Erabaru.net. Rata-rata orang akan berbohong sekitar 11 kali dalam sehari, dan akan tergelincir dalam setidaknya dua ketidakjujuran dalam 10 menit percakapan, menurut peneliti perilaku berbohong, Robert Feldman.

Penelitian baru menunjukkan bahwa kecurangan tidak sekedar bisa mengorbankan reputasi baik seseorang, pada kenyataannya mungkin memainkan peran penting dalam kesehatan manusia.

Disamping itu, hanya dengan belajar untuk mengatakan yang sebenarnya, mungkin dapat menurunkan risiko sakit tenggorokan, pilek, dan sakit kepala.

Kekuatan ketulusan bagi kesehatan

Di dalam Aturan Fundamental Psikoanalisis 1904 karya Sigmund Freud dikatakan bahwa kejujuran diperlukan dari pasien untuk menyembuhkan mereka.

Sigmund mungkin telah merasakan sesuatu, sebagaimana yang dibuktikan oleh penelitian yang dipresentasikan pada konvensi nasional 2014, Asosiasi Psikologi Amerika.

Penelitian ini dilakukan oleh dua profesional dari Universitas Notre Dame sebagai bagian dari proyek “Ilmu Kejujuran”, yang diikuti oleh 72 orang dewasa selama lima minggu.

Para peserta dibagi menjadi dua kelompok, kelompok kontrol dan kelompok ketulusan yang disuruh berbicara hanya kebenaran. Anggota kelompok ketulusan diberitahu:

“Sepanjang setiap hari selama 5 minggu berikutnya, Anda harus berbicara dengan jujur dan tulus, tidak hanya tentang hal-hal besar, tetapi juga tentang hal-hal kecil, seperti mengapa Anda terlambat.

Anda harus selalu menyadari apa yang Anda katakan dalam laporan akan dianggap serius, yang berlawanan ketika bercanda atau melebih-lebihkan.

Meskipun Anda tentu bisa memilih untuk tidak menjawab pertanyaan, Anda harus selalu sungguh-sungguh dengan apa yang Anda katakan.”

Pada akhir penelitian, terjadi perbedaan kesehatan yang signifikan di antara dua kelompok tersebut.

Kelompok ketulusan memiliki rata-rata tujuh gejala yang lebih sedikit, seperti sakit tenggorokan, sakit kepala, mual, dan ketegangan mental, daripada kelompok kontrol.

Salah satu penulis studi tersebut, profesor psikologi Anita Kelly, Ph.D, juga telah mengikuti petunjuk studi tersebut, dan mengatakan ia biasanya mengalami 5-7 kali pilek selama musim dingin, namun sejauh ini ia tidak mengalaminya, meskipun fakta bahwa dia juga menjadi kurang tidur. Seperti yang di-tulis majalah Forbes:

“Mungkin semua kebohongan yang menyebabkan tingkat stres psikosomatik berkelanjutan yang melumpuhkan sistem kekebalan tubuh kita”.

Mengapa orang jadi banyak berbohong?

Kejujuran sering kali dilaporkan sebagai salah satu ciri yang paling diinginkan dalam diri seseorang. Namun, kebanyakan orang berbohong setiap hari, dari kebohongan “putih” kecil hingga pelanggaran yang lebih serius.

Adapun mengapa orang berbohong, itu tergantung kondisi. Penelitian yang dilakukan Robert Feldman menemukan bahwa orang berbohong hampir secara refleks dan sebagian malah mungkin tidak menyadarinya.

Dalam satu penelitian, semua peserta mengatakan mereka telah jujur dalam percakapan yang direkam, tetapi ketika video itu diputar kembali, 60 persen dari peserta belum jujur benar (dan dilaporkan bahwa mereka “benar-benar terkejut” telah mengatakan sesuatu yang tidak akurat).

Robert menemukan bahwa pria cenderung berbohong untuk membuat diri mereka terlihat lebih baik, sedangkan wanita cenderung berbohong untuk menghibur perasaan orang lain.

Dan seorang berkepribadian ekstrovert (terbuka), secara umum, cenderung lebih sering berbohong daripada introvert (tertutup).

Penelitian terpisah dari University of Alberta mengungkapkan bahwa orang cen¬derung lebih mudah berbo¬hong kepada rekan kerjanya daripada orang asing, terutama untuk melindungi diri atau harga diri mereka. Jennifer Argo dari University of Alberta menjelaskan:

“…Orang dalam jangka pendek tampak fokus ketika mereka memutuskan untuk mengelabui seseorang -lindungi citra diri dan harga diri saya sekarang, akan tetapi jika nanti individu yang terkelabui mengetahuinya, dapat memperoleh konsekuensi jangka panjang.”

Lima ‘versi pembenaran’ yang sebenarnya bohong

Masuk akal bahwa berbohong akan berpengaruh negatif pada kesehatan dan kesejahteraan emosional, karena semua jenis pikiran negatif telah dipancarkan untuk melakukannya.

Dalam kasus berbohong, banyak orang melakukannya tanpa berpikir mendalam tentang hal ini, yang berarti, untuk melindungi kesehatan Anda, pertama kali harus dapat mengidentifikasi apa yang merupakan kebo-hongan.

Berikut adalah lima contoh yang mungkin mengejutkan Anda, seperti dilansir Psychology Today.

1. Mengontrol respon:

Katakanlah Anda curhat pada seorang teman tentang perselisihan dengan pasangan Anda. Jika Anda menyembunyikan kebenaran dengan hanya mengatakan pendapat dari sisi Anda saja, atau mengubah cara di mana Anda benar-benar berperilaku untuk merefleksikan diri sendiri lebih baik, itu juga berbohong. Pada kenyataannya, mengubah atau mengendalikan respon teman, mungkin hanya untuk menginginkan mereka mengatakan apa yang ingin Anda dengar.

2. Berbohong dengan penghilangan:

Sengaja meninggalkan rincian yang signifikan atau relevan, adalah suatu jenis bohong dan tidak akan mendukung rasa saling percaya atau komunikasi yang jujur.

3. Berlebihan:

Memoles resume, melebih-lebihkan keterampilan, atau menggembungkan peris¬tiwa ketika menceritakan sebuah kisah, merupakan contoh kebohongan yang pada akhirnya akan dianggap tidak dapat dipercaya.

4. Melindungi diri:

Ini adalah bentuk pengelabuan di mana kita menempatkan penjagaan sehingga perasaan rentan kita berkurang dan menghindari terluka. Ini sering melibatkan pemendaman emosi atau berpura-pura tidak tertarik atau terlibat dalam rangka untuk melindungi diri sendiri.

5. Gosip atau komunikasi terselubung:

Jika membicarakan seseorang di belakang mereka, biasanya akan melibatkan kebohongan di beberapa titik (sering dengan menyangkal gosip untuk orang yang sedang digosipkan). Lebih baik kita terlibat secara terbuka, berkomunikasi dengan jujur bahwa Anda tidak merasa harus menutupi faktanya.

Jika dokter berbohong berdampak pada kesehatan pasien juga

Berbohong mungkin berdampak negatif terhadap kesehatan Anda, demikian juga dengan dibohongi – terutama ketika Anda dibohongi oleh dokter Anda. Dalam Piagam Profesionalisme Kedokteran, yang didukung oleh lebih dari 100 kelompok profesional di seluruh dunia, “membutuhkan keterbukaan dan kejujuran dalam komunikasi antara dokter dengan pasien”.

Namun, sebuah penelitian di Health Affairs mempresentasikan data dari survei terhadap hampir 1.900 dokter untuk melihat seberapa baik mereka mengikuti prinsip ini … hasilnya kurang mengesankan:

• Sepertiga dari dokter tidak sepenuhnya setuju mengungkapkan kesalahan medis yang serius kepada pasien

• Seperlima tidak sepenuhnya setuju bahwa dokter tidak boleh memberitahu pasien sesuatu yang tidak benar

• Empat puluh persen percaya bahwa mereka harus menyembunyikan hubungan bisnis mereka dengan perusahaan obat pada pasien

• Sepuluh persen mengatakan mereka telah mengatakan kepada pasien sesuatu yang tidak benar pada tahun sebelumnya.(Epochtimes/Ajg/Yant)

Bersambung

Share
Kategori: KESEHATAN

Video Popular