Oleh: Cao Changqing

Baru-baru ini terjadi kasus pembunuhan dengan memenggal kepala gadis cilik di Taiwan, sehingga masalah hukuman mati akan dipertahankan atau dihapuskan kembali menjadi fokus yang terus disoroti. Riset opini publik terbaru menunjukkan, 84% rakyat Taiwan tidak menyetujui dihapuskannya hukuman mati, yang menyetujui hanya 8%.

Taiwan, termasuk Jepang, Korea Selatan dan lain-lain, berbeda dengan Eropa. Kebanyakan warganya menyetujui hukuman mati, beranggapan hal ini dapat mencerminkan keadilan hukum. Namun tentu ada saja segelintir orang yang menganjurkan dihapuskannya hukuman mati. Hal ini mirip dengan opini publik Eropa, mereka beranggapan bahwa penghapusan hukuman mati adalah lebih manusiawi.

Baik di Taiwan, Eropa ataupun Amerika Serikat, alasan menentang hukuman mati di seluruh dunia adalah kira-kira sama, terutama terdapat lima faktor. Namun apabila dinilai atas logika, kelayakan umum dan pengetahuan umum dasar,  maka alasan mereka kebanyakan tidak tahan gedor dan tidak dapat dipertahankan.

Alasan pertama penentang hukuman mati adalah bahwa hukum menetapkan “tidak boleh membunuh manusia”, apabila pelanggar hukum dihukum dengan “dibunuh”, hal mana adalah saling bertentangan. Artinya, pelanggaran hukum membunuh manusia memang tidak benar, namun kita juga tidak mempunyai hak merampas kehidupan orang lain (pembunuh). Kehidupan itu adalah sakral, setiap kehidupan layak untuk dihargai, siapapun tidak memiliki hak untuk merampasnya. Atas dasar teori inilah hukuman mati ditentang.

Namun alasan ini sebenarnya mudah ditumbangkan.  Hal yang dimaksud dengan “tidak boleh membunuh manusia” oleh pandangan umum dan hukum, tentunya adalah: 1. Tidak boleh “terlebih dahulu” membunuh manusia. 2. Tidak boleh membunuh orang yang “tidak bersalah.”

Di dalam masyarakat berkedaulatan hukum, hukuman mati yang diputuskan oleh pengadilan, bukanlah terjadi “antar pribadi” yang saling membunuh saling membalas, melainkan mewakili otoritas (pemerintah) untuk menegakkan keadilan bagi sang korban, dengan menghukum si tersangka pembunuh.

Kedua hal ini nampaknya secara permukaan adalah “mengakhiri hidup” seseorang, namun sifatnya sama sekali berbeda. Membunuh yang satu adalah membuhuh orang yang tidak bersalah, yang satunya adalah memberikan hukuman secara adil bagi pelanggar hukum. Membunuh yang terdahulu (secara aktif) melakukan pelanggaran hukum membunuh orang yang tidak bersalah, nilai kehidupannya sama sekali tidak dapat disetarakan dengan korban yang tidak bersalah.

Orang yang menentang hukuman mati, sering kali menekankan betapa berharganya nilai hidup si pelanggar hukum pembunuhan, namun tidak sangat menghargai kehidupan sang korban. Mereka menganggap bahwa dua jenis kehidupan ini adalah sama pentingnya, untuk meniadakan perbedaan nilai dan makna dua kehidupan tersebut.

Pada fakta dan pandangan umumnya, ketika si pembunuh setelah memenggal leher gadis kecil ini, kehidupan dan nilainya sudah sama sekali tidak lagi dapat disetarakan dengan sang gadis cilik tersebut. Sama sekali tidak memiliki nilai yang sama!

Ini adalah suatu hal yang paling penting! Apabila kehidupan pembunuh disetarakan lagi dan dipandang sama dengan kehidupan gadis kecil tersebut, dan kehidupan orang lain, bahkan tidak diberikan hukuman setimpal pada pelaku pembunuhan, maka sudah tidak ada lagi keadilan hukum, ini adalah menginjak-injak nilai kehidupan. Tanpa keadilan dan kelayakan hukum, tidak akan ada perikemanusiaan yang sesungguhnya!

Selain itu, apabila tidak diperbolehkan menggunakan metode menghabisi kehidupan pelanggar hukum pembunuhan sebagai logika yang dianggap benar, maka penjara tentunya juga tidak boleh menahan pelanggar hukum. Karena sama-sama dapat dibantah dengan logika yang sama “tidak boleh merampas kebebasan orang lain.” Meskipun pelanggar hukum merampas kebebasan atau harta (memperkosa, merampok dan lain-lain) orang yang tidak bersalah adalah tidak benar, namun orang lain juga tidak memiliki hak untuk merampas kebebasan para  perampok/pemerkosa.” Apabila logika ini dianggap benar, maka dunia ini sudah tidak ada hukum, tidak ada prinsip, terlebih lagi sudah tidak perlu dibahas mengenai keadilan, seluruh dunia sudah kacau tuntas.

Titik tolak pandangan yang keliru semacam “siapapun tidak boleh membunuh manusia” adalah kekaburan batas dan sifat antara otoritas pengambil keputusan dan pelanggaran hukum pribadi. Kaum haluan kiri dari Barat maupun Timur (sangat banyak yang munafik), selalu demi berdiri di dataran tinggi moral dan mereka menyanyikan lagu nada tinggi kebenaran politik, terutama untuk memamerkan betapa berperikemanusiaannya mereka itu, sehingga mengabaikan logika umum yang paling mendasar.

Belas kasihan mereka terhadap pelanggar hukum, sering kali melebihi belas kasih mereka terhadap orang tak bersalah yang taat peraturan dan hukum. Ini merupakan tindakan jahat yang paling memutar-balikkan nilai-nilai dan mengacau-balaukan dunia!

Sesungguhnya, hanya dengan mempertahankan hukuman mati, sehingga pelaku kejahatan yang luar biasa (seperti pelaku kejahatan memenggal leher di Taiwan dan sebagainya) menerima hukuman yang setimpal, barulah merupakan tindakan hukum dan prinsip keadilan yang penting untuk melindungi kehidupan yang  tidak bersalah, barulah benar-benar mencerminkan perikemanusiaan. (pur/ whs/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular