Oleh: Huang Xiao Yu

Dalam beberapa tahun terakhir ini, para astronom telah menemukan fenomena yang sulit dipercaya di luar angkasa, misalnya gelombang gravitasi, keberadaan air di Mars dan sebagainya. Namun, dibandingkan dengan alam semesta yang maha luas, ruang-angkasa yang dieksplorasi astronom saat ini masih terlalu kecil, karena masih terlalu banyak misteri yang belum terpecahkan hingga detik ini.

Misteri astronomi terbesar yang belum terpecahkan sekarang terkait dengan sumber materi gelap, anti materi, sinar kosmik dan sumber lainnya. Dengan menelusuri salah satu di antaranya itu tidak mustahil akan mengubah teori dasar alam semesta sekarang, demikian dilansir dari Business Insider, Jumat, 29 April 2016.

Materi tampak hanya menduduki 5% di alam semesta

Sejauh ini, para astronom mengetahui bahwa meskipun bintang, galaksi atau materi lain yang telah diamati itu sangat besar jumlahnya, misalnya galaksi yang jumlahnya miliaran, namun, materi-materi ini hanya menduduki 5% dari segenap alam semesta, sementara 95% sisanya adalah materi gelap dan energi gelap.

Energi gelap dan materi gelap disini mengacu pada materi yang tidak bisa dilihat secara langsung oleh ilmuwan meski dengan cara apapun, tetapi dapat diperkirakan. Bayangkan, perbandingan antara 5% dan 95% itu hampir bisa diabaikan, artinya materi alam semesta yang dapat diamati astronom itu nyaris nol.

Coba kita renungkan dari sudut pandang lain, karena sebagian besar materi dan energi yang membentuk alam semesta itu mutlak tidak dapat diamati, jadi bukankah ini berarti kita hampir tidak tahu apa sebenarnya alam semesta itu?

Keterangan gambar: Ada banyak materi gelap dan energi gelap misterius di alam semesta.(NASA)
Keterangan gambar: Ada banyak materi gelap dan energi gelap misterius di alam semesta.(NASA)

Mengapa materi normal jauh lebih banyak dari anti-materi?

Secara ilmu fisika dan berdasarkan sifat dari mikrokospis, partikel dasar yang membentuk materi itu dapat dibagi menjadi dua substansi yang sepenuhnya berlawanan, yakni substansi positif (materi) dan anti materi.

Pertemuan materi dan anti materi akan membuat energi sepenuhnya berubah menjadi foton dan kehilangan sifatnya, fenomena ini disebut anihilisasi. Jika materi dan anti materi di alam semesta itu bertemu, maka alam semesta ini juga tidak akan eksis.

Meskipun tidak terjadi anihilisasi (pemusnahan), namun, yang membingungkan para ilmuwan adalah, mengapa materi normal di alam semesta itu jauh lebih banyak dari anti materi. yang membingungkan bahwa alam semesta materi positif jauh lebih dari anti materi.

The European Organization for Nuclear Research (CERN) (Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir) di Swiss yang disebut Large Hadron Collider (LHC) mengatakan, “Ini adalah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi fisika, perlu mancari tahu apa yang terjadi dengan anti materi, atau mengapa alam semesta terbentuk dari materi dan anti materi yang tidak simetris.

 Keterangan gambar: Menurut teori “Big Bang”, jumlah materi dan antimateri itu setara sejak awal pembentukan alam semesta. (NASA)

Keterangan gambar: Menurut teori “Big Bang”, jumlah materi dan anti materi itu setara sejak awal pembentukan alam semesta. (NASA)

Sumber sinar kosmik

Para ilmuwan mendapati, bahwa planet kita terus menerus diterjang sinar kosmik energi tinggi dari luar angkasa, namun, sejauh ini tidak ada yang tahu dari mana asal mereka. Sementara itu, dari pusat CERN mengatakan, dapat disimpulkan sinar kosmik energi terendah berasal dari arus partikel bermuatan listrik, yang disebut angin matahari.

“Tapi sumber partikel energi tinggi itu sulit dipastikan, karena orbiter mereka mengalami distorsi dan berotasi ketika menerobos medan magnet di ruang antar bintang,” katanya.

Para ilmuwan tidak dapat menjelaskan secara spesifik tentang apa yang terjadi dengan sinar-sinar kosmik energi tinggi yang meliputi sinar gamma, sinar-X, sinar ultraviolet dan semacamnya itu ketika menembus ruang galaksi raksasa di luar angkasa.

Fast radio bursts (Semburan gelombang radio cepat)

Pada 2007 lalu, ilmuwan menemukan “semburan gelombang radio cepat” menggunakan teleskop radio Parkes yang berlokasi di New South Wales, Australia. Sejak itu, komunitas astronomi di belahan dunia secara total telah mendeteksi 16 kali sinyal gelombang radio yang kuat ini.

“Semburan gelombang radio cepat” merupakan suatu sinyal kuat dengan ciri penyebaran yang teratur, setiap semburan gelombang radio itu masing-masing setara dengan satu bulan energi radiasi matahari. Namun, yang paling membingungkan astronom, durasi keberlangsungan dari semburan gelombang radio cepat yang dianalisis secara matematika itu rata-rata adalah kelipatan dari 187.5.

“Dan penyebaran yang beraturan ini sulit dijelaskan dengan teori apapun yanga ada sekarang,” kata ilmuwan Jerman. (Epochtimes/joni/rmat)

Share

Video Popular