Oleh Yan Zhaowei

Korea Utara telah menyelenggarakan Kongres Keenam Partai Buruh pada 10 Oktober 1980, dan rencananya kongres yang ketujuh akan diadakan pada bulan ini. Dalam bayangan, suasana kegembiraan pasti ada di mana-mana di seluruh negeri tertutup itu untuk menyambut event besar Partai Buruh yang baru diadakan lagi setelah 35 tahun berselang.

Media Yonhap mengutip ucapan dari sumber Korut memberitakan bahwa jalan-jalan di ibukota Pyongyang sudah tidak bebas untuk berlalu lalangnya masyarakat umum. Selain perlu ada ijin khusus untuk masuk ke ibukota. Masyarakat juga tidak diperkenankan untuk menyelenggarakan upacara pernikahan maupun pemakaman. Otoritas berupaya untuk menekan frekuensi mobilitas penduduk dengan berbagai cara seperti melarang adanya perjalanan wisata, diperlukan surat untuk melengkapi suatu perjalanan, dianjurkan untuk tetap tinggal dalam rumah dan seterusnya.

Seorang sumber lain menuturkan bahwa pos-pos penjagaan dibangun di jalanan dengan jarak sekitar 500 meter untuk mengawasi dan memeriksa kendaraan dan pejalan kaki yang lewat. Membuat kesulitan bagi masyarakat yang harus keluar rumah untuk mencari nafkah. Selain kontrol lalu lintas yang cukup ketat, departemen keamanan juga memantau keadaan absensi dari para karyawan perusahaan atau pabrik. Bagi mereka yang datang terlambat masuk kerja, pulang lebih awal atau tidak masuk kerja diwajibkan untuk membuat laporan tertulis dan diserahkan kepada departemen.

Sumber tersebut mengatakan, setelah pihak berwenang Korut mengumumkan “Pekan Pengamanan Khusus” kota Pyongyang dan daerah perbatasan pada dasarnya sudah terblokir dengan dunia luar. Petugas Catatan Sipil selain setiap hari mengunjungi rumah semua warga untuk mencocokan jumlah warga dalam rumah dengan kartu keluarga, juga memerintahkan warga yang masih dalan perjalanan untuk segera kembali ke tempat asalnya. Bagi mereka yang tidak mematuhi instruksi atau coba melanggar tata tertib khusus dari Departemen Keamanan ini, akan dikenakan hukuman berat.

Sekali kongres nasional diselenggarakan, pemerintah Korut mesti mengeluarkan begitu banyak larangan  yang mengorbankan kepentingan masyarakatnya, sungguh jarang terjadi dan terasa aneh. Jadi, mengapa rezim Korut sampai hampir memblokir kota Pyongyang untuk menyambut kongres tersebut? Jawaban singkatnya adalah demi alasan keamanan.

Lembaga Korut yang berkaitan dengan urusan propaganda sejak lama menciptakan kesan sebagai  negara yang paling kuat di dunia dan merupakan surga bagi rakyat Korut. Meskipun cukup ironis kalau surga masih perlu dipagari oleh pos-pos penjagaan berjarak 500 meter dengan petugas bersenjata yang selalu waspada untuk memantau setiap warganya ataupun kendaraan yang lewat. Di satu sisi mereka berusaha menciptakan kesan kuat, tetapi dalam kenyataan mereka menunjukkan diri seakan adalah seekor macan yang bergigi ompong.

Sebenarnya Pyongyang sangat sering ditutup untuk umum. Contohnya tahun baru 1 Januari, Hari Kelahiran Kim Jong-il (16 Februari), Hari Kelahiran Kim Ilsung (15 April), Hari Kemerdekaan Korut (9 September), Hari Berdirinya Partai Buruh (10 Oktober), belum termasuk bila ada event-event khusus lainnya.

Tahun ini lebih khusus lagi, hari memperingati “Pertempuran 70 hari” yang diselenggarakan pada Februari itu saja ditetapkan sebagai “Pekan Pengamanan Khusus” dan memberlakukan jam malam setelah pukul 22.00.

Walau kegiatan rakyat banyak terganggu oleh penyelenggaraan kongres, namun rakyat Korut masih diwajibkan untuk menyumbang dana setiap rumah USD. 100,- . Untuk keluarga kaya dikenakan USD. 300,- lalu diserahkan kepada panitia kongres yang akan digunakan sebagai penghargaan kepada anggota partai yang berprestasi. Entah masih berapa lama rezim ini mampu bertahan? (sinatra/rmat)

Share

Video Popular