Seperti sebuah dongeng dimana orang buta dapat memberitahu tentang seseorang kepada kita saat seseorang itu tidak ada di hadapan kita, menurut para ahli keahlian semacam itu adalah keahlian yang juga dimiliki oleh nenek moyang kita.

Kita semua mungkin akrab dengan ide bahwa pria yang lebih besar dapat memiliki suara lebih dalam, tapi Anda mungkin tidak menyadari bahwa Anda bisa mengatakan seberapa tinggi seseorang hanya dengan mendengarkan mereka berbicara.

Sebuah studi baru menunjukkan orang buta dapat memberitahu orang seberapa besar semata-mata hanya dengan mendengarkan suara mereka. Tidak ada bedanya apakah orang itu telah memiliki pengalaman bisa melihat sebelumnya atau buta sejak lahir, dan peneliti berpikir kita mungkin punya kemampuan tersebut selama ribuan tahun sebelumnya.

“Dalam studi ini menunjukkan bahwa orang dewasa yang buta dapat memperkirakan ukuran relatif tubuh seorang pria dari suaranya, dengan derajat yang sama akurasinya seperti orang dewasa yang dapat melihat” kata para peneliti.

Katarzyna Pisanski, seorang psikolog di University of Sussex, dan rekan-rekannya melakukan penelitian untuk menentukan perbedaan antara kemampuan orang buta mengatakan siapa pria yang lebih tinggi, ketika mendengarkan dua rekaman suara.

Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan dalam kemampuan orang buta untuk mengatakan mana dari pasangan itu yang lebih tinggi. Semakin besar perbedaan antara pasangan tersebut, lebih akurat mereka mampu mengatakan perbedaan tingginya.

“Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa para pendengar dapat secara akurat mengukur perbedaan relatif pada pria, dan tingkat lebih rendah pada wanita, ukuran tubuh dan para pendengar itu sangat bergantung pada dua fitur suara untuk melakukan hal ini, yakni nada suara dan frekuensi atau resonansi vokal,” kata Pisanski kepada MailOnline.

Dari perspektif teoritis diharapkan orang-orang dapat melakukan hal ini karena ukuran tubuh sangat penting, dalam masyarakat dan dalam hal kesehatan, bagi manusia dan pada hakikatnya semua mamalia lainnya.

Di antara manusia, misalnya, laki-laki lebih tinggi dianggap lebih sehat, lebih disukai oleh perempuan sebagai pasangan dan sebagai hasilnya memiliki lebih banyak anak, memperoleh pendidikan yang lebih tinggi dan upah yang lebih tinggi, dan lebih mungkin untuk mengambil posisi dominan seperti presidensi dan pekerjaan manajerial dibandingkan dengan laki-laki yang lebih pendek.

“Namun cerita itu kurang begitu jelas untuk wanita, tetapi di sini juga, ukuran tubuh berhubungan dengan daya tarik dan kesuburan,” ungkapnya.

Kemampuan ini mungkin telah terjadi pada nenek moyang kita juga, sehingga kemampuan kita untuk merasakan ukuran tubuh dari suara kemungkinan adalah evolusi kuno dan dalam masyarakat masih relevan di zaman modern

“Tentu saja Anda dapat melihat seberapa tinggi seseorang, tapi ini bisa menyesatkan. Di masa kuno kita kita tidak bisa selalu melihat individu, misalnya di kejauhan, dan sangat mungkin bahwa suara bertindak sebagai ‘sinyal cadangan’ ketika informasi visual gagal atau menyesatkan, kita dapat dengan mudah tertipu seberapa besar kita melihat,” kata Pisanski.

Untuk penelitian ini, 91 orang sehat termasuk mereka yang terlahir buta, orang-orang yang menjadi buta di kemudian hari dan orang dewasa yang dapat melihat, berusia 20 sampai 65 tahun diminta untuk mendengarkan suara-suara dari tiga puluh pasangan pria yang berbeda tingginya.

Dari hasil studi tersebut 70 persen dari pasangan suara, pria dengan tubuh yang lebih tinggi memiliki resonansi suara lebih rendah dan lebih berdekatan, pemusatan energi akustik di sekitar frekuensi tertentu dalam gelombang percakapan tersebut, daripada laki-laki yang lebih pendek.

Akurasi dari penilaian ukuran tubuh berbasis suara secara signifikan melewati peluang dan tidak berbeda antara peserta yang melihat, buta sejak lahir atau kehilangan penglihatan mereka di kemudian hari.

Meskipun orang buta menunjukkan keuntungan dalam beberapa kemampuan yang berhubungan dengan suara, seperti pembedaan nada, keunggulan ini tidak menggeneralisasi untuk pengolahan isyarat sosial yang relevan dalam suara manusia.

Temuan juga menunjukkan kemampuan untuk memperkirakan ukuran tinggi seseorang berdasarkan suara mereka tidak memerlukan pengalaman visual sebelumnya. Akan tetapi alasan mengapa mereka dapat melakukan ini dengan baik tidak sepenuhnya dipahami.

Kemampuan ini, perpaduan antara komunikasi sosial dengan wawasan percakapan, mungkin karena sudah ada pada saat lahir atau dapat dipelajari melalui kecocokan yang berhubungan dalam bentuk lintasan non visual.

“Kelompok ini sedang melakukan tes yang sama pada wanita. Namun, orang biasanya lebih buruk dalam menilai ukuran tubuh wanita karena resonansi vokal pada wanita sulit untuk dirasa, sehingga memungkinkan kedua peserta yang dapat melihat maupun yang tunanetra akan dikisaran peluang yang sama,” kata Pisanski.

Selain menguji penilaian dari ukuran tubuh wanita, mereka juga menguji apakah orang buta dapat secara akurat menebak usia dari pemilik suara tersebut. Penelitian-penelitain lebih lanjut sangat penting bagi peneliti karena dapat menginformasikan tentang bagaimana persepsi suara berkembang, dan betapa penting secara evolusioner kemungkinannya. (ran)

Share

Video Popular