Militer AS baru-baru ini mengadakan upacara peluncuran untuk nama kapal perang tak berawaknya, sekaligus akan menguji performaanya selama dua tahun ke depan, dan akan dioperasikan di Pasifik Barat dalam lima tahun mendatang. Kapal perang ini bisa disebut sebagai kendaran tak berawak di permukaan laut versi Google, mampu berlayar secara otonom di permukaan laut selama dua hingga tiga bulan dan dikendalikan dari jarak jauh.

Kapal perang tersebut bernama “Sea Hunter”, dengan biaya pembuatan US$ 20 juta, adalah prototipe dari kapal militer otomatis, yang didedikasikan untuk melacak dan memburu kapal selam, demikian dilansir dari laman Reuters, 8 April 2016.

Panjang “Sea Hunter” sekitar 40 meter, dengan kecepatan hingga 27 knot (50 km / h). Pelayaran otomatis kapal selam ini dituntun dengan radar dan kamera navigasi, mampu berlayar di permukaan laut selama dua hingga tiga bulan tanpa awak yang dikendalikan dari jarak jauh.

“Ini merupakan titik balik, dan untuk pertama kalinya kami memiliki kapal laut robotik, yang mampu berlayar menembus Samudera,” kata Wakil Menteri Pertahanan AS Robert Work.

Dalam lima tahun ke depan, “Sea Hunter” akan disebar di wilayah barat Samudera Pasifik, dan akan menjadi kapal pelacak sekaligus pemburu kapal selam yang efektif. Sementara untuk biaya operasional hariannya “Sea Hunter” hanya perlu 15,000 – 20,000 dolar AS, jauh lebih rendah daripada biaya operasional kapal perang manual dan sumber daya manusianya.

Menurut Pentagon, pengoperasian Sea Hunter memenuhi kebutuhan strategis, meningkatkan peralatan otomatisasi yang digabungkan dengan semua kendaraan militer tanpa awak, baik itu di darat, udara, dan air, selain itu,  pengembangan Sea Hunter kapal selam tak berawak ini juga ditujukan kepada Tiongkok dan Rusia yang terus mengembangkan kekuatan Angkatan Laut mereka.

Sementara itu, laman Quartz, Jumat 8 April 2016 lalu menyebutkan, “Sea Hunter” merupakan sebuah proyek dari US Department of Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA), dan untuk selanjutnya para insinyur dari DARPA ini akan melakukan uji coba performa Sea Hunter selama lebih dari dua tahun.

Sebelumnya militer AS pernah mengembangkan kapal perang otomatis, namun, “Sea Hunter” ini merupakan kapal perang tanpa awak yang mampu berlayar ribuan kilometer secara otomatis. Kapal ini memiliki sonar frekuensi tinggi yang akan menjadi alat utama kapal untuk menemukan, mengidentifikasi dan secara aktif melacak bahkan kapal selam nuklir paling tenang dan kapal selam diesel listrik yang dilengkapi air independent propulsion (AIP).

Mengingat tantangan yang dihadapi Angkatan Laut yang berkembang dari kapal selam diesel relatif murah, belum lagi rencana Rusia dan Tiongkok yang akan memperluas kemampuan kapal selam mereka secara dramatis dalam beberapa tahun mendatang dan konsep ACTUV bisa memberikan US Navy cara yang relatif murah untuk mengawasi ancaman bawah laut di seluruh dunia. Hal ini juga bisa mengantar era baru operasional kapal tanpa awak di laut lepas lepas serta mengubah jalannya pertempuran laut. (Jhon/asr)

Share

Video Popular