Beberapa tahun silam, harimau dikhawatirkan akan menuju kepunahan. Jumlah mereka di alam liar terus berkurang dari tahun ke tahun. Turun dari sekitar 100.000 ekor pada 1900 hingga hanya sekitar 3.000 ekor selama sensus harimau pada 2010.

Pada 2010, para pejabat dari 13 negara berkumpul bersama untuk membahas rencana pemulihan. Dan kini, tampaknya upaya tersebut mulai membuahkan hasil.

Meskipun kini masih ada kurang dari 3.500 harimau liar, populasi tersebut diperkirakan bisa melonjak naik hingga lebih dari 6.000 ekor pada 2022, jika upaya konservasi seperti saat ini masih terus berlanjut, menurut sebuah studi terbaru dalam jurnal Science Advances.

“Harimau berkembang biak dengan cepat di tengah berlimpahnya mangsa dan habitat yang terlindung”, menurut pernyataan studi tersebut. Masalahnya adalah, mereka merupakan hewan penyendiri dan umumnya membutuhkan wilayah lebih dari 11 mil persegi hutan.

Hilangnya habitat, ditambah lagi dengan perburuan, adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup mereka.

Harimau hidup di alam liar di subkontinen India, wilayah Sungai Amur di timur jauh Rusia, Tiongkok, Korea Utara, Asia Tenggara, dan Pulau Sumatera, Indonesia.

Studi ini memantau 76 habitat harimau selama 14 tahun terakhir dengan menggunakan teknologi satelit. Ditemukan bahwa meskipun beberapa hutan telah hancur, namun hutan-hutan yang lain cenderung masih stabil. Secara spesifik, dari 29 lansekap yang paling penting bagi harimau, 10 dari mereka menyumbang lebih dari 98 persen hilangnya habitat, dan sisanya 19 menunjukkan sedikit perubahan.

“Populasi harimau secara global bisa meningkat pesat dalam dua dekade mendatang jika upaya konservasi terus berlanjut”, menurut kesimpulan penelitian tersebut. (Epcohtimes/Osc/Yant)

Share

Video Popular