JAKARTA –  Operasi Opson V di Indonesia yang melibatkan Badan POM, Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, NCB Interpol Indonesia, Mabes POLRI, dan Ditjen Bea Cukai ini berhasil menemukan dan menyita 4.557.939 pieces produk pangan ilegal dan tidak memenuhi syarat dengan nilai keekonomian mencapai lebih dari Rp 18 miliar.

Badan POM juga berhasil mengungkap kegiatan pelaku yang telah melakukan tindakan kriminal dengan menyelundupkan pangan ilegal dari luar negeri melalui transportasi laut, menyimpan pangan ilegal  dalam gudang yang dituliskan disewakan sehingga dianggap gudang tersebut kosong. Cara ini menggunakan ekspedisi untuk mengirimkan pangan impor ilegal ke kota lain di Indonesia, dan mengulangi pelanggaran tindak pidana Obat dan Makanan walaupun sudah pernah ditindak oleh Badan POM.

Sebagai tindak lanjut hasil Operasi Opson V ini, telah dilakukan penyitaan terhadap barang bukti dan selanjutnya akan dilakukan tindakan pro-justitia. Badan POM bersama lintas sektor terkait terus berkomitmen dan berkoordinasi lebih intensif serta berkesinambungan dalam mengawasi Obat dan Makanan guna melindungi konsumen dari produk yang tidak memenuhi standar dan persyaratan termasuk Obat dan Makanan impor ilegal.

“Selain merugikan negara, produk ilegal juga dapat berisiko terhadap kesehatan masyarakat karena tidak melalui evaluasi keamanan, manfaat, dan mutu oleh Badan POM”, ujar Roy Sparringa, Kepala Badan POM dalam rilisnya di Jakarta.

Menurut Ray, operasi yang di-back up oleh Mabes Polri, NCB Interpol, dan Bea Cukai serta Kepolisian Daerah setempat ini juga merupakan bagian dari Operasi Opson V, yaitu operasi gabungan yang dikoordinasikan INTERPOL dengan target makanan dan minuman ilegal, palsu, dan sub-standar serta kejahatan terorganisir dibalik perdagangan gelap ini.

Operasi pada 19 Januari 2016 lalu, Badan POM mendapat dukungan penuh dari Bareskrim Mabes Polri, NCB Interpol Indonesia, dan Bea Cukai berhasil menggeledah dua rumah toko (ruko) yang dijadikan gudang penyimpanan pangan ilegal di Kabupaten Bengkalis, Riau. Pada penggeledahan tersebut disita 12 truk pangan ilegal dengan nilai keekonomian mencapai lebih dari 6,3 miliar rupiah.

Tidak hanya di Bengkalis, Badan POM kembali menemukan pangan ilegal di 13 wilayah Indonesia lainnya. Secara keseluruhan telah dilakukan penindakan terhadap 46 sarana yang diduga melakukan kegiatan peredaran pangan ilegal di Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara.

Kegiatan penggeledahan dan penindakan ini merupakan bagian dari operasi gabungan nasional (obgabnas) yang dilaksanakan sesuai arahan Bapak Presiden untuk mengamankan produk Indonesia dan memberantas produk ilegal termasuk pangan ilegal.

Operasi Opson merupakan operasi global di bawah koordinasi Interpol yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan memberantas jaringan kejahatan terorganisir di balik perdagangan makanan ilegal termasuk sub-standar, meningkatkan kerja sama antara penegak hukum maupun pihak berwenang yang terlibat, dan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya yang ditimbulkan oleh makanan dan minuman ilegal termasuk sub-standar.

Operasi Opson pertama kali digelar pada tahun 2011 oleh Interpol dan diikuti oleh 10 (sepuluh) negara anggota di Eropa. Tahun ini merupakan tahun pertama Indonesia berpartisipasi dalam Operasi Opson, dimana Badan POM ditunjuk sebagai National Coordinator dalam pelaksanaan Operasi Opson V. Secara khusus Operasi Opson di Indonesia dilaksanakan pada Januari-Februari 2016 dengan memfokuskan pada pemberantasan pangan olahan ilegal dan tidak memenuhi syarat. (asr)

Share

Video Popular