Oleh: Hong Mei

Bulan April adalah musim panen rajungan bunga Korea di Laut Kuning. Tapi selama seminggu terakhir, kapal nelayan Korsel sulit untuk menangkap rajungan bunga karena sudah hampir punah. Menurut analisa pihak Korsel, penyebab utama kepunahan adalah selama beberapa tahun terakhir kapal nelayan RRT dalam jumlah besar melakukan penangkapan liar dengan metode penjaringan yang mengakibatkan kepunahan tersebut. Tidak hanya di Korsel, penangkapan liar oleh kapal-kapal nelayan RRT telah mengancam industri perikanan laut di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Jumlah Rajungan Bunga Anjlok, Nelayan Korsel Elus Dada

Pada musim semi bulan April setiap tahunnya merupakan musim panen rajungan bunga (Portunus pelagicus) di perairan barat Korsel (Laut Kuning), rajungan bunga yang bisa ditangkap pada periode tersebut besar dan gemuk, dan kebanyakan merupakan rajungan betina yang penuh dengan telur. Namun beberapa tahun terakhir, jumlah rajungan bunga menyusut drastis dan sampai tahun ini rajungan bunga sudah sulit didapatkan.

Menurut statistik, jumlah tangkapan rajungan bunga dalam satu minggu terakhir telah berkurang sebesar 84% dibandingkan dengan waktu yang sama pada tahun lalu, ini membuat para nelayan Korsel hanya bisa “mengelus dada sambil memandangi laut”. Rajungan bunga yang kerap disuguhkan di meja makan di Korea Selatan, kini telah menjadi “rajungan emas” yang harganya selangit.

Menurut statistik dari Akademi Kelautan Nasional Korea Selatan, dalam 5 tahun terakhir jumlah populasi rajungan bunga terus menyusut. Di tahun 2011 produksi rajungan bunga Korsel mencapai 26.000 ton dan turun menjadi hanya 16.000 ton tahun lalu. Berdasarkan sumber daya dan kepadatan penyebaran bibit rajungan bunga, jumlah penangkapan setiap kapal, dan analisa suhu air, diperkirakan jumlah produksi tahun ini akan berkurang 10-30% dibandingkan tahun lalu.

Balai riset tersebut menyebutkan, suhu air pada musim dingin tahun ini sekitar 1,4o lebih tinggi daripada tahun lalu, lebih cocok untuk pertumbuhan rajungan bunga, namun sumber daya rajungan bunga telah merosot drastis. Penyebab utamanya adalah penangkapan ilegal oleh kapal nelayan RRT yang melewati batas perairan.

Keterangan foto: Rajungan bunga yang kerap disuguhkan di meja makan Korea Selatan, kini telah menjadi “rajungan emas” yang harganya selangit. (wikipedia)
Keterangan foto: Rajungan bunga yang kerap disuguhkan di meja makan Korea Selatan, kini telah menjadi “rajungan emas” yang harganya selangit. (wikipedia)

Tidak Takut Sanksi, Kapal Nelayan RRT Kerumuni Laut Kuning

Beberapa tahun terakhir, setiap musim rajungan bunga tiba, Laut Barat Korsel (Laut Kuning) selalu dikerumuni oleh kapal-kapal nelayan RRT. Menghadapi situasi ini, sejak Maret lalu pihak Korsel mengambil tindakan tegas, berupa penahanan terhadap kapal nelayan RRT yang melakukan penangkapan ilegal, dan jika tidak membayar denda, akan terus ditahan, sampai Pengadilan Korsel menjatuhkan vonis, dan selama penahanan kapal-kapal tersebut tidak akan bisa melakukan pekerjaan nelayan. Undang-undang baru juga menetapkan bahwa jika pemilik kapal tidak membayar denda maka akan diserahkan ke pengadilan untuk divonis. Setelah vonis diputuskan tidak lagi diperbolehkan membayar denda, dan kapal tersebut akan ditenggelamkan.

Tapi kebijakan ketat tersebut sepertinya tidak berdampak apa pun. Menurut informasi Biro Keamanan Maritim Incheon Korsel, sejak memasuki Maret tahun ini, rata-rata lebih dari 70 unit kapal nelayan RRT memasuki perairan Laut Kuning setiap harinya, jumlah ini meningkat 3 kali lipat dibandingkan bulan Februari lalu (rata-rata 26 unit).

Nelayan Korsel berang, data statistik itu hanya sebagian kecilnya saja. Kapal nelayan RRT yang bergerombol memanfaatkan pukat tarik di Laut Barat dan menjaring habis seluruh rajungan bunga yang ada. Tidak hanya rajungan bunga, bahkan ikan musim semi jenis ikan pipih, gurita cakar pendek dan lain-lain juga berkurang.

Penangkapan Liar Kapal Nelayan RRT Ancam Sumber Daya Maritim Dunia

Tidak adanya populasi ikan di pesisir laut RRT sudah menjadi fakta, terutama adalah akibat “penangkapan yang bersifat destruktif” yang dilakukan. Cara kerja nelayan RRT acap kali dengan “memburu ikan”, dimana ada ikan di situ mereka akan menangkap, hanya dalam beberapa hari ikan sudah ludes ditangkap. Berbagai jenis peralatan nelayan yang digunakan seperti pukat harimau, pukat bius, dan pukat elektrik yang “memunahkan” terus dikerahkan.

Beberapa tahun terakhir, nelayan RRT yang telah kehabisan tangkapan merambah “dunia”, penangkapan ilegal pun kerap terjadi dan sering menjadi kecaman masyarakat internasional. Pernah terjadi nelayan RRT menikam mati polisi laut Korsel, dan polisi laut Korsel memukul nelayan RRT dan lain-lain, belum lama ini juga terjadi polisi laut Argentina menenggelamkan kapal nelayan RRT, serangan dari kapal bersenjata Indonesia terhadap kapal nelayan RRT, insiden kapal perang RRT merampas kembali kapal nelayan yang sudah ditangkap polisi maritim Indonesia, serta pengawal pantai Vietnam mengejar kapal nelayan RRT. Penangkapan ilegal kapal nelayan RRT di Amerika Selatan dan Afrika Barat juga disoroti dunia.

Analisa menyebutkan, rajungan bunga di Laut Kuning telah nyaris punah, lonceng tanda bahaya telah berbunyi. Praktek penangkapan ilegal oleh nelayan RRT tidak hanya menguras habis sumber daya perikanan di Tiongkok sendiri, kini industri perikanan laut dunia juga semakin terancam karenanya. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular