Oleh Xu Jialin

Media UPI pada Kamis (7/4/2016) memberitakan bahwa menurut laporan media Korea Utara yang belum bisa dikonfirmasikan kebenarannya, ada sedikitnya 2 orang sudah ditangkap pihak berwenang Korut karena terlibat dalam upaya membunuh pemimpin tertinggi Korea Utara. Media asing menilai bahwa isu tersebut mungkin saja sengaja  dihembuskan oleh rezim Kim Jong-un yang sedang mengalami ancaman stabilitas rezim untuk mengintimidasi warganya.

Radio Free Asia dalam siarannya Kamis lalu, mengungkapkan bahwa para tersangka itu diduga akan melakukan serangan fatal terhadap Kim Jong-un saat ia berkunjung ke Hamgyongbuk-do. Namun mereka tertangkap di dekat Sungai Tumen daerah perbatasan saat berusaha untuk melarikan diri.

Seorang sumber anonim Korut kepada media Jepang ‘AsiaPress’ mengungkapkan, ketika polisi penjaga perbatasan Korut melintasi perbatasan dan melakukan penangkapan, para tersangka belum sempat menyeberang sungai yang membagi wilayah kedua negara itu.

Sumber mengungkapkan, para tersangka sudah diserahkan kepada Departemen Keamanan Nasional Korut untuk ditindaklanjuti. Kabarnya, salah seorang dari mereka adalah pembelot korut yang datang dari Selatan, dan satu atau mungkin lebih tersangka lainnya adalah warga Tiongkok.

Sebuah wadah pemikir di AS baru-baru ini dalam artikelnya melaporkan bahwa Kim Jong-un sangat mungkin menghadapi resiko pembunuhan  yang dilakukan oleh orang dekat. Artikel bahkan menyarankan kepada pemerintah AS dan Korea Selatan agar berani mengambil bagian dalam  menangani kekacauan yang timbul di Korut akibat kekosongan kekuasaan setelah Kim Jong-un mata terbunuh.

Artikel juga mengungkapkan bahwa dengan ikut campurnya AS dan Korsel dalam pembenahan pemerintah Korut yang baru nanti akan lebih memungkinkan negara itu berkembang seirama  dengan Korsel atau AS. Namun, bila kedua negara ini tidak bersedia ikut menangani situasi yang kacau itu, maka perang saudara besar kemungkinan akan terjadi.

Kim Jong-un menciptakan rasa takut di kalangan masyarakat

Pendiri media ‘AsiaPress’ wartawan asal Jepang Jiro Ishimaru mengatakan, ini mungkin hanya sebuah rumor yang sengaja dihembuskan rezim untuk memperkuat dukungan dari semua pihak kepada Partai Buruh Korea Utara yang akan menggelar muktamarnya yang ketujuh pada bulan depan.

Persiapan untuk muktamar yang sudah lebih dari 30 tahun tidak diselenggarakan sekarang sedang berlangsung. Jiro Ishimaru mengatakan rezim bisa saja sengaja menyebarkan rumor pembunuhan itu untuk menciptakan rasa takut di kalangan masyarakat.

Stabilitas kekuasaan rezim Kim Jong-un lebih rendah daripada ayahnya

Karena alasan lain, pemerintah Korut dapat mengintensifkan pengawasan internal. Media ‘Donga Ilbo’ yang mengutip hasil penelitian para ahli Korut yang tinggal di Selatan melaporkan bahwa stabilitas kekuasaan rezim Kim Jong-un lebih rendah daripada rezim ayahnya Kim Jong-il.

Lebih dari 65 % responden percaya bahwa dukungan elit politik terhadap Kim Jong-un sudah jauh menurun yang dapat pula diartikan bahwa stabilitas rezim ini lebih rendah dari rezim sebelumnya.

‘Sankei Shimbun’ Jepang dalam laporannya pada 2 April 2016 mengungkapkan, Kim Jong-un menerapkan pemerintahan teror kepada bawahannya jauh melebihi kadar daripada pendahulunya. Orang-orang sekeliling termasuk sanak famili pun tak akan luput dari penindasannya. Dalam 5 tahun pemerintahan Kim Jong-un, sedikitnya sudah 130 orang pejabat tinggi Korut yang disingkirkan. Orang-orang tersebut bahkan dieksekusi mati hanya karena letupan emosi diktator itu, bukan akibat kesalahan dalam menjalankan tugas.  (sinatra/rmat)

Share

Video Popular