Oleh: Tang Rui

Penelitian terbaru dari National Aeronautics and Space Administration (NASA) mengatakan, bahwa pada masa permulaan, tata surya kita pernah memiliki setidaknya satu Bumi Super, yang ukurannya jauh lebih besar dari Bumi, terletak di antara Merkurius dan Matahari. Namun, karena radius orbitalnya sangat pendek, dan mengorbit terlalu dekat Matahari, hingga akhirnya ditelan matahari.

Hingga saat ini, teleskop Kepler milik NASA telah menemukan sejumlah besar bumi super di exoplanets, tapi belum pernah menemukan planet serupa di tata surya, sehingga hal ini cukup membingungkan para ilmuwan. Hal itu mendorong mereka untuk mencari tahu mengapa Tata Surya kita saat ini tidak memiliki Super-Earts/Bumi Super.

“Jika terdapat Bumi super di tata surya, maka besar kemungkinan ia akan berada di atas orbit antara Merkurius dan Matahari, radius orbitalnya sangat kecil, dengan kata lain, siklusnya juga sangat singkat. Selain itu, tata surya sebelumnya merupakan tempat yang sangat padat, dan jarak orbitnya juga lebih kecil daripada planet sekarang,” ujar Rebecca Martin, astrofisikawan dari Universitas Nevada, Amerika Serikat.

Menurut studi tersebut, bahwa diperlukan sejumlah besar debu, gas dan materi lain untuk membentuk sebuah Bumi Super, piring protoplanet membutuhkan kepadatan yang lebih tinggi. Dengan membandingkan hasil dari komputer, para ilmuwan juga menemukan bahwa sisi orbit di dalam tata surya memiliki kondisi lingkungan seperti itu.

Rebecca Martin dan rekannya mencoba mengerjakan simulai pada komputer untuk melihat seperti apa bentuk Super-Earths yang sebenarnya. Mereka menemukan dua kemungkinan, bahwa Super-Earths terbentuk sangat jauh dari bintang-nya (matahari) atau justru sangat dekat dengan pusat galaksi.

Sampai pada kesimpulan, tampaknya Super-Earths di Tata Surya kita terbentuk lebih dekat dengan pusat galaksi. Hal ini mungkin saja menjadi penyebab ruang antara orbit Merkurius dan Matahari terlihat kosong.

Sejauh ini, tidak ada cara untuk membuktikan atau menyangkal hipotesis tersebut, namun gagasan baru ini tetap dipandang layak dan menarik.

“Satu-satunya bukti fisik bahwa Super-Earths bisa terbentuk di tata surya kita adalah kurangnya materi tersebut di wilayah itu, termasuk planet berbatu,” kata Martin.

Jadi tampak sedikit masuk akal bahwa mereka pernah terbentuk di sana, menyapu semua bahan padat kemudian hilang dimangsa Matahari. Diharapkan penelitian yang akan datang mampu memperjelas semua ini.

Tata surya sudah 4,6 miliar tahun usianya, ini benar-benar sebuah angka yang fantastis. Para ilmuwan memperkirakan bahwa tata surya pernah memiliki sebuah Bumi Super tak lama setelah pembentukannya, namun, hal ini masih perlu penelitian lebih lanjut untuk membuktikannya.

Hipotesis dari penelitian terbaru itu dipublikasikan dalam “Journal Astrophysical.”

Beberapa pengguna internet mengatakan, bahwa alam semesta ini dipenuhi dengan misteri yang tak berujung, yang tidak akan mampu ditelusuri dengan ilmu pengetahuan manusia yang terbatas.  (ntdtv/joni/rmat)

 

 

Share

Video Popular