Oleh: Chen Pokong

Lapangan Tiananmen, lambang tembok pagar merah yang tinggi, secara permukaan tegak, kokoh dan tegas. Namun tembok ini miring, karena melambangkan kekuasaan yang miring, menopang teori kekuasaan yang miring pula. Tiananmen yang miring, melambangkan norma universal yang miring, logika yang terdistorsi, dan akal sehat yang terbalik.

Tiongkok, negara yang oleh netizen disindir sebagai “negara Tuan”, “negara Zhao”, “negara kuat”, hingga saat ini tetap dikuasai oleh sekelompok diktator, seperti sebidang lahan yang tercemar parah, negeri yang terdistorsi secara serius. Rezim yang disindir oleh netter sebagai “dinasti langit” atau “dinasti merah” itu, selama lebih dari setengah abad terus mendoktrin 1,3 milyar penduduknya dengan nilai-nilai bobrok dan konsep kontra-bijaksana serta pemikiran yang terdistorsi. Hingga saat ini masih terus diperburuk.

Partai komunis bisa saja memiliki teorinya sendiri, namun apakah kebohongan bisa disebut “teori tersendiri”? Seperti sejarah, selama ribuan tahun sejarah dinasti terdahulu ditulis oleh dinasti setelahnya, dengan rentang waktu tertentu akan relatif lebih objektif. Akan tetapi kelompok Partai Komunis Tiongkok/ PKT yang berjiwa kerdil bahkan tidak bisa membiarkan itu terjadi, bahkan untuk menulis sejarah dinasti sebelumnya pun tidak ada yang benar dan begitu hitam. Seolah selama dinasti merah masih berkuasa, hanya “matahari merah” yang bersinar “cerah”. Dan bagi PKT, “ilmu sejarah” adalah produk unggulan untuk memutar-balikkan fakta.

Mao Zedong mengatakan, revolusi komunisnya adalah “revolusi paham demokrasi baru”, untuk menyangkal revolusi Xinhai (Dr Sun Yat Sen) yang merupakan tonggak revolusi demokrasi, Mao Zedong mencemoohnya dengan istilah “revolusi paham demokrasi lama.” Akan tetapi “revolusi paham demokrasi baru” itu justru sama sekali tidak mengandung unsur demokrasi. Otoriter kembali bangkit, kediktatoran mencapai klimaksnya.

Rezim PKT pada tahun 1949-1966, menggalakkan kepemilikan publik, dan mendeklarasikannya sebagai “paham sosialisme,” akibatnya ekonomi hancur, kelaparan dimana-mana. Terpaksa, memperbolehkan lagi kepemilikan pribadi, kembali ke kapitalisme, namun mengijinkan konspirasi pengusaha dengan penguasa, transaksi kekuasaan dan uang, terciptalah paham kapitalisme yang berkroni. Bagaimana penjelasannya?

Deng Xiaoping berkelit, ini adalah “sosialisme dengan ciri khas Tiongkok”, “tidak membedakan kucing hitam dan kucing putih”.

Penelungkupan konsep, pembalikan teori, sensor informasi, dan kepungan kebohongan yang ada di mana-mana, telah mendistorsi pemahaman masyarakat terhadap Tiongkok. Pemutar-balikan kebenaran secara terang-terangan dan maling teriak maling adalah keahlian PKT. Patriot bisa berubah menjadi “pengkhianat”, seperti para tokoh yang mengkritik otokratis atau mendorong kemajuan di Tiongkok, akan dianggap sebagai “pengkhianat” oleh komunis dan para anteknya. Dan pengkhianat yang sesungguhnya justru berubah menjadi “patriot”, orang-orang yang mengkorupsi uang hasil jerih payah rakyat, menelan kekayaan negara, para pejabat yang memindahkan kekayaan berikut keluarga mereka ke luar negeri, justru menyatakan diri sebagai “patriot”, hanya karena mereka menyanyi lantang lagu-lagu “patriot” versi PKT.

Netter Tiongkok menyebut mereka sebagai “maling patriot”, dan menyindir Liang Hui (kedua rapat besar) PKT yakni “Rapat Kongres Rakyat” dan “Rapat Koordinasi Politik” yang digelar setiap tahunnya sebagai “Rapat Wali Murid AS-Eropa.”

Ketika partai komunis berkuasa, rakyat Tiongkok didoktrin total. Bagi yang menolak dicuci-otak akan dibinasakan. “Menyentuh sanubari terdalam”, “dengan ganas merobohkan ego dalam sekejap”, “melaksanakan revolusi hingga tuntas” dan lain sebagainya, adalah slogan-slogan ekstrim yang merefleksikan betapa gilanya ilmu cuci otak PKT. Hal yang seperti ini tak pernah ada dalam sejarah manusia sebelumnya.

“Perbudakan” dipropagandakan menjadi “pembebasan.” Ulah manusia dikatakan sebagai bencana alam. Dan kaum “sayap kiri” disebut sebagai “sayap kanan”, “tukang jagal” dirias menjadi “tokoh agung”. “Kesalahan” secara paksa dikatakan “kebenaran”, “kejahatan” diteladani sebagai “kemuliaan”. “Pengrusakan” diperindah menjadi “revolusi”, “hasil jarahan” disebut sebagai “reformasi”. “Pelonggaran” didefinisikan sebagai “kemurahan hati”, “kiamat” dipoles menjadi “kejayaan”. “Ekspansi” berdalih “membela hak”, “provokasi” disamarkan menjadi “membela diri.”

Kosa kata berantakan, teori yang keluar dari jalur, dan logika yang luar biasa. “Kebohongan yang diulang seribu kali akan menjadi fakta.” Oleh karena itu, menghadapi kebohongan adalah hal biasa bagi mayoritas warga Tiongkok, menghadapi dusta, banyak orang Tiongkok sudah tidak merasa heran lagi. Hingga akhirnya, benar dan salah, hitam dan putih, sudah tidak bisa dibedakan lagi, memutar balik fakta membuat Tiongkok kehilangan kemampuan introspeksi diri. Terisolasi dari kebenaran dan pemahaman umum, dan terbelakang menjadi “cacat otak”. Dengan seperangkat teknik cuci otak yang canggih, Tiongkok merosot menjadi sebuah pusat anti peradaban, sebuah black hole (pusaran hitam) raksasa.

Hingga sekarang, masih banyak warga Tiongkok yang tidak mengenali kejahatan, tidak menganggap kejahatan sebagai kejahatan. Anda katakan Tiongkok tidak demokratis, mereka tidak peduli: apakah demokrasi bernilai? Bisa dijadikan makanan pokok? Anda katakan PKT menginjak HAM, mereka juga tidak peduli: tidak memenjara dan tidak membunuh, masihkah bisa disebut penguasa? Anda katakan PKT korup, mereka pun tidak peduli: jika sudah menjadi pejabat, kenapa tidak menikmatinya?

Sejarah dimanipulasi, buku pelajaran dipenuhi dusta, berita direkayasa, informasi disensor, kata-kata dipilah dengan hati-hati. Sutradara di belakang layar maupun pemain di panggung, seolah pada bisa duduk dengan tenang meski ada krisis, pura-pura bersikap dan berkata adil, berekspresi seolah memegang kebenaran, menunjukkan penampilan yang mewah. Sehingga, banyak orang terhanyut dengan penampilan yang terlihat benar itu.

Tidak hanya rakyat Tiongkok yang tertipu, orang asing pun salah kaprah. Orang asing selalu mengira “partai komunis telah menghidupi sebanyak 1,3 milyar jiwa” (yang benar adalah 1,3 milyar rakyat Tiongkok yang telah menghidupi partai komunis), “perbedaan terbesar antara AS dan RRT adalah perbedaan kebijaksanaan para pemimpinnya, para pemimpin RRT lebih bijaksana” (tapi merupakan ‘kebijaksanaan’ yang sesat), “penduduk RRT terlalu banyak, tidak cocok diterapkan demokrasi” (sesungguhnya telah terjebak propaganda yang hanya untuk mengelabui).

Oleh karena itu, harus kembali pada akal sehat. Apa yang dimaksud akal sehat? Bulat adalah bulat, persegi adalah persegi, itulah akal sehat. Yang bulat dikatakan persegi, atau yang persegi dikatakan bulat, itu adalah memutar balikkan akal sehat. Hitam adalah hitam, putih adalah putih, itu juga akal sehat. Hal yang hitam dikatakan putih, atau yang putih dikatakan hitam, itu juga memutar balikkan akal sehat.

Artikel berjudul “Seratus Akal Sehat Tentang Tiongkok” dari penulis (sebagai lampiran untuk buku baru berjudul “Lapangan Tiananmen Yang Miring”). Sebenarnya akal sehat yang telah didistorsi oleh PKT tidak hanya seratus. Seribu, sepuluh ribu, bahkan seratus ribu pun lebih. Hanya saja, terbatas pada rubrik artikel ini, yang akan diulas disini hanya yang penting-penting saja. Mengembalikan akal sehat, menolak cuci otak.

Partai komunis berikut perpanjangannya, mereka menyebut para kritikus dan komentator sebagai “kaum pendobrak dinding”, yang artinya mengakui, ini adalah sebuah negara yang dikelilingi oleh dinding pembatas yang tertutup. Dinding ini, disebut juga tembok merah, atau tembok tinggi, atau Tembok Berlin. Di Eropa, Tembok Berlin yang riel telah dirubuhkan, sementara di Tiongkok, Tembok Berlin yang eksis secara virtual di internet masih cukup kokoh. Sama-sama dibuat dari logam, sama-sama memblokir kebebasan, sama-sama terlihat begitu kokoh tak tergoyahkan.

Ini adalah zaman internet, juga suatu era kecepatan. Bongkar kebohongan, hancurkan ilmu cuci otak, inilah misi penulis. Pekerjaan yang kecil ini, diharapkan bisa menambah kekuatan bagi sekelompok orang yang berupaya merubuhkan tembok ini. Robohkan tembok merah! (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular