macam, sampai membuat saya bingung memilihnya.”

“Di Korea Utara anda tidak bisa bebas untuk melakukan perjalanan, perlu dilengkapi dengan surat jalan yang dikeluarkan oleh pihak berwenang. Tetapi tidak demikian di Selatan,” katanya.

Di akhir percakapan ia juga menambahkan, dirinya sangat percaya bahwa rezim Kim Jong-un akan runtuh dalam 5 tahun ke depan. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular