Oleh: Hua Zi Ming

Ilmuwan mendeteksi adanya debu kosmik misterius sedang menuju ke Tata Surya kita dengan kecepatan tinggi, namun, para ilmuwan belum tahu dari mana sumbernya.

Baru-baru ini, Wahana Antariksa Cassini milik Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA) telah mendeteksi sejumlah partikel debu yang berasal dari luar Tata Surya, butiran debu ini melesat ke Tata Surya dengan  kecepatan 72.450 kilometer per jam.

Sejauh ini, belum diketahui secara pasti darimana sebenarnya partikel debu ini. Dan yang lebih mengejutkan ilmuwan, partikel debu ini memiliki senyawa kimia yang serupa, mengandung unsur-unsur pembentuk batuan besar seperti magnesium, silikon, besi dan kalsium.

Wahana antariksa Cassini telah tiba di orbit sekitar Saturnus sejak 2004, untuk mempelajari sang planet raksasa ini berikut satelitnya. Cassini juga telah meneliti jutaan butir debu yang kaya es dengan instrumen analisis debu kosmiknya. Sebagian besar butir debu es tersebut berasal dari jet aktif Enceladus, salah satu bulan Saturnus yang aktif secara geologis.

Di antara jutaan partikel debu kosmik yang dikumpulkan Cassini, terdeteki sekitar 36 partikel debunya itu memiliki karakteristik yang unik. Karena itu, para ilmuwan menyimpulkan partikel debu ini berasal dari luar tata surya kita, dan mengatakan meskipun debu yang unik ini tidak mudah diamati. Namun, dapat diidentifikasi mereka berasal dari ruang antar bintang, tepatnya ruang antara bintang di luar tata surya, demikian dilansir dari laman CNN, Sabtu (16/4/2016).

Kecepatan yang fantastis: 72.450 kilometer per jam

Ini bukan pertama kalinya para ilmuwan mendeteksi adanya debu kosmik di luar tata surya kita. Sejak tahun 1990-an, NASA Ulysses dan mitranya European Space Agency-ESA juga menemukan adanya partikel debu kosmik dari galaksi.

Dari misi wahana antariksa Cassini ini, ilmuwan mendeteksi debu-debu mikroskopis ini melesat melintasi antariksa dengan kecepatan lebih dari 72,450 km / jam (45,000 mil). Saking cepatnya hingga tidak terjebak di dalam gravitasi Matahari.

Keterangan gambar: Spitzer Space Telescope milik NASA mengamati berbagai galaksi, nebula dan pemandangan astronomi yang eksotis, sehingga membuat kita bisa memahami lebih lanjut tentang alam semesta yang spektakuler yang dipenuhi dengan kemisteriusan. (NASA/JPL-Caltech)
Keterangan gambar: Spitzer Space Telescope milik NASA mengamati berbagai galaksi, nebula dan pemandangan astronomi yang eksotis, sehingga membuat kita bisa memahami lebih lanjut tentang alam semesta yang spektakuler yang dipenuhi dengan kemisteriusan. (NASA/JPL-Caltech)

Komposisi yang menakjubkan: Senyawa kimia yang nyaris sama.

Hal yang membuat para ilmuwan takjub, Cassini juga mampu menganalisis komposisi debu antar bintang untuk pertama kalinya. Debu antar bintang ini diketahui terbentuk dari campuran mineral, bukan es seperti yang dilontarkan Enceladus. Butir debu antarbintang ini juga memiliki senyawa kimia yang serupa, yang mengandung unsur-unsur pembentuk batuan besar seperti magnesium, silikon, besi dan kalsium.

Menurut para ilmuwan, debu itu berasal dari bintang yang mati.

“Bintang yang mati akan menghasilkan debu, namun, ada banyak bintang dari berbagai tipe dengan penyebaran yang luas di alam semesta, dan tentu saja kita berharap menemukan partikel debu dengan komposisi yang beragam,” ujar Frank Postberg, ilmuwan dari University of Heidelberg yang bertanggung jawab untuk pekerjaan analitis di bidang partikel debu kosmik.

Sumber debu tidak diketahui

Namun, para ilmuwan masih tidak dapat memastikan sumber dari debu-debu kosmik ini.

“Melalui pengamatan Cassini, kita selalu berharap akan mampu mendeteksi debu antar bintang di sekeliling Saturnus. Dan kita juga yakin, apabila kesimpulan kita benar, maka kita akan menemukan mereka,” kata Nicholas Altobelli, ilmuwan dari European Space Agency dan penanggung jawab proyek observasi debu kosmik di wahana antarikaa Cassini.

Ruang antar bintang sebenarnya kosong, tapi tidak kosong seperti yang dibayangkan. Ada debu antar bintang yang terbuat dari partikel-partikel kecil dari ledakan supernova dan dipenuhi dengan beragam materi, demikian dikutip dari “Daily Mail”, Kamis (14/4/2016).  (Epochtimes/joni/rmat)

Share

Video Popular