Oleh: Hua Zi Ming

Untuk kali pertamanya, para astronom telah menemukan komet tak berekor, diharapkan komposisi komet itu dapat memberikan petunjuk tentang pembentukan dan evolusi tata surya.

Menurut ilmuwan, sebagian besar komet terbentuk dari material batu atau es, komet terbentuk dibawah pengaruh matahari. Komet tak berekor ini merupakan benda langit yang terdiri dari batu yang biasa di temukan di dekat Bumi, karena itu tidak ada ekor yang panjang-panjang yang umum ditemui.

Oleh para astronom, komet tak berekor itu dijuluki “Manx” (diambil dari ras kucing tak berekor), sedangkan untuk nama ilmiahnya adalah C / 2014 S3.

Biasanya komet-komet yang bergerak dari wilayah sama dengan Manx mengembangkan ekor terangnya begitu mendekati matahari, namun C/2014 S3 malah gelap dan secara virtual tidak memiliki ekor ketika dipergoki dua kali dari jarak matahari ke Bumi.

Astronom menemukan “Manx” yang memasuki tata surya dari arah Oort Cloud yang jauh pada 2014 menggunakan Teleskop Survei Panorama dan Sistem Respons Cepat atau Pan-STARRS. Diperkirakan arah itu merupakan tempat kelahirannya. Selain itu, perhitungan astronomi menyimpulkan komet tak berekor manx mengelilingi matahari dengan periode setiap 860 tahun, demikian dilansir dari laman Discovery, Jumat, 29 April 2016.

Keterangan foto: Ilustrasi orbit komet tak berekor (titik hijau paling bawah adalah Pluto)(NASA JPL)
Keterangan foto: Ilustrasi orbit komet tak berekor (titik hijau paling bawah adalah Pluto)(NASA JPL)

“Ini merupakan temuan pertama kalinya batuan (benda angkasa) yang melesat dari oort cloud (awan komet berbentuk bulat). Oort cloud adalah gumpalan awan dengan skala ekstrim besar yang terletak di dalam tata surya, tepatnya di daerah yang berada dalam jarak antara Pluto dan sabuk Kuiper. Ada pun yang yang dimaksud dengan inner solar system itu meliputi Matahari, Merkurius, Venus, Bumi dan ruang Mars di sekitar Matahari. Sementara outer solar system yang berlawanan dengannya adalah ruang dari Jupiter di luar dari tata surya, yang meliputi Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus dan Pluto,” kata Karen Meech, astronom dari Universitas Hawaii, Amerika Serikat.

“Penemuan komet Manx bisa membantu ilmuwan untuk memperbaiki model komputer yang digunakan untuk mensimulasikan formasi sistem tata surya,” tambah Meech.

Laporan terkait menyebutkan, para ilmuwan berharap bisa menemukan lebih banyak “manx,” misalnya antara 50 sampai 100 komet sejenis, sehingga dengan demikian baru bisa lebih memahami sifat dari komet tak berekor. Sejauh ini, hasil  pengamatan Pan-STARRS menunjukkan bahwa komet “Manx” telah lama dalam keadaan beku.

“Kami ingin memastikan sesuai dengan kondisi/ hasil pengamatan, apakah benda langit ukuran besar dari komet tak berekor ini menari-nari di tata surya di awal pembentukannya, atau berkembang secara bertahap dengan tenang tanpa banyak bergerak,” ujar Olivier Hainaut astronom dari European Southern Observatory di Jerman.

Penelitian tersebut telah dipublikasikan di jurnal Science Advance. (Epochtimes/joni/rmat)

Share

Video Popular