Oleh: Chen Gang

Terowongan Kosmik yang Misterius

Di masa lalu, cukup banyak kejadian misterius terkait menembus ruang-waktu alam semesta. Hingga kini para ilmuwan juga terus berusaha menyelidiki sebenarnya ada berapa dunia di alam semesta?

Sebagian ilmuwan menuturkan ada dua sistem ruang-waktu, satunya adalah dunia yang bisa kita lihat, sentuh dan dunia yang saling berhubungan dengan kita. Sementara satunya adalah dunia tersembunyi yang belum mampu dijangkau oleh ilmu pengetahuan manusia saat ini.

Kedua dunia itu berkembang secara paralel, namun, dipisahkan oleh suatu “lapisan” yang seakan-akan tidak bercelah, sampai-sampai lapisannya ini tidak bisa ditembus oleh cahaya saking padatnya. Akan tetapi, lapisan ini tidak sepenuhnya padat, karena pada titik yang agak tipis, suatu benda atau materi bisa menembusnya, sehingga fenomena ini kemudian dikenal sebagai penerobosan ruang-waktu.

Banyak rumor terkait kejadian aneh di Segitiga Bermuda yang terletak di pantai timur Amerika, samudera Atlantik. Di sini banyak kapal laut maupun pesawat yang raib secara misterius, namun, anehnya bertahun-tahun kemudian, ada beberapa di antaranya itu kemudian muncul lagi secara tidak terduga di tempat lain.

Pada 1970 silam, seorang pilot berkebangsaan Amerika Bruce Gernon menuturkan, bahwa ketika ia menerbangkan sebuah pesawat kecil di atas Segitiga Bermuda, tiba-tiba merasa pesawatnya seperti siluman anti radar, karena menara kontrol di Miami kehilangan kontak dengan pesawatnya, sehingga tidak mengetahui posisinya. Gernon merasa pesawatnya telah menjauh dari jalurnya semula dan masuk ke terowongan kosmik. Tak lama kemudian, ia temukan dirinya telah berada di daerah lain, tapi beruntung akhirnya ia masih bisa mendaratkan pesawatnya dengan aman di Bandara Internasional Miami, Amerika Serikat.

Para ilmuwan memandang fenomena seperti ini sebagai akibat dari badai, dimana awan akan menghasilkan anti materi dan medan listrik. Bila tegangan dan arus listrik di luar kendali, sekalipun susunan partikelnya tidak berubah, dapat menyebabkan badai besar. Kemudian badai itu menyebabkan spacewarp (perlengkungan ruang-waktu) yang membuat adanya “terowongan kosmik.”

Pada 1994 ketika itu, satelit ruang angkasa memang pernah menangkap fenomena badai di bumi yang membentuk sinar gamma kosmis. Energi yang paling kuat di alam semesta ini kemudian diperkirakan sebagai faktor penghubung kedua waktu yang berbeda dalam alam semesta. Mungkin lorong itulah yang pernah dilalui oleh Bruce Gernon pada 1970 kala itu.

“Eksperimen Philadelphia” Membuktikan Adanya Ruang Dimensi Lain

Pada Oktober 1943, Angkatan Laut AS melakukan percobaan medan magnet buatan secara rahasia di Philadelphia, yang dikenal sebagai percobaan The Philadelphia Experiment, percobaan itu berhasil mengirim sebuah kapal perusak berikut seluruh awaknya ke ruang dimensi lain. Dalam proses percobaan itu, teknisi mengaktifkan perangkat pulsa dan non-pulsa elektromagnet, menghasilkan sebuah medan magnet yang kuat di sekeliling kapal.

Tak lama kemudian, segenap kapal itu diselimuti segumpalan cahaya hijau, lalu perlahan-lahan lenyap dalam pandangan mata orang-orang di sekitarnya. Seusai percobaan itu, kapal perang berikut awaknya telah berpindah ke dermaga Norfolk yang berjarak 479 km dari area percobaan.

Salah seorang peneliti Morris K Jessup menjelaskan bahwa, awan magnet yang kuat dapat mengatur ulang struktur molekul manusia dan benda, sehingga memungkinkan manusia masuk ke ruang dan waktu di dimensi lain.

Secara ilmiah, eksperimen Philadelphia ini telah memberi makna yang postif dalam ilmu pengetahuan, ia membuktikan adanya ruang dan waktu yang berbeda di semesta alam ini, sekaligus menunjukkan kemungkinan manusia dan perangkat lain bisa masuk ke ruang dimensi lain untuk sementara waktu.

Saat ini, para ilmuwan telah membuktikan, bahwa alam semesta tidak saja memiliki ruang dan waktu seperti yang kita diami ini. Sekitar 85% dari alam semesta merupakan zat misterius yang disebut “Materi Gelap” dan keberadaannya ditentukan oleh sistem gravitasi, hanya saja belum teramati hingga kini.

“Teori dunia paralel” yang dicetuskan pada 1957 oleh Hugh Everett III, mahasiswa pasca sarjana fisika dari Princeton University, mengatakan, bahwa alam semesta (multiverse) terdiri dari superposisi kuantum yang sangat banyak, bahkan mungkin tak terhingga, semakin divergen, tanpa berkomunikasi di alam semesta paralel atau dunia kuantum.

Alam semesta tempat kita berteduh ini hanyalah salah satu dari beberapa yang terbesar di alam semesta. Beberapa diantaranya hampir sama dengan dunia kita, sementara sebagian besar lainnya sangat jauh berbeda. (Secretchina/joni/rmat)

Share

Video Popular