Oleh: Cao Changqing

Alasan ke empat penentang hukuman mati adalah: hidup manusia itu hanya satu kali, bila sampai terjadi kekeliruan keputusan, maka kerugiannya tidak tergantikan. Boleh dibilang, dari semua alasan menentang hukuman mati, hanya satu alasan ini yang dapat bertahan, juga merupakan alasan yang paling dapat meyakinkan para penentang hukuman mati. Namun situasinya sekarang adalah, dengan munculnya berbagai teknologi baru seperti pengujian DNA dan lain-lain, kemungkinan terjadinya salah vonis dalam negara hukum yang sehat sudah sangat kecil sekali.

Seperti di Amerika Serikat, sejak 1976 Supreme Court memutuskan untuk memulihkan hukuman mati. Pada 1972 Supreme Court pernah memutuskan hukuman mati sebagai melanggar undang-undang. Sampai sekarang sudah hampir 40 tahun, hanya 75 orang yang divonis hukuman mati oleh Pengadilan Federal, di antaranya hanya 3 orang yang dieksekusi. Teroris Boston Marathon bombings divonis mati dan apabila dieksekusi, merupakan kasus pertama (Federal Court) sejak 2001 setelah Teror WTC 911. Yang dieksekusi sebelumnya adalah Timothy McVeigh pelaku peledakan Federal Building di Oklahoma yang menelan korban 169 orang tewas dan 680 orang terluka.

Di AS, waktu rata-rata untuk naik banding (memeriksa dan memutuskan ulang perkara dan lain-lain) mencapai 20 tahun lamanya! Menunjukkan AS sangat berhati-hati sampai ke taraf yang hampir-hampir tidak diperlukan dalam hal hukuman mati. Kehidupan tentu saja adalah amat berharga, namun bila bertindak ekstrim sampai misalnya menolak makan karena kuatir tersedak, sama halnya dengan penghapusan hukuman mati, tentu akan menyebabkan para kriminal tak ragu untuk membunuh orang karena tidak lagi khawatir ancaman hukuman mati. AS dewasa ini melakukan yang dapat disebut sebagai contoh/teladan: Tidak menghapus hukuman mati, namun sangat ketat dan teliti dalam melaksanakannya.

Seperti halnya kasus pemenggalan kepala gadis cilik yang menhebohkan di Taiwan kali ini, tentunya sama sekali tidak memerlukan pemeriksaan DNA, karena terjadi di siang hari bolong, ibu gadis cilik tersebut juga berada di TKP, dan disaksikan juga oleh orang-orang yang lalu-lalang, buktinya sudah sangat meyakinkan. Andaikan Taiwan meniadakan hukuman mati, pembunuh (pengguna narkoba) yang sadis itu, akan terhindar dari kematian, lalu dimanakah letak keadilan hukum? Dimana pula letak perikemanusiaan?

Alasan kelima penentang hukuman mati adalah: Penghapusan hukuman mati merupakan trend dunia.  PBB terdiri dari 193 negara anggota, sudah ada 97 negara yang menghapus hukuman mati secara keseluruhan (58 negara masih tetap mempertahankan hukuman mati). Sesungguhnya istilah “trend dunia” juga kurang tepat. Dilihat dari negara-negara Barat utama yang menghapus hukuman mati seperti Inggris, Perancis, Jerman, Kanada dan lain-lain, hanyalah merupakan hasil perombakan hukum secara paksa di dalam ideologi politik dari oknum-oknum yang condong ke kiri (termasuk para hakim, media massa, politikus), dan bukanlah kehendak arus utama rakyat.

Sebagai contoh, Kanada pada 1976 sudah menghapus hukuman mati, namun pada 2012 opini publik (yang dikumpulkan oleh Toronto Sing Tao Daily dan lain-lain) menunjukkan bahwa 40 tahun setelah dihapuskannya hukuman mati, 61% dari rakyat Kanada beranggapan, orang yang divonis sebagai pembunuh hendaknya dihukum mati.

Di Inggris, opini publik pada 2011 (dilakukan oleh Angus Reid) menunjukkan, 65% masyarakat Inggris mendukung dipulihkannya hukuman mati bagi pembunuh (28% menentang). Persentase kaum pria dengan usia di atas 35 tahun lebih condong untuk memulihkan hukuman mati.

Perancis  yang merupakan salah satu negara berhaluan paling kiri di Eropa, sejak 1981 sudah menghapuskan hukuman mati. Adalah presiden Francois Mitterand pada waktu itu dan Robert Badinter Kepala Departemen Kehakiman yang berhaluan lebih kiri berdasarkan apa yang disebut “keyakinan filosofi” menghapuskannya secara paksa (kemudian diamandemen ke dalam undang-undang Perancis), sama sekali bukan maksud masyarakat arus utama.

Sampai sekarang di Perancis masih ada 42% orang yang mendukung dipulihkannya hukuman mati (52% menentang), pasca serangan teror “Mingguan Charlie Hebdo” Paris dan pembantaian Paris,  seruan orang Perancis yang mendukung hukuman mati semakin meningkat, pemimpin haluan kanan juga secara terbuka menyerukan untuk memulihkan hukuman mati.

AS yang berdiri di garis depan utama konservatisme negara-negara Barat, kehendak rakyat arus utamanya terus mendukung hukuman mati. Pada 1994 mencapai puncaknya, 80% rakyat mendukung hukuman mati. Setelahnya sekalipun gerakan menentang hukuman mati terus meningkat, namun opini publik pada 2011 yang dilakukan Gallup adalah masyarakat AS yang menentang hukuman mati hanya 35%.

Mendiang Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher pernah dengan jitu menunjukkan, “Malapetaka umat manusia semuanya datang dari benua Eropa.” Komunisme diekspor oleh Rusia, dua kali perang dunia digerakkan oleh Jerman, guillotine (alat pemotong leher) dimulai dari Perancis. Utopia dan filsafat kekerasan itu telah membuat sengsara dunia. Kini, roh haluan kiri yang ingin menghapuskan hukuman mati juga bergentayangan dulu di negara-negara Eropa. Namun di negara-negara Asia, rasionalitas dan kewajaran masih lebih unggul, kebanyakan rakyat di Asia kurang berminat terhadap penghapusan hukuman mati yang diusung oleh kaum kiri Eropa.

Meskipun lebih dari separuh negara di PBB telah menghapus hukuman mati, namun perlu diketahui bahwa dewasa ini negara yang mempertahankan hukuman mati menduduki 65% dari populasi seluruh dunia, mendekati 2/3! George Gallup yang melakukan studi opini publik sedunia menunjukkan, lebih dari separuh orang yang diwawancarai setuju hukuman mati bagi pembunuh.

Pandangan Robert Blecker seorang ilmuwan AS terkenal dan profesor di fakultas hukum New York yang mengadakan riset terhadap masalah hukuman mati sangatlah mewakili, ia menunjukkan, terhadap penjahat besar yang berniat membunuh rakyat jelata secara massal (misalnya Timothy McVeigh yang meledakkan Alfred P. Murrah Federal Building di Oklahoma dan Dzhokhar Tsarnayev pada kasus peledakan di Boston dan lain-lain) haruslah dihukum mati. Tingkat penderitaan hukuman bagi mereka hendaknya sepadan dengan kejahatan yang dilakukan mereka, kata-katanya yang lebih tepat adalah: Membiarkan penjahat yang melakukan kejahatan teror seperti ini tetap hidup adalah tidak adil!

Keterangan foto: “Terhadap penjahat besar yang berniat membunuh rakyat jelata secara massal haruslah dihukum mati. Tingkat penderitaan hukuman bagi mereka hendaknya sepadan dengan kejahatan yang dilakukan mereka”, demikian pernyataan Robert Blaker, ilmuwan terkenal dan professor Fakultas Hukum New York AS.
Keterangan foto: “Terhadap penjahat besar yang berniat membunuh rakyat jelata secara massal haruslah dihukum mati. Tingkat penderitaan hukuman bagi mereka hendaknya sepadan dengan kejahatan yang dilakukan mereka”, demikian pernyataan Robert Blaker, ilmuwan terkenal dan professor Fakultas Hukum New York AS.

Kata-kata Profesor Blecker ini bersumber pada kebijaksanaan para leluhur. John Locke filsuf Inggris abad 17 yang paling menekankan hak-hak pribadi dan meletakkan dasar demokrasi konstitusional pada masa itu sudah menyatakan, “Pembunuh yang mencabut nyawa orang tidak dapat menghidupkan lagi sang korban, itu sebabnya hukuman mati itu sudah sesuai dengan hukum alam.”

Immanuel Kant filsuf Jerman juga mempunyai pandangan serupa. Sedangkan semua hukum umat manusia berasal dari deduksi dan perpanjangan dari hukum alam. Yang dimaksud dengan hukum alam sebenarnya adalah hukum pengetahuan dasar dan hukum kelayakan umum. Pada kasus sidang kriminalitas di Amerika selalu diputuskan bersama dengan 12 orang biasa tanpa latar belakang pendidikan khusus bidang hukum yang duduk dalam dewan juri, maksudnya adalah mempercayai pertimbangan pengetahuan umum dasar (kelayakan umum) orang-orang kebanyakan, dan bukanlah pada seorang hakim profesional.

Itu sebabnya penghapusan hukuman mati adalah bertentangan dengan kelayakan umum dan pengetahuan umum dasar manusia, bertentangan dengan sifat manusia dan perikemanusiaan, hakekatnya adalah kebaikan yang palsu. Sedangkan segala malapetaka di dunia, semua dimulai dari “kepalsuan.” (pur/whs/rmat)

TAMAT

Share

Video Popular