Oleh: Wei Jingsheng

Tahun ini adalah peringatan 50 tahun meletusnya Revolusi Kebudayaan di Tiongkok. Artikel terkait Revolusi Kebudayaan pun kian hari kian banyak. Ada yang bernuansa peristiwa pahit dengan memori manis, lengkap dengan pujian terhadap jasa Deng Xiaoping karena menempuh reformasi keterbukaan, ada yang bernuansa teori golongan darah baru, menghujat para keturunan generasi kedua dinasti merah, sebagai sasaran pelampiasan, ada juga yang dengan serius menyimpulkan pelajaran dari pengalaman pahit ini, berupaya menghindari terulangnya tragedi serupa. Sangat beraneka ragam.

Saya merasa jika ditelusuri dari awal, harus dibahas dari maksud dan tujuan partai komunis melancarkan Revolusi Kebudayaan, baru bisa ditemukan pelajaran yang sebenarnya, sehingga bisa menimbulkan efek memperingatkan para generasi penerus untuk tidak mengulangi hal serupa.

Dimulai dari diawalinya Revolusi Kebudayaan. Pernyataan pertama yang dilontarkan Deng Xiaoping setelah melakukan reformasi keterbukaan, adalah Mao Zedong dan Geng Empat Orang yang melancarkan Revolusi Kebudayaan, dengan tujuan menyingkirkan para kader senior yang mengacaukan pembangunan ekonomi. Mengapa kader senior disingkirkan? Mengapa mengacaukan pembangunan perekonomian? Ini sangat tidak masuk akal. Para filsuf mengatakan, yang eksis adalah yang rasional. Pepatah mengatakan, di balik sesuatu yang tidak rasional pasti ada prinsipnya tersendiri.

Dikatakan dilakukannya Revolusi Kebudayaan bertujuan menyingkirkan para kader senior, berarti kondisi dari pernyataan ini adalah para kader senior itu orang-orang bodoh, yang secara antusias telah mengikuti tipu muslihat yang hendak menjatuhkan diri mereka sendiri. Kondisi ini jelas tidak masuk akal, baik Liu Shaoqi (presiden RRT 1959-1968) dan Deng Xiaoping bukan orang bodoh. Dan sikap antusias keduanya saat ambil bagian di masa awal Revolusi Kebudayaan serta efek penting yang ditimbulkannya, jauh melampaui Lin Biao (Pemimpin militer dan politik PKT. Ia awalnya dikenal sebagai rekan dan berprospek sebagai penerus Mao Zedong, tapi kemudian dinyatakan sebagai seorang pengkhianat) maupun yang disebut sebagai Geng Empat Orang.

Seperti diketahui, dokumen simbolis yang memicu Revolusi Kebudayaan adalah Surat Pemberitahuan Pusat Partai Komunis Tiongkok/ PKT yang terbit pada 16 Mei 1966, yang kemudian disingkat Pemberitahuan 516. Saat surat ini diloloskan pada Rapat Pleno Pusat, semua yang hadir telah mengacungkan tangan tanda setuju. Pada Rapat Pleno waktu itu, pada Komisi Politbiro dan para anggota tetapnya, seberapa besar rasio jumlah pengikut Lin Biao beserta Geng Empat Orang?

Jadi tidak bisa dikatakan bahwa Lin Biao bersama Geng Empat Orang, atau Mao Zedong seorang, yang telah melancarkan Revolusi Kebudayaan. Ini adalah keputusan bersama PKT, merupakan hasil dari pemikiran ideologi unik PKT. Satu dekade kemudian, untuk cuci tangan dari tanggung jawab ini, dan untuk melanjutkan kekuasaan satu partai, Deng Xiaoping melemparkan tanggung jawab ini kepada lawan politiknya.

Ada orang membuat kesaksian, Lin Biao pernah berkata bahwa Mao Zedong sungguh hebat, adalah seorang jenius langka yang terlahir setiap 100 tahun sekali, itu sebabnya ia mampu menggerakkan Revolusi Kebudayaan sendirian. Apakah pujian memuakkan seperti ini bisa dianggap benar? Apalagi di balik pernyataan ini juga tersirat makna: apa yang Anda lakukan adalah tanggung jawab Anda sendiri, kami hanya pengikut yang melakukan kesalahan bersama Anda.

Dengan kecerdasan Mao Zedong, tidak mungkin tidak menyadari tipu muslihat yang tersembunyi di baliknya. Jadi pujian menjijikkan itu justru sering mendapat sindiran pedas dari Mao Zedong. Sebaliknya ia tidak merasa tidak senang dengan pujian dari Geng Empat Orang dan juga orang-orang lain, justru terlihat sangat menikmatinya. Mengapa hanya menyindir Lin Biao? Empat tahun kemudian, rencana kudeta Lin Biao yakni “Ringkasan Proyek 571” mengungkap misteri itu (yang menewaskan Lin Biao suami istri beserta putranya dalam insiden pesawat jatuh di wilayah Mongolia. Red.), terbukti naluri Mao Zedong tidak salah.

Dua belas tahun kemudian Hua Guofeng (Kepala Negara RRT 1976-1980) dan Deng Xiaoping hanya melanjutkan kudeta gagal dari Lin Biao, dan meneruskannya dengan menangkap para penerus Mao Zedong, dan melemparkan semua tanggung jawab pada Mao Zedong dan pengikut setianya. Kemudian suatu kebijakan ekonomi pasar yang sama sekali berbeda dengan ideologi partai komunis pun diterapkan, sehingga usia rezim otoriter partai komunis pun bisa diperpanjang.

Bagi rakyat Tiongkok, ini adalah satu hal baik sekaligus juga hal buruk. Hal baiknya adalah ekonomi berhasil bangkit kembali, sebagian orang mulai hidup lebih makmur, standard kehidupan rata-rata pun meningkat. Hal buruk adalah rezim satu partai ini terus bertahan hidup, rakyat tidak hanya hidup di tengah ketakutan, dan sebagian besar rakyat tetap tidak bisa menikmati hasil dari pertumbuhan ekonomi ini. Hal baik ternetralisir oleh hal buruk, golongan masyarakat menengah ke bawah yang relatif jauh lebih banyak, merindukan paham sama rata sama rasa ala Mao Zedong, hal ini bukannya tidak masuk akal.

Banyak hal, yang jika diamati dari sisi kebalikannya justru akan terlihat lebih jelas. Sejak dilancarkannya Revolusi Kebudayaan di era tahun 60-an, hingga kekacauan di era tahun 70-an bisa terlihat. Yang diperdebatkan seputar Revolusi Kebudayaan adalah masalah untung rugi antara sistem perekonomian ala paham  komunis dengan sistem perekonomian pasar. Tujuan dilancarkannya Revolusi Kebudayaan adalah memudahkan diterapkannya sistem perekonomian ala paham sosialis di dalam ideologi partai komunis.

Merubuhkan penguasa yang menempuh jalan paham kapitalis adalah cara untuk menyelaraskannya dengan tujuan utama. Sekaligus menyingkirkan lawan politik, adalah konten yang rasional dalam cara tersebut. Sejumlah kader yang menyadari hal ini dan bertobat ke jalan yang benar, dipekerjakan kembali setelah dihancurkan. Terbukti bahwa gerakan ini bukanlah untuk menyingkirkan sebagian kader, melainkan demi jalan paham sosialis yang dianggap benar oleh Mao Zedong.

Pertikaian akan jalan ini, adalah konflik mengenai haluan utama selama 17 tahun pertama (1949-1966). Setelah berkuasa partai komunis secara perlahan mulai menerapkan kebijakan paham sosialisnya, termasuk kolektivisasi pertanian dan ekonomi industri terencana. Kolektivisasi pertanian segera mendatangkan bencana kelaparan, yang menewaskan puluhan juta jiwa warga tani.

Kaum realis yang diwakili oleh Liu Shaoqi berharap agar tanggung jawab ini bisa dilemparkan pada Mao. Untuk menjaga supremasi partai komunis, kebijakan ekonomi semi pasar pun dimulai (1960-1966). Mao Zedong berkat dukungan dari Lin Biao dan kaum sayap kiri di partai, berhasil mencapai kompromi dengan kaum reformasi, kesulitan berhasil dilalui, tapi di dalam hatinya tidak bisa menerima hal ini.

Terutama terhadap haluan paham kapitalis sangat tidak bisa diterima. Dengan mengatas namakan Revolusi Kebudayaan, dukungan dari sebagian besar internal partai pun diraih, dan perseteruan politik menyingkirkan para penguasa yang menganut paham kapitalis. Revolusi Kebudayaan dan jalan paham sosialis adalah teori fundamental bagi partai komunis, sehingga bisa mendapat dukungan dari mayoritas anggota partai.

Melakukan pembersihan kader demi kelancaran jalan kebenaran partai, adalah cara yang mendasar bagi partai komunis yang dimulai oleh Uni Soviet. Tidak mendapat perlawanan yang serius, justru sebaliknya mendapat dukungan penuh dan kerjasama dari Liu Shaoqi dan Deng Xiaoping dari pusat, sehingga gerakan revolusi tersebut pun dengan cepat menjadi gebrakan kuat yang tak terbendung.

Jadi jika dikatakan Mao Zedong melancarkan Revolusi Kebudayaan bukanlah sejarah yang sebenarnya, berangkat dari ideologi partai komunis, hampir secara bersamaan melancarkan gerakan Revolusi Kebudayaan, itulah sejarah yang sebenarnya. Tanggung jawab atas bencana ini bukan hanya terletak pada Mao Zedong dan pengikut setianya saja, melainkan seluruh partai komunis dan ideologinya harus bertanggung jawab penuh. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular