Daging kepiting bertekstur lembut dan rasanya lezat. Selain kaya gizi, proteinnya beberapa kali lipat dibanding dengan daging babi atau ikan laut. Mengandung riboflavin, kalsium, fosfor, zat besi dan vitamin A cukup yang tinggi.

Akan tetapi tidak setiap orang cocok mengonsumsi daging kepiting, karena kepiting bersifat dingin dan mengandung kolesterol agak tinggi. Orang dalam kondisi atau yang sedang menderita penyakit tertentu, harus menghindari atau mengurangi mengonsumsinya.

1. Penderita radang hati

Penderita radang hati mengalami pembengkakan pada selaput lambung, sekresi cairan empedu tidak normal, dan fungsi pencernaan menurun. Daging kepiting kaya akan protein, maka tidak mudah diserap atau dicerna, sehingga mudah tertahan dalam usus dan menjadi busuk. Bila demikian mudah terjadi kembung, mual, muntah, bahkan mengakibatkan nekrosis pada sejumlah besar sel hati, sehingga memperparah keadaan.

2. Penderita kelainan pembuluh darah jantung

Kepiting mengandung kolestrol agak tinggi (100 gr daging kepiting mengandung 235 mg kolestrol, dan 100 gr telur kepiting mengandung 460 mg kolestrol).

Penderita jantung koroner, aterosklerosis, hipertensi, hiperlipidemia, bila mengonsumsi makanan yang mengandung kolestrol tinggi, bisa mengakibatkan kolestrolnya meningkat dan berkembangnya penyakit kelainan pembuluh darah jantung, maka sebaiknya mengurangi atau tidak mengonsumsi kepiting, terutama telur kepiting.

3. Penderita flu dan suhu badan panas

Penderita flu seharusnya mengutamakan makanan yang tak berlemak, kepiting yang mengandung protein tinggi tidak mudah dicerna dan diserap, bisa mennyebabkan flu lebih sulit disembuhkan.

4. Penderita lambung limpa lemah dan dingin

Sifat daging kepiting dingin, mudah mengakibatkan nyeri perut, diare atau gangguan pencernaan dan lain-lain. Selain itu, penderita radang lambung kronis, tungkak lambung atau usus dua belas jari sebaiknya juga tidak mengonsumsi kepiting, bisa mengakibatkan kambuhnya penyakit lama.

Bila setelah mengonsumsi kepiting mengalami nyeri perut dan diare, boleh menggunakan daun perilla (Zisu, 紫苏) 15 gr dan jahe mentah 5 iris, kemudian direbus. Berfaedah menghilangkan rasa nyeri dan menghentikan diare.

5. Penderita alergi

Setelah mengonsumsi kepiting, protein spesifik kepiting melalui dinding usus yang permeabilitasnya telah meningkat itu masuk ke dalam tubuh dan terjadilah reaksi alergi, menimbulkan sejumlah besar Histamin dan lain-lain, mengakibatkan kejangnya lambung usus dan otot-otot lainnya serta pembengkakan yang disebabkan pembuluh darah, kemudian timbul mual, muntah, nyeri perut, diare, bahkan ada yang timbul urticaria atau asma. Selain itu, penderita radang kulit, eksim, kurap, koreng, juga harus hati-hati mengonsumsinya, karena mengonsumsi kepiting akan membuat keadaan jadi lebih buruk.

6. Penderita saluran empedu, misalnya radang kantung dan batu empedu

Terjadinya radang kantung empedu dan batu empedu berhubungan dengan gangguan metabolisme dan kelebihan kolesterol dalam tubuh, mengonsumsi kepiting malah mengakibatkan penyakit bertambah parah atau kambuh kembali.

7. Ibu hamil

Ibu hamil sebaiknya mengurangi atau tidak mengonsumsi kepiting, karena kepiting ada efek melumerkan gumpalan darah, setelah mengonsumsinya perempuan hamil cenderung mudah keguguran dan menimbulkan risiko lainnya.

Pengobatan Tradisional Tiongkok berpendapat, sebagian hasil perairan (laut/tambak) mempunyai efek melembekkan pembekuan darah dan meningkatkan peredaran darah. Setelah mengonsumsinya, ibu hamil muda akan mudah mengalami pendarahan atau keguguran. Daging kepiting sifatnya dingin, mempunyai efek menghilangkan pembekuan dan menggalakkan peredaran darah, maka tidak menguntungkan bagi ibu hamil.

Selain kepiting, daging bulus juga mempunyai efek menyuburkan Yin dan menguatkan ginjal. Biasanya dapat dijadikan masakan yang kaya gizi. Tetapi daging bulus sifatnya asin dan dingin, mempunyai efek yang cukup keras untuk melumerkan pembekuan darah dan melancarkan peredaran darah dalam meridian, oleh karena itu bisa menyebabkan keguguran.

8. Orang lanjut usia

Karena sistem pencernaan pada para lansia sudah menua, daya serap dan fungsi pencernaan telah menurun, maka jangan banyak makan. Saat makan sebaiknya disertai saos (campuran cuka dan serbuk jahe), untuk menghilangkan sifat dingin kepiting. Selain itu, anak kecil karena pertumbuhan organ pencernaan belum sempurna, daya serap dan fungsi pencernaan agak lemah, maka juga tidak cocok bila terlalu banyak mengonsumsi kepiting. (Epochtimes/Wcn/Yant)

Share
Tag: Kategori: Headline KESEHATAN

Video Popular