JAKARTA – Walaupun Pilkada DKI Jakarta akan berlangsung pada Februari 2017 mendatang, sejumlah nama-nama kandidat dari pensiunan TNI dan Polri bermunculan setelah sebelumnya muncul pesaing bakal calon petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dari pihak sipil. Kemampuan mereka untuk melebihi Ahok menjadi kunci untuk persaingan pada Pilkada mendatang.

Peneliti senior dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS), J. Kristiadi mengatakan merupakan hal yang lazim jika muncul sejumlah pesaing dalam pertarungan pilkada dari pihak mana pun termasuk TNI, Polri dan tokoh sipil. Bahkan hak untuk  mencalonkan merupakan hak WNI yang sah dimiliki oleh semua warga negara. “Itu mudah karena hak semua warga negara,” katanya usai diskusi di Jakarta, Minggu (17/4/2016).

Menurut dia, sosok Ahok bukan lawan yang mudah pada pertarungan Pilkada DKI Jakarta mendatang. Namun para kandidat, lanjutnya, harus memiliki agenda dan visi yang kuat untuk melebihi agenda-agenda pemerintahan yang dijalankan oleh Ahok seperti membuat masyarakat DKI lebih nyaman dengan lingkungan mereka.

Pengamat politik ini menegaskan, mengalahkan Ahok merupakan hal yang mudah jika dengan bukti kemampuan yang lebih nyata. Apalagi sosok Ahok masih tokoh yang kokoh pada saat ini karena pernah membuktikan kinerja di berbagai tempat termasuk Jakarta. “Jadi sekarang ini mengalahkan dia, apa buktinya, kalau tanpa bukti mungkin tak bisa,” tegasnya.

Nama-nama yang muncul dalam petarungan Pilkada DKI Jakarta seperti Letjen TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin dan mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Moeldoko. Jenderal aktif yang disebut juga muncul untuk bersaing pada Pilkada DKI adalah Kepala BNN Komjen Pol Budi Waseso, dan Staf Ahli Kapolri bidang Sosial Budaya Irjen Pol Benny Mokalu.

Direktur Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Djayadi Hanan mengatakan nama-nama yang mengemuka pada saat sebagai kandidat bersaing dengan Ahok seperti Wagub Djarot Syaiful Hidayat berpeluang untuk menang dengan motivasi kuat dari partai pengusung untuk memenangi Pilkada mendatang.

Tak hanya Djarot, ujar Djayadi, sejumlah kandidat lainnya  memiliki peluang yang sama dengan catatan bahwa masyarakat Jakarta menginginkan sosok pemimpin pemerintahan Jakarta adalah tokoh yang anti korupsi, perhatian kepada rakyat dan mampu memimpin Jakarta. Meski demikian, kandidat lainnya tak mudah mengalahkan calon petahana karena masih rendah segi popularitas mereka. Akan tetapi, ujarnya, sisi popularitas masih bisa dibentuk dengan biografi kota Jakarta yang mudah diakses semua pihak.

Namun demikian, ujarnya, belum bisa dinyatakan siapa yang akan bertarung pada Pikada DKI Jakarta mendatang. Pasalnya, hingga saat ini hanya muncul satu nama yang sudah pasti maju yakni Gubernur petahana Basuki Tjahaja Purnama melalui jalur independen. “Kini belum jelas dengan siapa Ahok akan bersaing , siapa yang akan maju karena baru satu nama yang baru maju,” ujarnya. (asr)

Share

Video Popular