TAHUNA – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berkerja sama  dengan Perum Perikanan Indonesia (PERINDO) melakukan ekspor ikan perdana dari Tahuna, salah satu kawasan pulau terluar di Indonesia.

Sebanyak 24 Ton produk frozen muroaji yang merupakan ikan jenis malalugis diberangkatkan dari Pelabuhan Dagho dengan tujuan negara Jepang, Kamis (12/5/2016). Ekspor perdana ini ditandai dengan penyerahan sertifikat kesehatan ikan (health certificate), sebagai syarat wajib dari  produk perikanan yang akan diekspor.

Kementerian KKP dalam siaran pers di Jakarta menyebutkan, guna menjaga kontiunias ekspor secara berkelanjutan, pada kesempatan yang sama juga dilakukan penandatangan kesepakatan bersama  dengan  Perum PERINDO.

“Untuk meningkatkan volume dan nilai ekspor ke depan, saya memberikan penugasan kepada PERINDO. Saya juga mengharapkan agar seluruh nelayan di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sitaro dan Talaud harus mendaratkan seluruh ikan hasil tangkapannya di pelabuhan perikanan Indonesia, dan tidak melakukan penjualan di tengah laut,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat kunjungan kerja ke Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.

Selain melalui jalur laut, seterusnya ekspor langsung ke negara tujuan juga dilakukan  melalui jalur udara dari Bandar Udara Naha di Tahuna. Sedangkan untuk kebutuhan domestik atau dalam negeri tetap akan dipenuhi baik laut melalui Bitung dan udara melalui Manado.

Usai melepas ekspor perdana, Menteri Susi juga meresmikan dermaga dan  revitaliasi pelabuhan  dalam  rangka Pembangunan  Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (PSKPT), yang dipusatkan di Pelabuhan  Perikanan Pantai (PPP) Dagho.

Tahuna yang berada di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara ini menjadi satu dari 15 pulau terluar dan kawasan perbatasan yang diprioritaskan pembangunannya sebagai sentra kelautan dan perikanan terpadu pada tahun 2016, serta menjadi salah satu gateway untuk ekspor produk perikanan di kawasan timur Indonesia.

Menteri Susi mengungkapkan, PSKPT Dagho memiliki potensi investasi yang luar biasa untuk dikembangkan, namun ironisnya pemanfaatan nya masih sangat minim. Potensi investasi sektor perikanan yang dimanfaatkan relatif  masih kecil, hanya 27.200 Ton per tahun atau nilai pemanfaatannya baru 30,8 persen saja.

Jumlah itu dipasok  masyarakat nelayan  sebanyak 10.485 Ton dengan  9.669 kapal < 5 GT dan sisanya dari investor dengan kapal 15 GT yang hanya berjumlah  4 unit saja. Padahal Kepulauan Sangihe menyimpan potensi yang besar sebagai penghasil komoditas ekspor unggulan  seperti cakalang dan tuna. Minimnya nilai pemanfaatan karena terkendala sarana dan prasarana yang tidak memadai.

Untuk itu, pemerintah  melalui KKP terus mendorong  Kepulauan Sangihe untuk menjadi sentra kawasan terpadu dengan membangun berbagai sarana dan prasarana pendukung. Pada areal seluas 32000 m2 di bangun unit pengolahan ikan (UPI) seluas 450 m2,  dua gedung pabrik es dengan kapasitas masing-masing 3 ton, gedung coldstorage 10 ton, gedung pabrik es compressor mycom 20 ton,  dan ice storage 5 ton.

Selain itu juga dibangun instalasi listrik kapasitas 50 KVA, instalasi air, sleepway sepanjang 40 m, dermaga pelabuhan 6×30 m, tanki BBM 2 unit (5 KL dan 600 KL), serta Solar Packed Dealer Nelayan (SPDN) 4000 ton. Adapun anggaran yang disiapkan untuk merevitalisasi PPP Dagho ini mencapai Rp 29,5 miliar. (asr)

Share

Video Popular