Oleh Lin Fan

Dana Moneter Internasional (IMF) pada Selasa (12/4/2016) menerbitkan laporan ‘World Economic Outlook’ terbaru. Laporan menunjukkan bahwa target pertumbuhan ekonomi global 2016 telah diturunkan dari 3.4 % menjadi 3.2 %, begitu pula untuk 2017 diturunkan dari 3.6 % menjadi 3.5 %.

IMF melalui laporan itu memperingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia dalam jangka panjang diperkirakan masih akan melemah oleh karena itu berbagai dampak negatif bisa saja timbul. Pemerintahan setiap negara perlu mengambil sikap positif dan tegas untuk menghindari tergelincirnya pemulihan ekonomi.

Penurunan target pertumbuhan ekonomi global mencermikan selain pelambanan pertumbuhan banyak negara juga 2 kekhawatiran IMF yakni soal goncangan di pasar keuangan dan  ketidakstabilan politik yang mungkin terjadi di negara-negara tertentu. Hal yang terakhir ini termasuk juga dampak dari masalah pengungsi Suriah terhadap Eropa dan beberapa negara tetangganya. Adanya pengaruh negatif terhadap dunia perdagangan dan investasi bilamana Inggris keluar dari organisasi Uni Eropa, faktor geopolitik di negara-negara emerging market seperti Brazil dan lainnya juga perlu mendapat perhatian..

Keterangan foto: IMF merilis laporan World Economic Outlook pada 12 April. Laporan menurunkan target pertumbuhan ekonomi global. (Lin Fan/Epoch Times)
Keterangan foto: IMF merilis laporan World Economic Outlook pada 12 April. Laporan menurunkan target pertumbuhan ekonomi global. (Lin Fan/Epoch Times)

Disebutkan dalam laporan itu, resiko-resiko di atas dapat dengan mudah merusak pendapatan dasar negara. Karena makin rendah tingkat pertumbuhan, akan makin tinggi resiko yang dihadapi, sehingga terjadi stagnannya ekonomi dunia. Di samping itu, di banyak negara karena kurangnya pertumbuhan upah dan ketimpangan pendapatan, juga akan menciptakan situasi di mana hanya para elit likuiditas serta pemegang modal yang dapat mencicipi keuntungan. Pertumbuhan dengan tingkat rendah akan menyebabkan ketidakpuasan masyarakat juga dicelanya kebijakan nasional.

Laporan World Economic Outlook menyarankan agar para pembuat kebijakan dalam situasi seperti ini, lebih berupaya mencari jalan melalui penguatan pertumbuhan ekonomi untuk memastikan adanya pendapatan dasar, dan siap menghadapi resiko menurunnya ekonomi. Dalam hal ini, dukungan dari kebijakan moneter, fiskal dan pendekatan struktural sangat dibutuhkan.

Karena kemungkinan terjadinya krisis ekonomi, prospek yang kurang cerah ini perlu mendesak para pihak untuk secepatnya mengambil langkah-langkah pencegahan. Direktur Riset IMF Maurice Obstfeld menegaskan bahwa pertumbuhan rendah yang terus berlangsung ini sudah tidak lagi memberi ruang untuk berbuat kesalahan. Ini bukannya sirine tanda bahaya, tetapi mengingatkan semua negara agar lebih berwaspada.

Keterangan foto: Direktur Riset Dana Moneter Internasional, Maurice Obstfeld. (Lin Fan/Epoch Times)
Keterangan foto: Direktur Riset Dana Moneter Internasional, Maurice Obstfeld. (Lin Fan/Epoch Times)

Maurice Obstfeld percaya bahwa beberapa langkah kebijakan yang dilaksanakan pemerintah Tiongkok sekarang ini tampak efektif dalam merangsang pertumbuhan jangka pendek, tetapi tidak demikian untuk jangka panjangnya. Oleh karena itu, IMF memperkirakan bahwa tingkat pertumbuhan Tiongkok dalam jangka pendek dimungkinkan untuk melampaui lembaga keuangan negara lainnya, tetapi secara jangka panjang akan berada di bawah mereka.

“Kami khawatir bahwa beberapa langkah stimulus Tiongkok itu akan menyebabkan kenaikan jumlah kredit yang digunakan untuk membiayai beberapa industri inefisiensi. Kami lebih peduli terhadap kualitas pertumbuhan ketimbang kuantitasnya,” kata Maurice.

Sehubungan mata uang Renminbi akan dimasukkan ke dalam Keranjang Mata Uang IMF mulai Oktober mendatang, Maurice juga memperingatkan otoritas Tiongkok agar lebih meningkatkan transparansi dan dialog dengan pasar dalam menetapkan nilai mata uang.

Pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia akan diselenggarakan di Washington DC pada 15 April 2016 mendatang. Beberapa waktu lalu, Managing Director IMF Christine Lagarde mmenghimbau negara-negara secepatnya mengambil langkah-langkah reformasi ekonomi yang lebih kuat untuk menghindari pertumbuhan ekonomi jangka panjang masuk perangkap lamban. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular