Sebuah penelitian di Inggris menyebutkan, bahwa makanan yang mengandung terlalu banyak daging merah dan tidak diiringi dengan sayuran atau buah-buahan yang cukup, dapat mempercepat peningkatan usia fisiologis tubuh, dan memicu timbulnya masalah kesehatan.

Untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari daging merah itu terhadap usia fisologis seseorang, peneliti mengukur fosfat serum (mengacu pada konsentrasi dari fosfat anorganik dalam serum darah) dan DNA serta tanda usia fisiologisnya.

Dan dari hasil studi tersebut, peneliti menemukan bahwa makan daging merah dapat meningkatkan fosfat serum, dan apabila diiringi dengan pola makan yang buruk secara keseluruhan, akan membuat kenaikan usia fisiologis itu jauh lebih cepat dari usia yang sebenarnya.

Fosfat secara alami terdapat dalam ikan, daging, telur, produk susu, sayuran dan makanan lainnya, dapat mempertajam aroma dan kelembaban makanan. Namun penyerapan saluran cerna terhadap fosfat alami tidak terbatas, jadi apabila makan terlalu banyak fosfat dapat meningkatkan konsentrasi fosfat serum, hingga pada akhirnya akan berdampak buruk pada kesehatan.

WHO Memasukkan daging olahan sebagai karsinogen tingkat satu dan daging merah mengandung risiko karsinogenik

Organisasi Kesehatan Dunia memasukkan makanan sosis dan daging olahan lainnya itu sebagai “karsinogen tingkat satu” dengan risiko tertinggi, namun menurut para ahli, bahwa hal ini belum tentu akan mengubah kebiasaan pola makan masyarakat.

Bacon, sosis dan ham dapat menyebabkan karsinogen (zat-zat yang mampu mencetuskan dan memicu tumbuhnya kanker)! Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan makanan sejenis sosis dan daging olahan lainnya itu sebagai “karsinogen” dengan risiko tertinggi, setara dengan rokok, asbes dan arsen ; dengan mengonsumsi 50 gr per hari, maka risiko menderita kanker kolorektal akan meningkat hampir seperlima. Selain itu, daging merah segar seperti daging sapi, babi juga telah dimasukkan oleh WHO sebagai karsinogen tingkat satu.

Centre for Food Safety / Pusat Keamanan Makanan Pemerintahan Daerah Adminstratif Khusus Hongkong mengatakan, bahwa seiring dengan laporan penelitian terbaru yang dipublikasikan WHO, mereka akan memperkuat dan menggalakkan pendidikan terkait kepada publik. Sehubungan dengan ini, kalangan industri makanan Hongkong mengaku khawatir, pedoman baru ini akan membuat banyak restoran terpaksa harus mengubah menunya dan mengubah kebiasaan pola makan orang masyarakat Hongkong, sekaligus juga memukul bisnis importir makanan non pokok.

Daging olahan dikategorikan sebagai karsinogen tingkat tertinggi

The International Agency for Research on Cancer, IARC, lembaga riset kanker di bawah naungan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mengumumkan, bahwa makanan sejenis sosis dan daging olahan lainnya itu sebagai “karsinogen kategori satu” dengan risiko tertinggi, “setara” dengan rokok, asbes dan arsen.

Daging olahan yang dimaksud disini adalah makanan yang diasap, diawetkan/diasinkan, atau produk makanan berpengawet atau produk daging olahan secara kimiawi, seperti misalnya daging yang diasinkan, sosis, ham dan sejenisnya, karena dalam proses pengolahannya telah ditambahkan dengan bahan kimia, pengawet dan atau pewarna makanan (seperti nitrit), sehingga dikhawatirkan akan memicu timbulnya karsinogen. Selain itu, makanan yang dipanggang atau dibakar (barbekyu) dan diolah dengan suhu tinggi juga dapat menghasilkan karsinogenik (zat penyebab kanker). (Epochtimes/jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular