Oleh: Lin Yan

Laporan Global Catastrophic Risks Report 2016 yang dirilis Oxford University baru-baru ini menyebutkan, bahwa berbagai bencana global kini semakin mengancam peradaban manusia. Apabila terjadi, dapat mengakibatkan sepersepuluh dari populasi dunia (sekitar 1,7 miliar jiwa) mengalami bencana yang fatal.

Laporan tersebut mengkategorikan dua bentuk risiko bencana global, pertama adalah yang sedang terjadi, yang dapat menimbulkan konsekuensi bencana, dan kedua adalah potensi bencana yang dapat terjadi satu dekade kemudian.

Bahaya dari bencana dahsyat yang sedang terjadi adalah wabah besar dan perang nuklir, namun, potensi bahaya terbesar saat ini adalah perubahan iklim dan sejumlah ilmu pengetahuan dan pengembangan teknologi, terutama rekayasa intelektual atau penciptaan robot. Selain itu, risiko bahaya yang berpotensi mengancam adalah letusan gunung berapi, tabrakan asteroid ke Bumi dan bencana lainnya.

Sejarah pelajaran dari wabah

Laporan terkait di atas mengatakan, bahwa sejarah telah meninggalkan pelajaran yang sangat mendalam bagi kita. Seperti misalnya wabah dahsyat flu Spanyol pada 1918 yang menyebar ke seluruh dunia, 5% dari populasi dunia tewas karena keganasannya yang tak terbendung kala itu. Setelah itu, sepertiga dari populasi dunia kembali terinfeksi berbagai penyakit (misalnya virus influenza), setengah diantaranya meninggal karena infeksi (misalnya virus Ebola atau SARS).

Meskipun sekilas tampak tidak ada wabah besar sekarang, tetapi kemungkinan itu selalu ada, seperti misalnya virus influenza H5N1 adalah salah satu contoh nyata.

Bangsa Maya pernah meramalkan bahwa pada 12 Desember 2012, segenap dunia mengalami perubahan radikal. (The Epoch Times)
Bangsa Maya pernah meramalkan bahwa pada 12 Desember 2012, segenap dunia mengalami perubahan radikal. (The Epoch Times)

Bahaya yang diremehkan

Bahaya perang nuklir sudah dimulai sejak pembuatan senjata nuklir. Jika terjadi perang nuklir, maka pertempuran nuklir pertama akan menyebabkan puluhan atau bahkan ratusan juta penduduk menemui ajalnya. Setelah itu, akan semakin banyak orang tewas karena musim dingin yang dipicu oleh nuklir. Meskipun krisis nuklir agak mereda setelah Perang Dingin, namun, jika terjadi kecelakaan/ hal yang tak terduga akan menimbulkan bencana global.

Laporan terkait secara khusus menyebutkan, bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi bisa menimbulkan bencana, tetapi hanya segelintir orang yang memahaminya. Banyak perkembangan teknologi akan membawa bencana biosfer dan pada manusia itu sendiri. Seperti misalnya bioteknologi dapat membuat materi/ bakteri patotgen jenis baru yang sifat racunnya jauh lebih mematikan daripada racun alaminya.

Sementara Artificial Intelegence atau kecerdasan buatan itu dapat menghancurkan umat manusia dalam berbagai aspek. Orang-orang perlu mengkaji dan menelaah secara lebih mendalam terhadap kedua teknologi ini, untuk menemukan lebih banyak sisi risikonya bagi manusia.

Ilustrasi berbagai bencana global di ujung mata yang mengancam sepersepuluh populasi dunia. (Internet)
Ilustrasi berbagai bencana global di ujung mata yang mengancam sepersepuluh populasi dunia. (Internet)

Faktanya dikaburkan secara sistem

Laporan di atas memaparkan secara luas, bahwa bencana global kini berada di ujung mata, namun oleh sebagian besar kalangan, bahwa risiko dari faktor-faktor politik dan ekonomi yang ditimbulkannya itu tidak begitu serius.

Meskipun ada beberapa pemerintah negara di dunia menyadari betul akan bahaya ini, tetapi tidak bersedia mencurahkan perhatiannya sendiri dan berharap negara-negara lain melakukan upaya tersebut. Hal itu dikarenakan tidak adanya kesepakatan dan kemauan bersama antar lembaga atau organisasi masing-masing negara, sehingga tidak dapat mencapai kerjasama. Sementara demi meraih manfaat sepihak dari sisi perdagangan dan ekonomi, kelompok berkepentingan selalu menunda waktu pembahasan tanpa mempertimbangkan manfaat positif bersama secara keseluruhan. Singkatnya, dunia tidak membentuk sebuah kekuatan bersama dalam menghadapi bencana dimaksud.

Namun, bahaya yang dihadapi dunia ini sangat dahsyat dan belum pernah terjadi sebelumnya, misalnya wabah besar yang akan menyebabkan kematian hingga 10% populasi dunia. Jika dihitung berdasarkan angka 7 miliar penduduk dunia, maka akan ada 1,7 miliar orang tewas akibat bencana global.

Tujuan dari analisis studi ini dimaksudkan untuk menarik perhatian masyarakat akan kemungkinan bahaya dari bencana global, serta menemukan cara penanganan yang baik untuk mengurangi risiko atau sebaiknya melenyapkan risiko atas bencana fatal secara global ini. (Epochtimes/joni/rmat)

 

Share

Video Popular