Lebih dari 54 juta penduduk Filipina, Senin (9/5/2016) kemarin terlibat dalam pemilihan presiden. Rodrigo Duterte yang dijuluki ‘Donalld Trump versi Filipina’ dengan perolehan suara 5.84 juta lebih banyak dari pesaing terdekatnya keluar sebagai pemenang pemilu, meskipun panitia masih menyisakan sekitar 12 % suara yang belum selesai dihitung.

Associated Press mengacu pada hasil perhitungan suara yang masih berlangsung (79 %) memberitakan bahwa Rodrigo, mantan walikota Davao sudah memperoleh 14 juta suara mengungguli pesaingnya Mar Roxas (kandidat pilihan presiden sekarang) yang baru memperoleh 8,4 juta suara. Sedangkan Senator Grace Foe dengan 7.9 juta suara berada di peringkat ketiga.

Rodrigo Duterte (71) yang selama 22 tahun menjabat sebagai Walikota yang terletak di Filipina bagian selatan, dijuluki ‘Donald Trump versi Filipina’ karena berhasil memecahkan masalah kejahatan dan mengentas kemiskinan. Membuat Davao menjadi kota yang paling aman di Filipina.

Meskipun cukup vokal dalam tutur kata, suka membuat komentar-komentar yang penuh permusuhan, menarik banyak kontroversi dan keprihatinan, namun Rodrigo yang sering juga dipanggil Rody masih memperoleh tingkat dukungan tertinggi dari rakyat Filipina. Itu semua berkaitan erat dengan pengalaman masa lalunya, keberhasilannya dalam memerangi kejahatan dan membasmi korupsi.

Walaupun ekonomi Filipina dalam beberapa tahun terakhir mengalami pertumbuhan, tetapi tingkat korupsi, kejahatan dan peredaran obat terlarang masih cukup merisaukan masyarakat Filipina. Akibat memerangi kejahatan dan korupsi merupakan targetnya setelah terpilih menjadi presiden, isu kampanyenya itu mendapat dukungan dari masyarakat luas. Ia juga berjanji akan memberantas kerupsi dan kejahatan dalam waktu 3-6 bulan setelah terpilih.

Rodrigo Duterte sebelumnya telah mengisyaratkan bahwa mungkin saja demokrasi Filipina akan mengalami sedikit penimpangan bila banyak halangan timbul dalam perjuangannya melawan korupsi, kejahatan dan tugas lainnya sebagai presiden. Presiden sekarang Benigno Aquino III telah mengingatkan bahwa jika Rodrigo terpilih sebagai presiden, ia mungkin saja akan memimpin Filipina dengan kediktatoran.

Terpilihnya Rodrigo diperkirakan akan mempengaruhi hubungan antara Filipina dengan AS. Rody baru-baru ini mengecam duta besar AS dan Australia atas kritikan-kritikan mereka. Mengklaim akan memutus hubungan diplomatik dengan AS dan Australia bila terpilih sebagai presiden. Padahal selama ini, Filipina merupakan sekutu AS dan memberi kesempatan kepada AS untuk mendirikan pangkalan militer di Filipina.

Dalam 10 tahun terakhir sebagai walikota Davao, Rodrigo terus menolak latihan militer AS-Filipina yang diselenggarakan di wilayah Davao. Baru-baru ini, ia kembali menolak wilayahnya dijadikan tempat peluncuran pesawat tak berawak milik AS. Tampaknya Rodrigo memiliki sikap diplomatik yang bertolak belakang dengan Presiden Benigno Aquino III yang membuat AS pusing.

Selain presiden dan wakil presiden, pemilihan kali ini juga memperebutkan sejumlah kursi di parlemen, senator serta kepala pemerintahan untuk 81 propinsi, 145 kota, 1.489 kota kabupaten, termasuk Daerah Otonomi Muslim Mindanao. Meskipun yang paling menarik perhatian adalah pemilihan presiden. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular