JAKARTA – Salah satu buronan kasus kucuran dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Samadikun Hartono berhasil tertangkap dan dipulangkan ke Indonesia, Kamis (21/4/2016). Bekas Presiden Komisaris PT. Bank Modern, Tbk itu menjadi buronan selama 13 tahun setelah bank itu menerima dana BLBI senilai Rp 2,557 triliun. Lalu benarkah ada dugaan tukar guling dalam kepulangannya setelah sekian lama bersembunyi di Tiongkok?

Guru Besar Universitas Pertahanan, Prof. Dr. Salim Said menilai tertangkapnya Samadikun di Tiongkok memiliki makna mengenai hubungan yang dibangun pemerintah Indonesia dengan Tiongkok. Pasalnya, keberadaan Samadikun mudah diketahui dan sebenarnya tak tak terlalu sulit ditangkap di Tiongkok.

Menurut Salim, pemulangan Samadikun ke Indonesia diwarnai dengan sejumlah proses-proses keputusan politik apalagi tak ada negosiasi politik yang berlangsung tanpa timbal balik. Menurut pengamat militer ini, penguasa Tiongkok menilai Indonesia memiliki modal hingga membuat kesepakatan dengan Indonesia.

“Sudah berapa tahun dia (Samadikun) di Tiongkok, selama itu kita tak punya political capital, ada proyek kereta api dan jembatan, jadi dia (Tiongkok) mau deal dengan kita,” katanya dalam diskusi di Jakarta, Sabtu (23/4/2016).

Senada dengan Salim, anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Golkar, Syaiful Bahri Ruray menilai bukan sebuah persoalan bagi Tiongkok untuk mengorbankan sosok Samadikun untuk dipulangkan ke Indonesia. Bahkan sikap melunak Tiongkok ini, ujar Syaiful, merupakan bagian timbal balik Tiongkok atas tukar guling proyek di Indonesia.

“Menurut saya ini adalah bagian dari diplomasi ekonomi. Tidak semata-mata hukum,” ujarnya.

Menurut dia, penangkapan Samadikun yang merupakan kerjasama Badan Intelijen Negara (BIN) dengan Tiongkok sebagai bentuk ucapan terimakasih. Hal ini diketahui dikarenakan rezim Presiden Joko Widodo memberikan sejumlah proyek dalam hitungan besar kepada pemerintah Tiongkok yakni kerta cepat, proyek listrik, jembatan dan proyek-proyek lainnya.

Menurut politisi dari Maluku Utara itu, penangkapan sosok Samadikun tak sepenuhnya dilakukan oleh Badan Intelijen Negara (BIN). Selama penangkapan, ujarnya, Tiongkok memilik peranan hingga 70 persen sedangkan BIN hanya 30 persen.

Buronan selama 13 tahun itu terlibat penyelewengan Dana bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI) saat krisis monter 1998 silam. Samadikun menyelewengkan dana untuk kepentingan pribadi dan mengakibatkan kerugian negara hingga Rp 169,4 miliar. (asr)

Share

Video Popular