Oleh CNA Rio de Janeiro

Brazil berjanji akan membuat Olimpiade Musim Panas 2016 yang diselenggarakan di Rio de Janeiro berlangsung meriah. Tetapi tuan rumah sekarang masih harus menghadapi masalah serius di bidang politik dan ekonomi, sedangkan jarak waktu dari acara akbar itu kini tinggal 100 hari.

AFP melaporkan bahwa sebanyak 15.000 orang atlet pilihan dari 206 negara dan sekitar 450.000 orang wisatawan mancanegara diperkirakan dalam waktu dekat akan datang untuk bertanding dan menonton, sekaligus memanfaatkan kesempatan untuk menikmati pemandangan alam Brazil yang indah.

Pejabat berwenang mengatakan bahwa 98 % fasilitas untuk pertandingan sudah siap dipakai. Presiden IOC Thomas Bach juga telah memastikan bahwa Olimpiade ini akan sangat menarik.

Namun, bagi panitia yang baru untuk pertama kalinya menyelenggarakan pesta olahraga musim panas di Amerika Latin, sejak awal persiapan sudah harus dihadapkan pada berbagai kekacauan di dalam negeri sehingga timbul sangsi apakah persiapan bisa berjalan lancar.

Pejabat mengungkapkan bahwa 11 orang petugas telah mengalami kecelakaan kerja dan tewas di lokasi konstruksi Olimpiade. Angka itu lebih tinggi dibandingkan dengan 8 orang korban tewas selama pembangunan stadion untuk Piala Dunia Sepakbola 2014 lalu.

Sementara itu, Presiden Brazil Dilma Rousseff sedang menghadapi impeachment dan krisis politik.

Sebagaimana kebiasaan IOC, kepala negara tuan rumah akan memperoleh kehormatan untuk meresmikan pembukaan Olimpiade. Namun, bila mana Dilma Rousseff nanti berhalangan datang di stadion Maracana pada 5 Agustus karena impeachment, maka Wakil Presiden Michel Temer yang akan menggantikannya.

Padahal wapres sendiri juga menghadapi kemungkinan terkena impeachment. Hal ini menunjukkan bahwa negara terbesar di Amerika Latin itu sedang berada dalam situasi tidak stabil. Selain itu, para pemrotes jalanan juga sewaktu-waktu bisa menjadi ancaman keamanan.

Ditambah lagi dengan tingkat kejahatan yang tinggi, penyebaran virus Zika dan krisis ekonomi. Sebagian orang mulai bertanya-tanya apakah warga Brazil sendiri masih berkeinginan untuk menyaksikan pertunjukan besar  yang menelan biaya sampai USD. 11 miliar.

Krisis ekonomi Brazil terjadi kian menajam. Tingkat pengangguran kini sudah melonjak menjadi 10.2 %, dan lembaga pemeringkat kredit dunia masih belum bersedia merevisi peringkat Brazil dari kelas sampah.

Ketatnya anggaran pemerintahan Rio de Janeiro sampai membuat mereka tidak mampu membayar gaji para pegawai negeri tepat waktu, termasuk banyak staf medis.

Panitia penyelenggara juga terpaksa melakukan pemangkasan anggaran, dari tinta printer hingga bangku di lapangan penonton lomba dayung semua terkena ‘pemotongan.’

Meskipun pejabat tetap  bersikeras untuk mengatakan bahwa tidak ada acara pertandingan yang dibatalkan, namun batas waktu penyelesaian proyek menjadi sangat ketat. Sebuah trem listrik dari selatan Rio de Janeiro menuju Barra da Tijuca tempat berkumpulnya para atlit menjadi angkutan penting tetapi baru bisa dioperasikan pada 1 Juli atau 5 minggu menjelang pembukaan Olimpiade.

Minggu lalu ada sebuah jalur baru yang dibangun untuk para pengguna sepeda tiba-tiba runtuh ke dalam laut dan menyebabkan 2 orang tewas. Inilah salah satu asset infrastruktur yang nantinya bakal menjadi milik rakyat Brazil seusai Olimpiade.

Para atlit dan wisatawan mungkin saja tidak akan memperhatikan masalah pergolakan politik dan ekonomi Brazil. Tetapi mereka diberitahu untuk berhati-hati dengan nyamuk virus Zika. Selain melakukan fogging untuk gedung-gedung di tempat pertandingan, otoritas juga berharap dengan nyamuk biasanya akan berkurang pada Agustus. Mudah-mudahan adegan kurang enak dilihat mata dunia itu tidak terjadi.

Rata-rata setiap hari ada 4 orang mati terbunuh di kota Rio de Janeiro. Memang kekerasan dan kriminalitas kota itu masih tinggi dan menjadi kakhawatiran utama bagi siapa saja. Otoritas Rio de Janeiro akan mengerahkan total 85.000 orang personil polisi bersenjata untuk mengekang kekerasan dan mengamankan pesta olahraga musim panas 2016.

Sayangnya pasukan keamanan Brazil belum memiliki pengalaman tangan pertama dalam menanggulangi ancaman terorisme. Ini juga akan menambah kekhawatiran semua pihak bila saja potensi itu muncul. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular