Oleh: dr. Rong (dr. PTT)

Mengapa gaya hidup orang dahulu membikin tubuh sehat? Orang dahulu menganjurkan “Memandang hambar keduniawian” dalam beraktivitas sehari-hari, selaras dengan hukum alam yakni mengikuti ritme Matahari, ketika terbit bekerja dan ketika terbenam mulai beristirahat.

Pertapa dari aliran Tao mengatakan: Tubuh manusia adalah alam semesta kecil. Ia berpadanan dengan materi dan energi alam jagad raya, mekanisme internalnya juga sangat mirip dengan alam semesta, sehingga orang zaman kuno mengatakan: Jika Anda dapat membentuk kesatuan tubuh yang harmonis dan menyatu dengan alam jagad raya, maka manusia dapat mencapai kesehatan prima dan panjang usia.

Misalnya dalam sistem meridian: Ada 12 meridian di dalam tubuh manusia, dan mereka saling bertukar energi dengan alam semesta, bersamaan dengan itu juga terhubung dengan organ-organ dalam, dan setiap dua jam ada sebuah meridian yang berganti tugas, itu adalah saat-saat darah dan Qi (dibaca: chi, energi vital) meridian tersebut berada dalam kondisi puncak, juga momentum paling maksimal dalam memerankan kinerjanya.

Jika pada periode tersebut meridian yang sedang bertugas, terganggu dan tidak dapat memaksimalkan kinerjanya, itu akan memengaruhi fungsi organ tubuh dan merugikan bagi kesehatan. Sebagai contoh: Pada pukul 23: 00 – 1:00 adalah meridian kantung empedu yang bertugas, jika Anda tidak pergi ke tempat tidur beristirahat, kinerja meridian empedu akan terganggu, empedu tidak bisa memainkan performa terbaiknya.

Dalam PTT (Pengobatan Tradisional Tiongkok), kantung empedu berperan dalam mengambil keputusan. Fungsi kantung empedu tidak baik, maka orang akan menjadi lemah, ragunya kuat, suka melamun dan bermuram durja, sekresi empedu dan ekskresinya juga dapat terpengaruh, dan akan muncul kolesistitis (radang kantung empedu), batu empedu, disfungsi pencernaan, perut kembung, asam refluks dan bisul pada lambung.

Manusia zaman modern tidak memahami bagaimana hidup selaras dengan hukum alam semesta, itu sebabnya orang yang terkena “penyakit aneh” semakin lama semakin banyak, dan pengobatan modern pun kehabisan jurus menemukan penyebabnya. (Epochtimes/Ajg/Yant)

Share

Video Popular