JAKARTA – Praktisi Falun Gong atau Falun Dafa yang berdomisili di Jakarta, Depok dan Tangerang Selatan menggelar aksi memperingati “Permohonan Damai 25 April 1999 di Tiongkok yang dilaksanakan di depan Kedutaan Besar RRT, Jalan Mega Kuningan, Jakarta, Sabtu (23/4/2016). Aksi kali ini mengangkat tema ‘Great Wall of Thruth and Justice.’

Para praktisi Falun Gong dalam aksi mereka memperagakan aksi kejahatan pengambilan organ tubuh yang menimpa terhadap praktisi Falun Gong di Tiongkok. Aksi lainnya adalah menunjukkan para praktisi Falun Gong yang menjadi korban penahanan di sejumlah kamp konsentrasi dan kerja paksa.

Sepanjang seberang jalan depan Kedubes RRT itu juga diramaikan dengan spanduk seruan tuntutan agar penindasan terhadap Falun Gong dihentikan. Diantaranya spanduk atas nama Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) “Stop the Persecution of Falun Gong Now. ” Spanduk lainnya dari Imparsial yang bertuliskan “We Urge to Chinese Governmant to respect and protect the Right of Falun Gong Followers. Stop Violation against Falun Gong.”

Ketua Himpunan Falun Dafa Indonesia, Gatot Machali mengatakan meskipun permohonan damai di Tiongkok sudah berlangsung 17 tahun silam, namun penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong di Tiongkok masih berlangsung hingga saat ini. Gatot menuturkan, walaupun demikian kejahatan yang menimpa terhadap praktisi Falun Gong semakin terbongkar meski selalu ditutupi fakta kebenarannya.

Menurut Gatot, upaya penutupan fakta kebenarannya yang menimpa terhadap praktisi Falun Gong ditutupi dengan segala cara termasuk pemanfaatan perwakilan diplomatik di luar negeri. Lebih jauh Gatot menuturkan, hal yang paling mengerikan adalah pengambilan paksa organ tubuh praktisi Falun Gong untuk memenuhi industri transplantasi di Tiongkok.

Bahkan diperkuat berdasarkan penyelidikan independen yang dilakukan oleh mantan sekretaris Kanada untuk Asia Fasifik, David Kilgour dan pengacara HAM internasional, David Matas, menunjukkan mayoritas donor hidup untuk praktek transplantasi adalah para praktisi Falun Gong yang ditahan di penjara/kamp kerja paksa karena hanya memperhankan keyakinan mereka pada prinsip sejati-baik-sabar.

“Hari ini kami kembali melakukan protes damai, menyuarakan hentikan penganiayaan irasional Partai Komunis Tiongkok terhadap rekan-rekan Falun Gong kami di Tiongkok,” ujar Gatot.

Peristiwa permohonan damai atau Zhong Nan Hai, 25 April 1999, di mana sekitar sepuluh ribu praktisi Falun Gong atau Falun Dafa di Tiongkok, bermula pada April 1999 di Tiongkok setelah sejumlah media yang dikenadilan rezim Partai Komunis Tiongkok melancarkan fitnahan terhadap Falun Gong. Bahkan klarifikasi terhadap pemberitaan miring berujung pada penangkapan sekitar 45 paktisi di Kota Tianjin, Tiongkok.

Praktisi Falun Gong bersama asisten staf pengacara publik LBH Jakarta (Kiri) Dukungan tanda tangan yang diberikan warga kepada praktisi Falun Gong (Kanan)
Praktisi Falun Gong bersama asisten staf pengacara publik LBH Jakarta (Kiri) Dukungan tanda tangan yang diberikan warga kepada praktisi Falun Gong (Kanan)
Suasana peringatan permohonan damai praktisi Falun Gong di Jakarta
Suasana peringatan permohonan damai praktisi Falun Gong di Jakarta

Sebagai rangka permohonan pembebasan terhadap praktisi Falung Gong yang ditahan, pada saat itu praktisi Falun Gong mengggelar aksi damai dan klarifikasi fakta kepada Pemerintah Tiongkok waktu di luar Kantor Dewan Pengaduan Negara di Beijing. Pada saat itu, Perdana Menteri Tiongkok Zhu Rongji langsung menemui perwakilan praktisi Falun Gong. Setelah diterima, semua orang pulang dengan tertib.

Tetapi pimpinan Partai Komunis Tiongkok pada saat itu, Jiang Zemin memiliki rencana lain. Tiga bulan kemudian pada 20 Juli 1999, Jiang Zemin melancarkan kampanye penindasan terhadap praktisi Falun Gong. Bahkan peristiwa permohonan damai itu, diputar balik sebagai pengepungan oleh Partai Komunis Tiongkok dengan melakukan propaganda besar-besaran untuk menjatuhkan Falun Gong. Penyelewengan informasi ini menyebabkan masyarakat Tiongkok dan masyarakat dunia menerima informasi yang salah tentang Falun Gong.

Selanjutnya Partai Komunis Tiongkok malah memulai penindasan Falun Gong secara menyeluruh di daratan Tiongkok sejak 20 Juli 1999, yang menyebabkan ratusan ribu hingga jutaan praktisi Falun Gong disiksa, dibunuh dan bahkan ada yang diambil organ tubuhnya secara paksa untuk diperjualbelikan.

Adapun luas wilayah penindasan terhadap praktisi Falun Gong terjadi pada seluruh pelosok di Tiongkok bahkan Jiang Zemin dengan kroninya memanfaatkan Kedubes RRT di seluruh dunia untuk melakukan interrvensi kepada pemerintah negara-negara di dunia untuk turut mengekang aktivitas Falun Dafa.

Tentang mekanisme dan metode penindasan yang dimotori oleh Jiang Zemin menyalahgunakan jajaran diplomatik, militer, keamanan negara, sisitem pendidikan, media negara, internet, peradilan, sumber keuangan negara serta struktural partai untuk melakukan penindasan terhadap praktisi Dafa di Tiongkok. Metode penganiayaan beragam mulai penculikan, pencucian otak, propoganda kebohongan, perampasan dan pengambilan organ tubuh praktisi Falun Dafa.

Melansir dari situs id.falundafa.org Falun Gong atau Falun Dafa adalah metode latihan yang berlandaskan prinsip Sejati-Baik-Sabar. Latihan ini juga disertai metode pengolahan jiwa dan raga. Melalui olah raga disertai dengan lima perangkat latihan termasuk meditasi. Sedangkan melalui olah jiwa berlandaskan pada prinsip Sejati-baik-sabar.

Selama puluhan tahun sejak Falun Dafa diperkenalkan ke masyarakat secara luas sejak pertama kali pada 1992 kini telah menunjukkan manfaat bagi jiwa dan raga bagi yang berlatih Falun Dafa. Mereka yang berlatih mendapatkan banyak manfaat mulai dari kesehatan secara jiwa dan raga serta penerapan prinsip Sejati, Baik, Sabar dalam keseharian mereka. (asr)

Share

Video Popular