Oleh: DR. Xie Tian

Sulitnya Menjadi Orang Baik (The Difficulty of Being Good) yang ditulis Das sekali lagi memberitahu kita, umat manusia sekarang ini berada dalam kondisi yang sangat berbahaya. Zaman Mahabharata dalam sejarah India merupakan Zaman Besi tahap IV, manusia kala itu telah kehilangan konsep nilai yang terhormat, juga telah kehilangan moralitas, keberanian dan watak yang adil.

Peristiwa pengungsi di Eropa dewasa ini merupakan contoh yang nyata, menunjukkan di dalam dunia kita, menjadi orang baik dan melakukan hal baik bukan sesuatu yang mudah. Sebenarnya rakyat Eropa memiliki kebajikan tinggi. Jerman dan negara lain di Eropa telah menerima sangat banyak pengungsi Suriah, namun sebagian pengungsi di dalam negara penerima mereka, telah melakukan banyak hal buruk, sehingga protes menentang kehadiran pengungsi di Jerman dan negara-negara lain semakin meningkat saja. Pemerintah dan rakyat yang memberi bantuan berdasarkan humanisme, terjerumus ke dalam situasi yang serba salah.

B. Ramalinga Raju adalah pendiri perusahaan perangkat lunak Satyam yang ternama di India, sejak 2009 Das telah mengenalnya. Pada saat itu Das menatap mata Raju, merasakan Raju merupakan seorang yang jujur, cakap dan memiliki aspirasi tinggi. Das di Amerika Serikat juga menjumpai seorang klien wanita perusahaan Satyam, wanita AS yang lugu itu mengatakan, kualitas produk perangkat lunak Satyam sangat bagus, terpercaya,  konsep moral perusahaan sangat tinggi, kesemuaannya amat unggul. Ketika berbicara tentang Raju Satyam, mata wanita tersebut bahkan berbinar-binar.

Sesungguhnya apapun telah dimiliki oleh Raju yang masih muda itu, keberhasilannya begitu besar, sedikitpun tidak kurang dalam hal kekayaan serta kenikmatan material. Namun mengapa ia masih saja melakukan penipuan dan mencuri modal perusahaan Satyam hingga 7136 Crore, lebih kurang 1 Miliar US$, (Crore adalah satuan hitungan yang digunakan di India, Bangladesh, Pakistan dan Nepal. 1 Crore=10 juta), juga membuat investor mengalami kerugian sebesar 3,5 Miliar US$ (46 triliun rupiah), serta 50 ribu karyawan kehilangan pekerjaan.

Mengapa? Apakah ini sekedar keserakahan?

Das berpendapat, ini tidak hanya menyangkut keserakahan saja, keserakahan merupakan sebuah jawaban yang terlalu simple, pasti mempunyai penyebab yang lebih mendalam. Das ingin mencari jawabannya dari epic India Mahabharata. Karena dalam Mahabharata penuh dengan contoh kasus tentang benar dan salah, lurus dan jahat serta keberhasilan dan kegagalan.

Dalam filsafat kehidupan orang India, kehidupan manusia dibagi 4 tahap. Tahap pertama adalah masa remaja, masa seseorang masih sebagai murid sekolah dan masa anti nafsu. Tahap kedua adalah tahap hidup sekuler (duniawi), sebagai manusia harus produktif, mempunyai keturunan, bekerja, berumah-tangga, menikmati kesenangan duniawi. Tahap ketiga, manusia harus mulai melepas diri dari pengejaran duniawi. Tahap keempat, manusia seharusnya melepaskan duniawi, menuju pelepasan spirit dan lepas dari keterikatan manusia!

Boleh dikatakan, filsafat kehidupan manusia seperti ini, walau memiliki sangat banyak makna yang positif, namun mungkin masih belum sempurna. Karena dilihat dari sudut pandang aliran Buddha, manusia memiliki jiwa primer, sedangkan usia jiwa primer manusia belum tentu sama dengan usia tubuh fisiknya. Maka jika manusia harus menunggu sampai tua dan sampai usia lanjut baru dapat menuntut pelepasan spirit, menuntut pelepasan duniawi dan keterikatan pada tubuh manusia, mungkin sudah agak terlambat, bagi kaum muda dan kaum setengah baya rasa-rasanya agak kurang adil.

Ketika mencari kebijaksanaan dan jawaban dari Mahabharata, perhatian Das telah tertuju pada prinsip hukum alam semesta dan kekuatan hukuman dari langit. Dalam epic ada sebuah kisah (Drupadi). Dua saudara merasa ketidak-adilan pembagian wilayah yang ditetapkan oleh kerajaan, satu pihak yang irihati bersiasat untuk merebut tanah yang dimiliki pihak lain. Pada akhirnya setelah perjudian kedua belah pihak selesai, satu pihak kehilangan seluruh tanah, negara, kekayaan dan hamba, bahkan permaisurinya.

Ketika pemenang yang memiliki niat tak terprediksi melakukan tindakan tidak sopan dan mempermalukan permaisuri yang ditawan, bersiap melucuti semua gaunnya untuk dipermalukan di hadapan seluruh bangsawan, terjadilah mujizat!

Ketika sebuah gaun yang dikenakan di tubuh permaisuri baru dilepas, di tubuhnya segera muncul sebuah gaun lagi, dilepas lagi, muncul lagi, setiap kali selalu demikian. Anggota keluarga istana dan bangsawan kerajaan terkejut semua, mereka menyaksikan sendiri sebuah keajaiban yang nyata di dunia ini. Akhirnya kain yang dilepas menumpuk penuh di separo ruangan besar, permaisuri tetap mengenakan gaunnya dan berdiri tegak di sana. Si pendengki (Dursasana) itu akhirnya kelelahan dan merasa sangat malu, terpaksa menghentikan ulahnya dan duduk terkulai di atas kursi.

Dalam epic India, prinsip hukum alam semesta, kekuatan keadilan dan peraturan hukuman langit, memang diperlihatkan sedemikian rupa. Sesungguhnya melalui pemahaman terhadap Dharma alam semesta lama yang terbatas, Das telah memahami hukum (Dharma) lahir, tua, sakit, mati dari alam semesta lama, memahami waktu (atau mati) selalu sebagai penentu terakhir nasib manusia.

Mahabharata meskipun mengisahkan tentang kemenangan, namun dimata Das sama sekali berbeda. Di tengah kehidupan Das selama beberapa puluh tahun, ia selalu mencari Hukum (sejati) dan selama 30 tahun itu ia berjuang pada perusahaan-perusahaan besar di berbagai tempat dunia, hingga menjabat sebagai manajer senior. Ketika berusia 50 tahun, ia merasa bosan atas persaingan dan pengejaran materi yang seolah tiada batas, maka ia bertekad untuk pensiun.

Perasaan tiada berguna di dalam kehidupan, rasa takut menghadapi kematian dan menghadapi bergulirnya waktu, telah menggiring manusia ke dalam agama dan kepercayaan. Das menemukan dalam epic hanya “kebajikan” (virtue) merupakan sesuatu yang paling berharga dalam hidup. Juga dari tuntutan orang-orang terhadap prinsip alam semesta yang dilukiskan dalam epic, ia menemukan, tuntutan orang terhadap prinsip hukum terakhir, dalam pandangannya adalah “sejati (truth/satya)”,  “baik (compassion/anrishamsya)” dan “non kekerasan (non violence/ahimsa).”

Das telah benar-benar menemukan sebagian dari prinsip sejati alam semesta!

Pengamatan ini bagi banyak orang terutama orang yang berkultivasi (ber-olahjiwa) dalam hukum alam semesta sangat menarik. Karena makna sebenarnya kultivasi dalam Falun Dafa, yaitu yang dijelaskan dalam maha karya master Li Hongzhi: Zhuan Falun, adalah karakteristik tertinggi alam semesta, atau fundamental hukum alam semesta, justru adalah “Sejati, Baik (kasih), Sabar.”

Sebenarnya, jika makna yang digali oleh Das dari kebijakan kuno India itu diteruskan lebih mendalam, akan menemukan apakah hakiki “non kekerasan” itu? Bagaimana baru benar-benar dapat mencapai “non kekerasan?”

Sesungguhnya adalah “Sabar” dalam hukum alam semesta. Seseorang atau sebuah organisasi, sebuah bangsa, sebuah negara, jika benar-benar dapat melaksanakan “Sabar”, bukan hanya “non kekerasan,” bahkan pikiran dan bayangan tentang kekerasan pun tidak akan eksis lagi.

Terhadap setiap bab, setiap pahlawan dan setiap pertempuran yang terdapat dalam Mahabharata, Das dapat menghubungkannya secara organik dengan dunia masa kini, terutama kesengsaraan dunia sekarang. Umpama sifat iri hati manusia, kesetaraan masyarakat dan imbalan terhadap kebaikan dan kejahatan. Das mengambil kesimpulan bahwa yang tercakup dalam Mahabharata adalah kehidupan manusia yang tidak sempurna, mencakup masalah mengapa kadang kala orang baik dapat melakukan kejahatan, dan dalam dunia sekarang ini mengapa menjadi orang baik sebegitu sulitnya!

Das beranggapan, sang Pencipta tidak akan secara otomatis memberi manusia “moralitas,” sedangkan menjadi orang baik merupakan suatu hal yang sulit diraba dan harus diupayakan dengan ulet. Banyak orang (baik) yang telah berhasil kembali ke surga, dan menjadi Dewa di khayangan. Raja di India kuno pada akhirnya menemukan, “hukum” yang mereka cari-cari tersimpan dalam sebuah gua. Namun harga/ tumbal yang harus mereka keluarkan dalam pencarian hukum itu adalah pembunuhan, pengucuran darah dan peperangan yang tiada kunjung berhenti.

Dalam Bab Tinggal di Hutan, epic melukiskan orang-orang mencari Dewa di hutan, namun akhirnya pada meninggal di dalam hutan. Untunglah maha hukum sejati alam semesta kini telah diperlihatkan di depan manusia dunia, tergantung apakah kita bisa beruntung mendapatkannya atau tidak? (tys/whs/rmat)

TAMAT

Share

Video Popular