Oleh: Zhou Xiaohui

Pada  2 Mei lalu, di Balai Kota Beijing digelar suatu konser musik, tapi banyak pihak mendapati, konser yang sebelumnya diiklankan besar-besaran dan diprakarsai oleh Departemen Propaganda itu, ternyata tidak ada satu pun beritanya di media massa maupun di situs internet manapun di Tiongkok. Bahkan mikroblog terkait konser itu pun dihapus. Ini jelas bukan hal biasa, satu-satunya penjelasan adalah, beritanya telah disensor, pihak penguasa bermaksud menyelesaikannya secara diam-diam.

Apa penyebabnya? Menurut informasi di internet, pertunjukan konser berskala besar tersebut dilakukan oleh group “56 Flower” dengan topik “In the field of hope.” Dari 30 lagu yang ditampilkan sebagian besar adalah “lagu merah (komunis)” dan 3 lagu terakhir adalah lagu pujian bagi Xi Jinping yang berjudul “Don’t Know How to Name You”, “House of Bun”, dan lagu terkenal  “in the field of hope” yang pernah dinyanyikan oleh Peng Liyuan (first lady RRT, istri Xi Jinping).

Selain itu, selama pertunjukan latar belakang panggung memperlihatkan gambar kepala Mao Zedong beberapa saat, kemudian berganti foto Xi Jinping sehari-hari dan pada saat parade militer. Tak heran jika hal ini akan membuat netter berpikir pemerintahan berkuasa sekarang mengusung kultus individu dan akan menempuh jalan lama Revolusi Kebudayaan. Dan inilah alasan utama disensornya konser tersebut, karena hal ini bertolak belakang dengan pemerintahan Xi Jinping, sangat memungkinkan konser ini bertujuan untuk mencoreng citra Xi Jinping.

Awal April, situs surat kabar “People’s Daily” milik Partai Komunis Tiongkok/ PKT ada artikel berjudul “Siapa Bilang RRT Mengusung Kultus Individu?”Bbisa jadi merupakan sinyal yang dilontarkan pemerintahan berkuasa. Artikel itu menyampaikan empat informasi penting, yang pertama adalah Tiongkok sedang mengalami suatu perubahan yang fundamental, tidak mudah untuk menjadi pemimpin Tiongkok yang baik. Oleh karena itu harus bisa menyaring komentar dari pihak luar.

Kedua adalah menepis teori bahwa “di Tiongkok mungkin akan muncul kultus individu” dan mengatakan bahwa tidak akan terjadi di Tiongkok saat ini, terutama karena RRT telah sama sekali berbeda dengan era Mao Zedong, rakyat Tiongkok telah terkoneksi dengan dunia, dan telah memiliki kemampuan analisa dan penilaian sendiri, mereka juga tidak akan mengijinkan negara membawa mereka kembali ke masa itu.

Ketiga adalah memahami mengapa Xi Jinping menginginkan sentralisasi kekuasaan, karena kondisi yang khusus membutuhkan kebijakan antisipasi yang khusus pula, seiring dengan Tiongkok memasuki tahap reformasi berikutnya, lapisan pemimpin yang kuat adalah jaminan keberhasilan di masa mendatang.

Hal keempat menyinggung latar belakang soal opini “kultus individu” adalah kubu kekuatan yang menentang reformasi berupaya mencoreng citra Xi Jinping, serta akibatnya akan membuat rakyat antipati, pada akhirnya meruntuhkan kekuasaan Xi Jinping.

Jelas, pemerintah menepis teori kultus individu, dan menjelaskan ada pihak yang memanfaatkan kesempatan untuk merusak citra Xi Jinping. Tidak diragukan, konser musik yang digelar oleh Departemen Propaganda di balai kota sangat sesuai dengan ciri khas tindakan “merusak citra.”

Faktanya, sejak Xi Jinping berkuasa setelah Rapat Pleno ke-18 lalu, menghadapi onggokan sampah korupsi yang ditinggalkan pendahulunya Jiang Zemin yang korup. Menghadapi kubu Jiang yang diam-diam berupaya menjatuhkannya, untuk menghindari konflik langsung dengan kubu Jiang dan mengacaukan situasi, Xi Jinping memilih untuk melakukan sentralisasi kekuasaan, yakni dengan menempuh cara sentralisasi kekuasaan ketat untuk merubuhkan korupsi, mendorong reformasi militer, mendorong perubahan fungsi pemerintahan, dan hal ini juga yang justru mengakibatkan munculnya rumor “kultus individu.”

Sejak semester kedua tahun lalu kian hari kian banyak hujatan terhadap Xi Jinping, inilah tipikal pencorengan citra, tujuannya adalah memicu antipati dari masyarakat untuk menyerang Xi Jinping, dan dalang utama di baliknya seharusnya adalah anggota Komisi Tetap dari kubu Jiang Zemin yang menguasai Departemen Propaganda yakni Liu Yunshan.

Seharusnya kubu Xi Jinping telah menyadari masalah pengrusakan citra, dan telah memberi peringatan keras terhadap media massa, melarang media untuk menyebut Xi dengan julukan “Bos Xi.” Tidak boleh mempublikasikan pujian apa pun terhadap Xi dan lain-lain. Dan dalam menghadapi Liu Yunshan berikut Departemen Propagandanya yang terus mengacau, kubu Xi terus menghancurkan pondasi sistem propaganda. Seperti kasus “Dokumen Panama” yang terjadi baru-baru ini, antek Liu Yunshan yakni editor surat kabar “Guang Ming Daily” bernama He Dongping dipecat.

Sensor berita mengenai konser musik yang digelar Departemen Propaganda seperti ini kembali membuktikan satu hal, adu kekuatan antara kedua kubu ini telah memojokkan Liu Yunshan hingga tak mampu melawan lagi, Liu tidak lagi bisa memberikan perintah seperti dulu. Masalahnya adalah, apakah Liu Yunshan yang ibarat telur di ujung tanduk ini akan berdiam diri saja? (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular