Menanam bibit padi dengan cara konvensional yakni menggunakan tenaga manusia merupakan metode yang masih dominan dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Tentunya sistem tanam manual ini sudah memiliki takaran sendiri tentang efisiensi, kemudahan dan produktivitas hasil tanam.

Dadang yang sudah menekuni profesi petani selama 20 tahun lebih, mengaku pada awalnya tak terbiasa menanam padi dengan menggunakan mesin. Selama ini, Dadang lebih nyaman bertani dengan cara-cara konvensional seperti mengerahkan tenaga banyak orang. Tentunya, harus ada ongkos yang dikeluarkan untuk menggaji para pekerja.

Hal yang didapat Dadang ketika menggunakan tanam manual adalah dengan waktu yang lama untuk menanam hingga 3 hari hanya pada satu hektar sawah. Namun tak lama setelah Dadang mencoba dengan menggunakan mesin Indo Jarwo Rice Transplanter, tentunya waktu yang dibutuhkan lebih pendek dari sebelumnya. “Hasilnya bagus, lebih cepat,” ujar Dadang, warga Desa Pasir Kuda, Kecamatan Bogor Barat, Kodya Bogor, Jawa Barat, Kamis (21/4/2016).

Senada dengan Dadang, warga Pasir Kuda lainnya, Anwar menuturkan ketika masih menggunakan teknik manual untuk menanam bibit padi sebelumnya dia membutuhkan waktu 3 hari untuk satu hektar sawah. Namun demikian dengan adanya mesin tanam ini, Anwar mengatakan hanya membutuhkan waktu selama 5-6 jam.

Tak hanya segi penanaman, lanjutnya, teknik yang disertai tanam padi ini dengan menggunakan teknik tanam jajar legowo. Anwar juga mengaku awalnya dia merasa tak terbiasa mengupayakan menanam padi dengan mesin. Namun demikian, dia menyadari kerjanya lebih praktis dan lebih baik. “Agak ribet, segi kecepatannya (mesin tanam) tiga kali lipat,” ujar Anwar.

Sementara perekayasa Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian di Tangerang, Athoilah Azadi menuturkan situasi yang dianggap menyusahkan ketika menanam padi dengan menggunakan mesin tanam terletak pada persoalan berbagi pengetahuan baru. “Ini soal budaya, ke depannya semakin berkurang tenaga tanam sehingga mau tak mau dengan mekanisasi,” ujarnya.

Menurut Atho, ketika para petani beranjak pada metode menanam dengan teknik mekanisasi maka sepenuhnya harus ada persyaratan dipenuhi yang tentunya belum terbiasa. Dia mengibaratkan ketika belasan tahun silam, masyarakat juga belum terbiasa ketika diperkenalkan handtractor untuk menggantikan tenaga kerbau. Namun demikian berselang beberapa waktu kemudian, akhirnya kebutuhan mesin ini mendapatkan tempat di kalangan petani.

Tak hanya segi efisiensi tanam, mesin tanam ini juga menjadi sempurna dengan disertai sistem tanam jajar legowo 2:1 yang digunakan untuk menanam bibit padi setelah disemai pada tempat khusus yaitu tray atau dapok pada umur tertentu. Teknik ini diketahui mampu meningkatkan produktivitas hingga 30 persen dari populasi tanaman.

Bahkan beberapa hasil uji coba dengan menggunakan mesin penanam padi Indo Jarwo Rice Transplanter, menunjukan penggunaan mesin penanam ini dapat meningkatkan jumlah anakan padi 4,23-4,7 batang/rumpun, produktivitas padi 97 kg/ha dan pendapatakan petani Rp 4,3 juta – Rp 5,7 juta/ha dibandingkan dengan cara tanam manual.

Mesin penanam padi Indo Jarwo Rice Transplanter PL-4JP ini dikembangkan oleh enginering PT Agrotek Tani Lestari dan Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Badan Pengembangan Teknologi Pertanian, Kementerian Pertanian. Sedangkan PT Agrotek Tani Lestari  yang berkantor di kawasan Industri Bonen Kav 18 Cikupa,Tangerang, Banten ini merupakan salah satu pemegang lisensi untuk Rice Transplanter tipe jajar legowo yang dilakukan antara BBP MEKTAN. Lebih lanjut dengan narahubung Purwanto +62815 11327873. (Advertorial)

Share

Video Popular