Erabaru.net. Selama ini, jumlah jam tidur disinyalir erat kaitannya dengan peningkatan atau penurunan berat badan seseorang, karena sering tidur larut malam atau bahkan begadang, sehingga membuat metabolisme menjadi buruk dan perlahan-lahan memicu peningkatan berat badan, selain itu, para ilmuwan juga menemukan bahwa begadang sampai larut malam, akan membuat otak melepaskan pesan yang sulit dikendalikan untuk mengosumsi makanan tinggi kalori, sehingga membuat orang itu semakin gemuk.

Begadang memicu orang ingin konsumsi makanan sampah (junk food)

Ketika Anda sedang beraktivitas atau bersenang-senang (rekreasi) sepanjang hari, hampir bisa dipastikan akan dikelilingi oleh makanan seperti keripik kentang atau semacamnya, kentang goreng, pizza, ayam goreng dan sebagainya.

Perlu diketahui, ini merupakan makanan tinggi lemak, berminyak dan tinggi kalori. Studi terkait menemukan bahwa kurang tidur dapat meningkatkan sinyal kimia 2-AG dalam darah, yang memicu nafsu makan ekstrim, dan kenikmatan yang dirasakan akan semakin kuat saat makan, hingga akhirnya menyebabkan obesitas.

Kemampuan manusia untuk menahan hasrat atau dorongan untuk makan sesuatu itu akan terganggu karena kurang tidur.

Aktivitas otak yang terekam melalui tomography menunjukkan, bahwa mereka yang suka begadang atau sering tidur larut malam, aktivitas prefrontal (bagian otak yang terletak di bagian depan) dan insula akan menurun, yakni kemampuan kontrol diri dan penilaian atas makanan itu akan berkurang, sebaliknya aktivitas Amygdala yang berhubungan dengan emosi akan meningkat, yaitu nafsu makan atau hasrat ingin makan sesuatu meningkat tajam. Hal ini menjelaskan mengapa orang-orang yang suka begadang itu tidak dapat menahan nalarnya, hingga tanpa sadar melahap semakin banyak makanan, demikian temuan tim peneliti dari Universitas California, Berkeley, Amerika Serikat.

Kurang tidur rentan menyebabkan obesitas dan gangguan (masalah) kesehatan

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) atau Pusat Kendali dan Pencegahan Penyakit Amerika mengatakan, bahwa sebanyak 2/3 penduduk Amerika Serikat punya masalah kelebihan berat badan dan obesitas.

Dan lebih dari sepertiga di antaranya itu tidak mendapatkan tidur yang memadai. Penelitian terkait masalah tidur di Amerika sebelumnya juga menyebutkan, bahwa kurang tidur dalam jangka panjang, membuat jumlah sekresi dari dua hormon utama di dalam tubuh yang mengatur rasa lapar yakni leptin dan kortisol itu akan mengalami perubahan drastis.

Membuat nafsu makan bertambah, dan meskipun tubuh itu sendiri tidak membutuhkan kalori, namun, otak tetap akan merasa kandungan kalori tidak cukup, sehingga memicu seseorag untuk terus makan.

Bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan mungkin tahu, bahwa tidur dapat membakar lemak, membantu menurunkan berat badan, namun satu konsep yang lebih penting : pentingnya tidur dalam upaya menurunkan berat badan itu bukan karena tidur yang cukup, lantas bisa dengan serta merta menurunkan berat badan, tapi inti akibat dari kurang tidur itu bisa membuat kita sulit untuk mengendalikan nafsu makan, sehingga menjadi gemuk. Perlu dicatat, bahwa kurang tidur juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan masalah (gangguan) kesehatan lainnya. (Epochtimes/Jhn/Yant)

Share

Video Popular