Erabaru.net. Jutaan tahun yang lalu, Antartika memiliki iklim tropis dan hangat layaknya Indonesia. Di hari ini, hampir seluruh wilayahnya tertutup oleh lapisan es tebal, namun sebuah lingkungan yang terpisah masih tetap eksis di bawahnya.

Dengan menggunakan radar udara dan teknologi satelit, para ilmuwan telah memetakan serangkaian danau dan sungai yang membentuk sebuah area lahan basah di bawah es, yang secara struktur masih berpengaruh terhadap aliran air di Antartika, dan secara tidak langsung memengaruhi naik-turunnya dari permukaan laut.

Pada 2013, para ilmuwan melakukan pengeboran ke dalam es untuk memeriksa sedimentasi dan bahan lainnya di Danau Whillans yang telah terperangkap di bawah 792,5 meter es selama ribuan tahun.

Air di Danau Whillans terutama berasal dari es yang mencair, tetapi danau itu juga memiliki air laut dari sedimentasi laut kuno yang ditemukan di dasar danau.

Air dari danau itu secara berkala mengalir ke laut, tetapi tidak cukup kuat untuk membawa semua sedimen.

“Sungguh menakjubkan untuk dibayangkan bahwa kita tidak mengetahui bahwa danau ini eksis sampai satu dekade lalu. Menarik untuk melihat kekayaan sedimentasi kuno di dasar danau, dan ini merupakan data baru yang membantu kita memahami bagaimana danau itu berfungsi sebagai bagian dari sistem lapisan es,” papar Helen Amanda Fricker, seorang peneliti dalam proyek eksplorasi dan orang yang menemukan Danau Whillans dari data satelit pada 2007.

Temuan ini dapat membantu memahami dinamika medan sub glasial yang dapat memungkinkan para ilmuwan untuk membuat prediksi yang lebih baik tentang perubahan jangka panjang yang akan dialami oleh lapisan es.

Studi ini baru permulaan, karena masih ada sekitar 400 danau di bawah gletser Antartika. (Epochtimes/Osc/Yant)

Share
Tag: Kategori: SAINS SAINS NEWS

Video Popular