Oleh: Huang Xiao Yu

Dengan metode pengukuran paling akurat saat ini, untuk pertama kalinya para astronom mengukur atau menimbang sebuah lubang hitam supermasif di dekat Bumi, untuk mendapatkan informasi lebih lanjut terkait penelitian galaksi dan pembentukan lubang hitam.

Lubang hitam ini berjarak sekitar 73 juta tahun cahaya dari Bumi, terletak di pusat galaksi NGC 1332, dengan  massa sekitar 660 juta kali massa matahari, atau 150 kali dari massa lubang hitam di pusat galaksi kita. Lubang hitam di galaksi NGC 1332 ini dikelilingi oleh awan gas berkecepatan sekitar 500 kilometer per detik.

Aaron Barth, astronom dari University of California yang terlibat dalam penelitian tersebut mengatakan, bahwa instrumen resolusi tinggi dari Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA) di Chile yang digunakan peneliti untuk mendeteksi emisi karbon monoksida dari piringan gas di sekeliling lubang hitam, mengukur struktur luas rentangan 16 tahun cahaya dari piringan gas dan kecepatan rotasi di lubang hitam yang dapat mempengaruhi penentuan piringan gas dalam lingkup 80 tahun cahaya, hingga akhirnya mendapatkan massa lubang hitam, demikian laporan US National Radio Astronomy Observatory (NRAO), Kamis, 5 Mei 20106 lalu.

Sebelumnya, teleskop ruang angkasa dan teleskop berbasis darat rata-rata pernah mengukur massa lubang hitam, namun, hasil yang didapat sangat jauh berbeda yakni berkisar antara 500 juta – 1.5 miliar kali massa matahari.

“Untuk mengukur massa lubang hitam secara presisi itu sangat sulit, meski menggunakan teleskop ruang angkasa atau teleskop berbasis darat yang paling kuat sekalipun juga sulit untuk mendapatkan pengukuran yang akurat. Lain halnya dengan Atacama Large Millimeter / submillimeter Array yang memiliki resolusi lebih tinggi, yang dapat mengamati piringan gas bersuhu rendah di sekeliling lubang hitam supermasif dalam lingkup kecil, sehingga kita bisa dengan jelas membedakan pengaruh lubang hitam terhadap kecepatan rotasi piringan gas,” kata Baarth.

Para ilmuwan berpikir, setiap galaksi masif, seperti Bima Sakti, sudah pasti memiliki lubang hitam supermasif di pusatnya. Memahami pembentukan dan evolusi galaksi adalah salah satu tantangan utama bagi astrofisika modern. Temuan ini memiliki implikasi penting untuk bagaimana galaksi dan lubang hitam supermasif di pusatnya bisa terbentuk.

Untuk mengukur lubang hitam supermasif di pusat galaksi NGC 1332 ini, para ilmuwan menggunakan data pengamatan resolusi tinggi dari ALMA berupa emisi karbon monoksida dari piringan gas raksasa yang dingin yang mengorbit lubang hitam supermasif tersebut. Mereka juga mengukur kecepatan gas yang terlepas dan terlontar ke luar angkasa.

Penelitian terkait telah dipublikasikan dalam jurnal “Astrophysical Journal Letters. (Epochtimes/joni/rmat)

Share

Video Popular