Oleh Liu Chengyin

Apakah Inggris akan tetap menjadi anggota Uni Eropa masih menjadi topik perdebatan yang cukup panas di kalangan politisi dan masyarakat. Perdana Menteri David Cameron pada Senin (9/4/2016) mengatakan bahwa meninggalkan Uni Eropa dapat meningkatkan resiko pecahnya perang di Eropa.

Associated Press pada 9 Mei memberitakan,  Inggris akan menyelenggarakan referendum Brexit pada 23 Juni 2016 mendatang untuk memutuskan apakah negara itu akan pergi dari atau tetap berada di Uni Eropa. Waktu terus bergulir mendekat. Komentarnya tentang perlunya Inggris tetap bertahan di Uni Eropa demi keamanan regional ia sampaikan sebagai sikap dan pandangannya terhadap masa depan Inggris.

“Asumsi demikian ini mungkin terlalu sembrono, perdamaian dan stabilitas di benua Eropa tampaknya tidak akan terpengaruh oleh masalah Inggris tetap bergabung atau pergi dari Uni Eropa. Dan Uni Eropa memang mampu untuk mempersatukan seluruh negara anggota,  hidup berdampingan tanpa konflik selama beberapa dekade,” kata Cameron.

Menurutnya, Inggris memiliki hubungan di bidang politik dan ekonomi yang tidak dapat dipisahkan dengan benua Eropa. Untuk itu semua pihak wajib untuk mempertahankan perdamaian regional,   mencegah timbulnya konflik antara sesama negara Eropa. karena hal ini juga akan berpengaruh langsung pada kepentingan dasar Inggris.

Ia percaya bahwa sikap mengisolasi diri tidak akan menguntungkan. Cepat atau lambat Inggris akan menyesal karena memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa.

Uni Eropa didirikan setelah Perang Dunia Kedua dengan bagian dari tujuan utamanya adalah untuk mencegah terulangnya konflik atau perang antar negara di benua Eropa. Serangan yang terjadi di Paris dan Brussel beberapa waktu yang lalu dan jutaan penduduk Timur Tengah yang pergi mengungsi ke Eropa bukan tidak berhubungan. Begitu pula Asia dan Afrika saat ini juga telah muncul resiko keamanan regional.

Saat ini, pihak-pihak yang terkait langsung dengan kepentingan dan keamanan Inggris sedang terlibat dalam perdebatan sengit berkaitan dengan topik keluar tidaknya Inggris dari organisasi  yang dimiliki oleh 28 negara Eropa itu. Dua  orang mantan  perwira intelijen Inggris dalam sebuah wawancara dengan wartawan mengemukan bahwa dinas intelijen Uni Eropa lebih unggul dalam mengumpulkan intelijen tentang terorisme bila dibandingkan dengan yang dimiliki Inggris. Itu jelas memberikan keuntungan dalam menciptakan perdamaian dan rasa aman di benua Eropa.

“Menghadapi kekerasan dan kekejaman IS, serta Rusia yang memiliki kekuatan militer, kita seharusnya memilih Uni Eropa sebagai tempat bernaung,” kata Cameron.

Kelompok yang beroposisi menganggap Cameron tidak mengerti sejarah. Dengan alasan bahwa NATO lebih kompeten dalam menciptakan perdamaian dan keamanan di benua Eropa ketimbang Uni Eropa.

“Perdamaian di Eropa adalah hasil konsultasi bersama dan kerja keras yang dilakukan lembaga dari negara-negara Eropa. Silakan tutup mulut bila tidak mengenal masalahnya,” kata sejarahwan lulusan Universitas Edinburgh, Robert yang pro Brexit..

Pemimpin kelompok pro Brexit yang mantan Walikota London Boris Johnson mengatakan bahwa perang Balkan pada 1990-an menunjukkan zona Eropa tidak menjamin adanya perdamaian.

“Yang saya lihat adalah Uni Eropa bersikap dingin terhadap negara bekas Yugoslavia yang akhirnya menjadi bencana besar, tetapi beruntung ada NATO yang turun tangan sehingga berhasil mengubah keadaan. Saya tidak percaya Perang Dunia Ketiga akan meletus di Eropa gara-gara Inggris keluar dari Uni Eropa,”  kata Boris Johnson dalam sebuah pidato di London. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular