Beberapa hari yang lalu, seorang teman di tempat kerja terjadi pergeseran jabatan. Dia tadinya adalah seorang manager, lalu kini sudah bukan lagi, hal itu membuat dia menjadi stress.

Walaupun dalam kehidupan sehari-hari tampaknya dia sangat tenang, namun pada kenyataannya hatinya sangat galau. Dalam pekerjaan naik dan turun pangkat adalah hal yang biasa, seperti roda yang berputar ada saatnya di atas atau di bawah, jika berada di atas diri sendiri juga sudah tahu pada suatu ketika juga akan berada di bawah. Tetapi ketika berada di atas semua pikiran dan perhatian di tujukan dengan bekerja keras untuk mencapai kemajuan, mata seperti diterangi oleh aura jarang bisa memandang ke arah yang jauh.

Saya teringat suatu ketika kami pergi mendaki gunung Songshan. Kami membawa anak, setelah berkunjung ke Kuil Shaolin, dengan kereta kabel naik ke atas gunung. Kereta kabel tidak bisa sampai ke titik tertinggi, jika ingin melihat pemandangan yang lebih indah, hanya berjalan mendaki gunung. Pada saat itu sebenarnya sudah sangat lelah, anak masih kecil, selalu minta di gendong, saya sendiri mendaki saja sudah dengan susah payah ditambah beban anak lagi, benar-benar hal yang menantang.

Namun, setelah berpikir begitu jauh datang ke Songshan adalah hal yang tidak mudah, walau bagaimanapun harus bertahan terus, mendaki sampai ke puncak. Kami menghibur diri sendiri, suami mendudukan anak di pundaknya, kami bertiga melangkah semakin berat di sepanjang jalan batu curam yang semakin sempit. Kami bermandikan keringat, nafas terengah-engah, kemudian bertemu dengan seorang kakak yang sedang turun dari puncak, saya dengan ramah bertanya kepadanya: ” Berapa lama lagi sampai ke puncak?”

Kakak tersebut, dengan tersenyum mengatakan kepada kami: “Sudah dekat.” Saya menarik napas dalam-dalam, kembali mengatakan: “Akhirnya hampir sampai!” Kakak itu lalu menyambung kalimatnya mengatakan: ” Tetapi setelah naik harus turun lagi” setelah selesai berucap, dia tertawa, saya dan suami juga ikut tertawa.

Kami sedang mendaki, dalam hati saya hanya berpikir bagaimana bisa sampai ke puncak gunung, mana ada pikiran masih harus turun gunung lagi. Hanya mereka yang berjalan turun, benar-benar merasakan perkataan dan kesulitan “lebih gampang mendaki daripada turun gunung “

Seharusnya, mendaki gunung lebih lelah, orang perlu untuk mengatasi gravitasi tubuh naik ke atas. Tetapi mendaki gunung bagaimana lelahpun, di dalam hati ada target yang akan di capai, langkah demi langkah, lebih dekat mencapai target. Tetapi, setelah sampai ke puncak bukit, adalah mustahil untuk tidak pergi tinggal selamanya di sana, betapa indahpun pemandangannya, tetap harus turun lagi. Dalam perjalanan turun gunung, di dalam hati tidak memiliki harapan seperti mendaki gunung, keadaan fisik juga sudah makin lemah, banyak orang sangat lelah sampai kaki bergemetaran. Jadi, menuruni gunung bukannya lebih mudah daripada mendaki gunung.

Sekali ini walaupun membawa anak, akhirnya kami bisa mencapai puncak tertinggi, karena sudah mendaki begitu lama, tidak ingin menyerah. Ketika mendaki dengan bersemangat tanpa berhenti, tetapi ketika turun gunun, kami beristirahat beberapa kali, karena semangat kami tidak sebaik sebelumnya.

Pengalaman mendaki Songshan, terutama ketika bertemu dan mendengar perkataan dari kakak tersebut di tengah jalan, sangat melekat dalam memori saya. Membuat saya memahami kebenaran dari banyak hal. Kadang-kadang, tidak hanya naik pangkat bukan hal yang gampang, turun pangkat lebih sulit lagi. Jika tanpa toleran dan visi yang luas, bagaimana dapat mengendalikan diri, dengan tenang menghadapi pro dan kontra? Jadi, jika ingin mundur dengan anggun harus dengan keberanian, dan kebijaksanaan yang lebih besar.

 

Share
Kategori: Uncategorized

Video Popular