Oleh: DR. Frank Tian, Xie*

Banyak orang di dunia sekarang ini mungkin mempunyai pengalaman, ingin menjadi orang baik atau mengajak orang lain menjadi baik, atau melakukan hal-hal yang benar-benar baik, sepertinya tidak begitu mudah dan bahkan sangat sulit. Jika Anda berpikiran seperti itu, Anda bukanlah orang pertama, juga bukan yang terakhir. Pada 2009, penerbit University Oxford Inggris telah  menerbitkan sebuah buku yang menarik berjudul “Kesulitan Menjadi Orang Baik (The Difficulty of Being Good)” yang ditulis oleh Gurcharan Das.

Buku karangan Das ini bersubjudul Membincangkan kepelikan Dharma (On The Subtle Art of Dharma). Jelas sekali Dharma yang dia sebut ini masih merupakan prinsip alam semesta lama, berhubung keterbatasan sejarah dan faktor lainnya, rupanya Das masih belum sempat menyentuh Da Fa (Maha Hukum) yang sejati dan mendasar dari alam semesta baru. Namun yang diungkap dalam buku, juga merupakan masalah riil yang dihadapi alam semesta lama dewasa ini. Sebelum kelahiran alam semesta baru, juga justru merupakan sebuah masalah realistis yang dihadapi umat manusia dewasa ini. Kebijaksanaan Gurcharan Das berasal dari epik India Mahabharata. Das juga menulis sebuah Novel, 4 buah drama dan 2 buku non-fiksi, termasuk pengarang yang produktif.

Isi buku tersebut mencakup segala-galanya, dari peperangan umat manusia sampai penderitaan manusia hingga hakiki penderitaan, sampai pada gerakan kebersamaan hak Amerika Serikat, bahkan etika permainan “Dilema Tahanan”  seperti zero-sum game, semua terangkum didalamnya. Ahli bahasa Sansekerta dan ahli India dari university Columbia professor Sheldon Pollock mengevaluasi, Das melalui interpretasi terhadap epik india Mahabharata menunjukkan dilema moral yang dihadapi masyarakat manusia dewasa ini.

Mahabharata merupakan kitab klasik dan abadi, juga sangat trendy. Profesor ilmu agama dan sejarah dari Chicago University Wendy Doniger bahkan menganggap, Membincangkan kepelikan Dharma karangan Das merupakan pandangan akademisi, juga adalah konsep pribadinya, yaitu selain memiliki nilai akademik, juga mengandung bagian dari kultivasi pribadinya.

Musim semi 2002, ketika Das mulai berpikir ingin menulis buku tersebut, dia bahkan dianggap istrinya telah mengalami apa yang disebut krisis setengah baya! Sesungguhnya setelah dia bertahun-tahun mempelajari kebudayaan dan sejarah barat, baru tiba-tiba muncul pikiran untuk mempelajari kebudayaan tradisional bangsa sendiri. Sebelumnya ketika dia belajar di Harvard Univercity, hanya belajar sedikit bahasa Sanskrit, namun masih belum pernah menggunakan bahasa Sanskrit membaca epik tersohor milik bangsa sendiri. Di tahun yang galau dan sulit, Das kembali ke epik nenek moyang dan sejarah bangsa India, diantaranya dia menemukan masalah yang sama-sama dihadapi oleh dunia sekarang, ditengah maha karya sejarah ilmu sastra, telah ditemukan sumber asal kerunyaman moral pada dunia nyata ini.

Das pernah bertahun-tahun berjuang di dunia bisnis dan setelah bekerja di berbagai perusahaan besar berskala dunia, pada usia 50 tahun ia telah pensiun, lalu menetap dengan istrinya di Delhi. Di Delhi setiap hari minggu dia menulis untuk kolom khusus The Times of India , juga bertamasia melakukan penyelidikan di berbagai tempat di India. Dia telah menyaksikan sendiri perkembangan pesat ekonomi India selama beberapa decade ini, dan didapatkan kehidupan masyarakat India telah berangsung-angsur menuju keberkecukupan dari pergumulan demi hidup. Namun bersamaan itu Das juga menemukan, dibalik kemakmuran ekonomi yang dapat disaksikan dimana-mana di India, masalah bagaimana hati manusia dapat menuju pada kebajikan, bagaimana manusia dapat berperilaku menjadi orang baik, bagaimana moral masyarakat dapat meningkat, dalam aspek ini terasa masih belum cukup.

Fenomena yang ditemukan Das di India ini bukankah juga merupakan gambaran sebenarnya keadaan RRT sekarang ini? Bersyukurlah India ada seorang intelek yang tampil membicarakan moral dan hati nurani, dimanakah suara hati nurani bangsa Tiongkok?

Pertama, sangat sedikit, sangat kecil dan sangat lemah, kedua, walau suara telah keluar, namun akan mengalami pembungkaman, dilenyapkan dan dibasmi. Ada sebagian orang Tionghoa terbiasa menertawakan orang India, sebenarnya kita tidak mempunyai hak untuk menertawakan orang lain. Di tengah kalangan politik, akademisi, pengusaha dan kalangan iptek, warga AS keturunan India seharusnya mengatakan, pada umumnya mereka secara keseluruhan jauh lebih unggul dari pada orang Tionghoa dan hasil yang dicapai juga lebih besar dan lebih banyak.

Warisan Kebudayaan India

India yang terletak di anak benua Asia Selatan, di punggung bersandar pada gunung Himalaya yang menjulang tinggi, dan berambang pada Laut India yang amat luas, India kuno disebut sebagai “Negeri Rembulan.”

Berawal dari Kerajaan Rembulan, bangsa India telah memberi umat manusia banyak sekali warisan budaya. Mahabharata dan Ramayana merupakan dua karya sastra yang paling terkenal di India kuno, Mahabharata memiliki 100 ribu syair, Ramayana memiliki 24 ribu syair, merupakan epik panjang yang jarang dijumpai pada zaman kuno. Mahabharata masih terdapat beberapa kalimat berbentuk prosa, seluruhnya ada 1,8 juta kata tunggal, sebagai epik terpanjang ke-3 di dunia, dan 10 kali lipat lebih panjang dari Iliad ditambah Odyssey, hanya epik bangsa Tibet Beografi Raja Gesar dan epik Manas dari bangsa Kyrgyz baru sebanding dengannya. Menurut perkiraan orang, terus menerus tidak henti membaca Mahabharata, juga memerlukan 2 minggu baru dapat selesai dibaca.

Kisah yang diceritakan Mahabharata gagah perkasa, tragis dan mengibakan. Mahabharata seluruhnya ada 18 bab, isi paling utama adalah peperangan perebutan kedudukan raja antara keturunan dua bersaudara dalam keluarga Bharata, yaitu antara raja Kauravas dan raja Pandavas yang berlansung sangat lama. Pertarungan keduabelah pihak sangat sulit dan berlika-liku, akhirnya terpaksa dilakukan perang besar penentuan selama 18 hari. Peperangan telah melibatkan seluruh negeri dan suku di India, akhirnya seluruh pasukan Kauravas gugur dalam peperangan, pasukan Pandavas memperoleh kemenangan terakhir.

Menurut kalangan rakyat India, pengarang paling awal epik adalah Dewa Byasa, disalin oleh Ganesha, ada juga orang yang berpendapat epik merupakan hasil kumpulan berangsung-angsur dari penyair kalangan rakyat, kemudian disusun dan direvisi, isi pokoknya pada abad ke-5 sebelum Mashehi telah terbentuk, difinalisasi terakhir di abad ke-4. Epik tersebut merupakan sejarah dan kisah dongeng, juga mengandung banyak uraian ilmiah tentang filsafat, agama, hukum dan lain-lain. Secara menyeluruh mencerminkan keadaan berbagai aspek masyarakat India kuno. Dalam bab pertama Mahabharata dipaparkan dengan jelas, “Yang ada disini, dimana pun ada,  yang tidak ada disini, dimana pun juga tidak ada.”

Tentu Mahabharata tidak hanya menceritakan sebuah kisah saja, Dewa Byana dalam buku mengatakan, tujuan buku ini adalah menjelaskan 4 tujuan hidup manusia: cinta, harta, hukum dan mencapai kesempurnaan. Banyak orang India percaya, tujuan terakhir hidup manusia adalah mencapai kesempurnaan, diantaranya karma dan hukum menduduki posisi utama dalam Mahabharata. Dalam pandangan orang Tionghoa, tujuan terakhir hidup manusia juga mencapai kesempurnaan, memerlukan melalui kultifasi mencapai tujuan tersebut, sedangkan bagi kita, “karma” dan “hukum” yang dikatakan orang India adalah mendapatkan hukum sejati dan Tao sejati, melalui olah jiwa dan raga melenyapkan karma, sehingga mencapai tujuan mendapatkan kesempurnaan sejati, pulang ke asal kembali ke jati diri.

Mahabharata mencakup kisah dongeng India dalam jumlah besar dan konsep filosofi, terdapat banyak kisah Dewata dan fable (dongeng perumpamaan) filosofi, bagi masyarakat manusia sekarang ini, makna kebijaksaan bangsa India bagi kita adalah, epik menelusuri rasa simpati yang mendalam terhadap keadilan dan kebaikan, mengekspos dan mengutuk habis-habisan perbuatan khianat, licik dan lain-lain perilaku kejahatan. Semua ini digali oleh Das dari peradaban kuno, bagi manusia modern sekarang ini telah memberi banyak inspirasi yang mengandung makna positif. (tys/whs/rmat)

*DR. Frank Tian, Xie – Professor in Business University of South Carolina Aiken

BERSAMBUNG

Share

Video Popular