Oleh: Cao Changqing

Baru-baru ini terjadi kasus pembunuhan dengan memenggal kepala gadis cilik di Taiwan, sehingga masalah hukuman mati akan dipertahankan atau dihapuskan kembali menjadi fokus yang terus disoroti. Riset opini publik terbaru menunjukkan, 84% rakyat Taiwan tidak menyetujui dihapuskannya hukuman mati, yang menyetujui hanya 8%. Berikut lanjutan dari artikel pertama.

Alasan para penentang hukuman mati yang kedua adalah: hukuman masa sekarang hendaknya menekankan pada edukasi, bukan pembalasan. Tidak boleh “dengan kekerasan membalas kekerasan, dengan kematian menghentikan kematian, mata balas mata, gigi balas gigi.”

Sama halnya dengan ulasan sebelumnya bahwa pelanggaran hukum membunuh orang yang tidak bersalah dan hukuman mati yang diputuskan oleh pengadilan bagi pembunuh adalah dua konsepsi. Antar dua pribadi baru terdapat “balas membalas”, “dengan kekerasan mengatasi kekerasan” dan “mata diganti mata, gigi diganti gigi.” Sedangkan dalam keputusan pengadilan dalam masyarakat hukum, bukanlah antar pribadi, juga bukan tim juri melawan pribadi, melainkan seperti apa yang telah lama dinyatakan oleh pemikir Inggris John Locke, untuk melindungi diri sendiri masyarakat memberikan wewenang (melalui kontrak pemindahan) maka berdirilah pemerintah.

Itu sebabnya pengadilan pemerintah yang memerintah berdasarkan hukum, memperoleh wewenang dari rakyat, merupakan cermin kehendak rakyat. Ia bukan lagi merupakan perorangan (pribadi) yang “membalas” orang lain, melainkan merupakan kehendak rakyat dalam mengadili pembunuh secara adil. Hal yang satu adalah pelanggaran hukum, yang satunya adalah mengekang pelanggaran hukum, keduanya memiliki kandungan nilai yang berlawanan. Kesalahan terbesar penentang hukuman mati adalah mencampuradukkan konsep dan memutar-balikkan nilai-nilai.

Mantan Kepala Kantor Polisi Taiwan Hou Youyi menentang penghapusan hukuman mati, sebagai professional dalam hukum ia mempunyai sebuah alasan yang mantap. Ia mengatakan, masyarakat melihat kasus pembunuhan kebanyakan dari foto dan informasi tertulis, juga dari permintaan ampun pembunuh yang nampaknya sudah insyaf, bahkan adegan penyesalannya dan lain-lain.

Namun ia pernah menyaksikan sendiri di banyak tempat kejadian perkara pembunuhan, justru ia telah mengalami hal yang sangat berbeda. Ia mengatakan, sebagai contoh kasus pembunuh terkenal Chen Chin-hsing di Taiwan, Hou Youyi sebagai petugas Kepolisian pernah melihat tiga orang korban pembunuhan yang tidak bersalah di tempat perkara, benar-benar mengerikan dan tidak tega melihatnya. Kemudian ia pun pernah berbincang dengan Chen Chin-hsing, si pembunuh itu sama sekali tidak menyesali perbuatannya yang dengan kejam telah membantai orang, malah memperbincangkannya dengan enteng dan penuh tawa.

Waktu itu Hou Youyi berkata dalam hati “penjahat ini sudah bukan sekedar binatang, ia adalah iblis”. Sedangkan orang-orang yang pro penghapusan hukuman mati, tidak dapat melihat hal-hal seperti ini, hanya melihat tampang pelaku pembunuhan yang memohon bantuan setelah lewat bertahun-tahun (pelaksanaan hukuman mati biasanya sangat lambat dan sangat sulit), dan tidak melihat tampang kekejaman mereka ketika membunuh orang, dengan demikian mengikuti emosi bertindak secara gegabah bersimpati kepada pelaku kejahatan yang telah dengan kejam merampas nyawa orang lain, bahkan malah menekankan betapa berharga kehidupannya.

Hou Youyi menyebutkannya sebagai “perasaan yang tidak seimbang.” Ia mengatakan dari statistik opini publik di Taiwan, para anggota jurisdiksi yang menyetujui dilaksanakannya hukuman mati perbandingannya paling tinggi. Karena mereka menangani kasus, paling banyak kontak langsung, sehingga paling banyak mengalaminya sendiri. Ini adalah keadilan hukum, bukan “balas dendam” dan “membalas kekerasan dengan kekerasan.”

Alasan ketiga penentang hukuman mati adalah, hukuman mati tidak dapat berefek membuat jera, pelanggaran hukum itu disebabkan oleh banyak faktor, lagi pula mereka terutama ingin menekankan pengalaman kegagalan dalam kehidupan sebelum melanggar hukum dan lain-lain, demi mencari alasan pembenar dan membebaskan pelanggar hukum dari kesalahan.

Hukuman mati apakah mempunyai efek membuat jera? Ditilik dari kewajaran, tentu saja ada. Dalam bahasa Mandarin sejak dulu sudah ada anggapan “hutang jiwa harus dibayar dengan jiwa”, “dibayar dengan jiwa” ini tentu saja dapat berefek menahan secara psikologis bagi pembunuh. Dengan kata lain, Anda membunuh orang sama saja dengan membunuh diri sendiri! Ini hanya memberikan sebuah celah yang sangat kecil bagi orang yang bermaksud membunuh orang. Mujur tidak tertangkap, kalau tidak, Anda harus membayar dengan jiwa. Dengan masuknya pengertian semacam ini ke dalam hati sanubari, tentu saja akan membendung tindakan pembunuhan.

Di Amerika Serikat banyak sekali ilmuwan yang mengadakan riset yang menunjukkan bahwa hukuman mati dalam membendung pembunuhan mempunyai “kekuatan handal yang sangat besar.” David Muhlhausen periset senior dalam think tank “Heritage Foundation” AS pernah menguraikan kesaksiannya di dalam kelompok kecil rapat dengar pendapat anggota senat bagian hukum bahwa “hukuman mati membendung secara handal pelanggaran hukum dan menolong menyelamatkan kehidupan.”

Pada tahun 90an Paul Rubin bertiga, para ilmuwan dari Perguruan Tinggi Emory di AS, menunjukkan statistik riset kejahatan selama 20 tahun di 3000 kota dan kota kecil di AS, rata-rata setiap kali pelaksanan hukuman mati, dapat menolong 18 nyawa manusia dari pembunuhan. Di AS, bahkan ilmuwan yang menentang hukuman mati juga mengakui, hukuman mati mempunyai fungsi untuk membendung pembunuhan.

Profesor Joanna Shepherd merupakan salah satu dari tiga orang ilmuwan yang diuraikan di atas dan merupakan penentang hukuman mati, namun laporan hasil riset yang dinyatakannya pada 2005 juga menyatakan, antara tahun 1977 – 1996, negara bagian di AS yang setiap tahunnya melaksanakan hukuman mati di atas 9 orang baru mempunyai efek membendung. Maksudnya adalah, hukuman mati yang sedikit jumlahnya, akan menurun pula efek jeranya. Karena disamping merasa mungkin untung tidak tertangkap, masih ditambah lagi secara psikologis bahwa bila tertangkap pun masih sangat mungkin tidak sampai dihukum mati. Itu sebabnya kasus pembunuhan lantas meningkat.

Pandangan umum lain yang mudah dimengerti adalah, hukuman mati bukan saja dapat memberi efek jera bagi banyak orang untuk menghentikan pembunuhan, bahkan memastikan si pembunuh tidak lagi berkesempatan membunuh orang lagi. Jika tidak, begitu lolos dari penjara. Di AS dan Meksiko baru-baru ini terdapat 3 orang pembunuh besar yang lolos dari tahanannya atau oleh amnesty dan dapat kembali ke masyarakat, akan mungkin sekali membunuh orang lagi. Dalam pelanggaran hukum, probabilitas terjadinya penjahat kambuhan sangat besar, bahkan kebanyakan mengulang pelanggaran yang sama. (pur/whs/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular