JAKARTA –  Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar menghasilkan Setya Novanto sebagai Ketua Umum Partai Golkar Periode 2016-2019. Posisi Novanto menggantikan Aburizal Bakri yang akhirnya dinobatkan sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar yang sebelumnya menjabat sebagai Ketum Partai Golkar. Munaslub 2016 juga menetapkan secara resmi Partai Golkar keluar dari Koalisi Merah Putih (KMP).

Pemilihan Ketua Umum Partai Golkar di Bali Nusa Dua Convention Center, Badung, Bali, diramaikan dengan ikut serta 8 kandidat yakni Setya Novanto, Ade Komarudin, Aziz Syamsudin, Syahrul Yasin Limpo, Airlangga Hartato, Mahyudin, Indra Bambang Utoyo dan Priyo Budi Santoso.

Novanto terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar setelah kandidat Ade Komarudin mengikhlaskan posisi ketua umum dijabat oleh Novanto. Pada hasil voting sebelumnya Setya Novanto unggul sebanyak 277 suara dibandingkan dengan Ade Komarudin yang memperoleh sebanyak 173 suara.

Sosok Novanto adalah ketua umum partai Golkar yang sempat menuai kontroversial sebelumnya. Perkara yang paling menyita perhatian publik adalah kasu papa minta saham yang menjerat dirinya beberapa waktu lalu. Politikus kelahiran Bandung, 12 November 1954 in akhirnya mengundurkan dari posis Ketua DPR RI bersamaan sidang etika yang digelar oleh Majelis Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI.

Sejumlah deretan kasus pernah menjerat Novanto namun Novanto hanya diperiksa sebagai saksi dalam deretan kasus-kasus tersebut. Kasus yang turut memanggil Novanto mulai kasus suap pembangunan lanjutan venue Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII dengan tersangka Gubernur Riau, Rusli Zainal.

Kasus lainnya yang menjerat Novanto adalah proyek e-KTP tahun anggaran 2011-2012, Kasus PT Bank Bali, kasus penyelundupan 60 ribu ton beras. Namun sejumlah kasus-kasus yang sempat disebut-sebut melibatkan dirinya dibantah oleh Novanto. Hingga kini Novanto tak pernah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus yang melibatkan kesaksian dirinya.

Novanto bukanlah orang yang baru di tubuh Partai Golkar, dia sebelumnya pernah menjabat sebagai Anggota DPR-RI dari Partai Golkar  selama empat periode. Ia menduduki kursi parlemen pada periode 1999 – 2004, 2004 – 2009, 2009 – 2014 dan 2014 – 2019. Selama Munaslub Golkar sempat berhembus isu bahwa pencalonan Novanto sebagai Ketum Golkar didukung oleh Istana Kepresidenan. (asr)

Share

Video Popular