Oleh: DR. Frank Tian, Xie*

Akhir April lalu, di Zhongnanhai, Beijing, ditakdirkan menjadi hari yang sibuk, lembaga pemikir Partai Komunis Tiongkok/ PKT dengan seksama meneliti kebijakan diplomatik dari capres Partai Republik Donald Trump. Ini adalah pertama kalinya Donald Trump menyampaikan pidato secara tersistematis terkait kebijakan diplomatiknya.

Bisa diperkirakan, hasil perundingan Zhongnanhai dipastikan tidak akan optimis, karena kebijakan diplomatik Trump setali dua uang dengan kebijakan ekonominya, lagi-lagi menghantam kelemahan PKT. Apalagi hantaman kali ini lebih tepat sasaran daripada sebelumnya, lebih mendekati titik mematikan, merupakan serangan gabungan politik, ekonomi, diplomatik, dan militer digabung menjadi satu.

Pemilihan awal pada pilpres Amerika Serikat telah mencapai tahap paling akhir, jarak Trump dengan nominasi pun semakin dekat. Survey teranyar media massa menunjukkan, Trump telah lebih dulu mendapat dukungan lebih dari 50% dari anggota partai dan para pemilih yang pro Partai Republik. Jika ia ingin dinominasikan dengan mulus tanpa harus melalui “Contested Convention” (kebuntuan kongres, Red.) di Partai Republik, maka ia harus melampaui dua ujian besar, yang pertama adalah negara bagian Indiana, California, dan New Jersey; dan ujian kedua adalah para petinggi Partai Republik menggunakan cara gangguan teknis pada aturan rapat.

Trump sudah semakin menguasai diri, semakin berusaha untuk berdamai dengan para petinggi Partai Republik. Akhirnya, Trump bergandeng tangan bersama dengan Ketua Komisi Nasional Partai Republik yakni Reince Priebus, juga ada kemungkinan akan menerima sebagian usulan program dari kubu establisment.

Dua bulan lalu, penulis dalam artikel “Kebijakan Ekonomi Trump Pukul Kelemahan PKT” telah menjelaskan, setiap reformasi perdagangan Trump menghantam kelemahan pemerintah PKT. Kubu Trump hari Selasa lalu mengajukan enam reformasi kebijakannya, termasuk reformasi asuransi kesehatan, reformasi perdagangan AS-RRT, reformasi pensiunan militer, reformasi pajak, rencana amandemen kedua konstitusi dan reformasi keimigrasian. Trump mengemukakan “reformasi perdagangan AS-RRT” sebagai topik utama dalam kampanye pilpresnya, dan ini sangat menarik perhatian. Trump berjanji, jika ia terpilih sebagai presiden, Amerika akan kembali memimpin perekonomian seluruh dunia, dan RRT akan mengakhiri pengendalian nilai tukar mata uangnya.

Titik berat kebijakan diplomatik Trump adalah, menempatkan kepentingan negara AS sebagai hal utama, sekaligus menuntut agar negara NATO lainnya menanggung beban biaya yang adil dalam operasional pertahanan. Ia juga bersumpah menggunakan tongkat ekonomi ini untuk memaksa PKT agar mau turun tangan menghentikan rencana nuklir Korea Utara. Para pendukung Trump berpendapat, ini adalah sebuah pidato yang mengandung “bobot seorang presiden AS.”

Dalam pidato itu, Trump yang mahir tampil di atas panggung dan di depan TV semakin mahir memanfaatkan ketrampilan teknik shooting. Ia menggunakan kosa kata, berbicara dengan penuh karismatik layaknya sikap dan penampilan diplomatik seorang presiden. Istilahnya “menggunakan target untuk menggantikan kengawuran, menggunakan ide untuk menggantikan strategi perang, menggunakan perdamaian untuk menggantikan kekacauan,” membuat orang berpandangan lain terhadapnya. Meskipun naskah pidato bukan ditulis oleh Trump sendiri, tapi pernyataan di dalamnya sarat dengan pemikirannya selama lebih dari setengah tahun terakhir ini. Baik penonton di rumah maupun di studio, bisa menyaksikan betapa Trump sangat berbeda hari itu. Penampilannya sebagai taipan, kata-katanya yang lugas, sepertinya hanya sekali mengatakan “percaya pada saya,” setelah itu tidak ada lagi. Tentu saja, penonton pada waktu itu bukan rakyat biasa, melainkan para tokoh elite politik dan diplomatik di Washington DC.

Trump berusaha menyingkirkan borok kebijakan ala diplomatik AS, mengakhiri kebijakan “bersifat bencana” pada pemerintahan Obama. Lalu, apakah pernyataan memberikan sanksi terhadap perdagangan RRT akan benar-benar diterapkan? Meskipun Trump terpilih, mungkin selamanya tidak akan terlaksana.

Tapi alasan tidak terlaksana bukan karena Trump menyerah, melainkan karena mungkin ia dengan PKT akan mencapai “kesepakatan,” yang menghasilkan kesepakatan perdagangan yang lebih baik. Ini menandakan, keuntungan yang didapat RRT dari perdagangan dengan AS, surplus dagang, tidak akan sebanyak dan semudah dulu lagi, RRT yang telah melanggar hak cipta, melanggar ketentuan WTO dan berhasil meloloskan diri, juga akan sulit terlaksana.

Trump mengkritik Obama membiarkan PKT mencapai keuntungan. Jika ia terpilih menjadi presiden, ia akan menerapkan kebijakan diplomatik dengan “memprioritaskan Amerika,” dan membiarkan Uni Eropa serta sekutu Asia menanggung beban keuangan yang lebih besar dalam hal pertahanan, jika tidak, maka negara sekutunya harus mengemban tanggung jawab pertahanannya sendiri. Teori ini sepertinya sangat egois, tidak lagi memiliki integritas dan wibawa AS untuk membangun kembali Eropa dan Asia seperti pasca PD-II, tapi teori ini cukup mendapat sambutan hangat di AS. Di saat ekonomi lesu, pandangan mementingkan diri sendiri dan tidak memandang jauh, adalah reaksi alami bagi orang yang sedang kekurangan uang.

Trump mencari hubungan yang lebih menguntungkan bagi AS dengan RRT dan Rusia. Ia berpendapat, kegiatan AS di Timur Tengah adalah “membangun negara orang lain, dan mengikis kekuatan Amerika sendiri.” Dan angka defisit yang terakumulasi dari perdagangan antara AS-RRT, juga semakin membangun ekonomi RRT dan mengikis kekuatan AS.

Pada masalah senjata nuklir Korea Utara, Trump menyatakan AS harus menggunakan pengaruh ekonomi menghimbau PKT agar membantu menghentikan rencana nuklir Korut. Kebijakan itu menunjukkan kecerdasan Trump. Jelas ia tahu dibalik Korut ada PKT, meskipun sekarang Korut dan PKT sedang berseteru, tapi PKT termotivasi oleh karakternya yang sesat dan membutuhkan dukungan dari negara komunis lain, tidak akan membiarkan AS menyerang Korut, juga tidak akan membiarkan rezim Korut digulingkan. Jika tidak, dengan senjata canggih dan pasukan khusus AS yang ditempatkan di Korsel, tidak akan sulit bagi AS untuk mengambil tindakan cepat menghabisi rezim Korut. Kalkulasi PKT adalah memanfaatkan putra sulung Kim Jong-Il, yakni Kim Jong-Nam yang pro-PKT, untuk menggantikan Kim Jong-Un yang membangkang.

Kunci untuk menyelesaikan masalah nuklir di Korut adalah dukungan dari PKT di baliknya. PKT mampu mendukung Korut, adalah berkat perekonomian RRT yang dibesarkan oleh perdagangan dengan negara Barat. Untuk menyelesaikan masalah Korut, harus membuat PKT mengiyakan, Trump sangat menyadari hal ini, Beijing harus diberi tekanan ekonomi, dipaksa, membuat pondasi ekonomi RRT terancam. Selama 30 tahun terakhir, tiga kereta utama perekonomian RRT adalah investasi, konsumsi dan ekspor, di antaranya dampak buruk dari kredit pinjaman investasi yang berlebihan, termasuk efek busa property dan kelebihan produksi sedang terjadi saat ini, konsumsi atau kebutuhan dalam negeri, sama sekali tidak benar-benar bertumbuh karena tertelan oleh inflasi.

Di antara ketiga kereka tersebut yang paling berat dan mampu mendatangkan devisa asing, adalah ekspor. Dan Trump akan membidik kelemahan PKT, yakni ekspor RRT ke Amerika. Lebih tepatnya lagi adalah kebijakan perdagangan tidak adil PKT telah mengakibatkan kerugian perdagangan AS dengan RRT dan beralihnya industri ke Tiongkok.

Kebijakan ekonomi Trump, termasuk memaksa pihak RRT menerapkan hukum hak intelektual, membangkitkan kembali industri di Amerika. Ia menuntut pihak RRT untuk berhenti memberikan subsidi ilegal terhadap perdagangan luar negeri, menghapus standar tenaga kerja dan lingkungan yang terbelakang, agar pabrik pemeras tenaga kerja murah dan pencipta polusi di RRT tidak lagi merebut kesempatan buruh AS. Trump berkata kebijakannya mendukung perdagangan bebas dan nilai tukar fluktuatif, defisit perdagangan AS dengan RRT tidak akan terus terjadi. Kebijakan ekonomi seperti ini, merupakan tameng bagi kebijakan diplomatiknya.

Seperti dikatakan, Trump tidak disukai PKT. Karena PKT tahu, taipan yang arogan dan semena-mena ini sangat berbeda dengan politikus profesional, Trump akan sangat tegas di hadapan kepentingannya, dan tidak akan bisa disuap oleh PKT, juga tidak akan seperti politikus AS sebelumnya yang hanya berpidato saja, Trump benar-benar akan melakukannya. Oleh karena itu, kebijakan diplomatik Trump ditambah dengan kebijakan ekonominya, tidak hanya akan menghantam kelemahan PKT, tapi juga akan menohok jantung PKT! (sud/whs/rmat)

*DR. Frank Tian, Xie, John M. Olin Palmetto, Professor in Business University of South Carolina Aiken

 

Share

Video Popular