Provinsi Papua tercatat mempunyai Prevalensi Hipertensi Nasional terendah dibanding provinsi lainnya di Indonesia. Berdasarkan data Riskendas 2013, Papua prosentasenya 16, 8 %. Angka itu jauh dibanding dengan Bangka Belitung yang menempati urutan pertama, sebesar 30,9 %.

“Metode memasak dengan cara dibakar, bakar batu, mengakibatkan penggunaan minyak dan makanan olahan bersantan minim, kemungkinan itu yang menyebabkan  Papua rendah angka hipertensi warganya,” jelas dr. Lili Sriwahyuni Sulistyowati MM saat acara Temu Media Massa dan Sosial di Gedung D, Balitbang Kemenkes RI, Senin 16/5/2015).

Data Riskendas 2013 tersebut juga menyebutkan bahwa dari 25,8% orang yang mengalami tekanan darah tinggi, hanya 1/3 yang terdiagnosis/ minum obat. Sisanya tidak terdiagnosis. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penderita hipertensi tidak menyadari menderita hipertensi atau mendapatkan pengobatan. Padahal hipertensi yang tidak mendapatkan penanganan yang baik menyebabkan komplikasi seperti stroke, penyakit jantung koroner, diabetes, gagal ginjal, dan kebutaan.

“Stroke dan penyakit jantung koroner merupakan penyebab kematian tertinggi,” kata dr. H. M. Subuh, MPPM, selaku Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PPTM) Kemenkes RI di acara yang sama.

(Data dari P2P Kemenkes RI. (rmat)
(Data dari P2P Kemenkes RI. (rmat)

Upaya Kementerian Kesehatan RI terkait soal hipertensi telah dilakukan, seperti meningkatkan promosi kesehatan melalui KIE dalam pengendalian hipertensi dengan perilaku CERDIK. Meningkatkan pencegahan dan pengendalian hipertensi berbasis masyarakat dengan “self awareness” melalui pengukuran tekanan darah secara rutin atau minimal 1 kali dalam sebulan di Posbindu PTM. Penguatan pelayanan kesehatan dengan cara meningkatkan akses ke fasilitas kesehatan tingkat pertama, optimalisasi sistem rujukan, dan peningkatan mulu pelayanan.

Pada kesempatan itu, dr. Subuh mengajak dan  menghimbau semua pihak baik pemerintah, swasta, dan masyarakat untuk dapat berpartisipasi.

“Kita ingin setiap kantor di pemerintah ada pojok atau tempat untuk memeriksa tekanan darah,” katanya.

Ia juga menyarankan agar setiap orang bisa melakukan pengecekan darah secara rutin. Memiliki self awarness dengan melakukan pengukuran tekanan darah secara rutin atau minimal satu kali dalam setahun.

Terkait dengan hari Hipertensi Sedunia 2016, yang diperingati setiap 17 Mei, hari ini, Departemen Kesehatan mengambil peran dengan melakukan kegiatan penyebaran informasi (sosialisasi) dan pengukuran tekanan darah. Tema yang diusung pun jelas mengajak masyarakat untuk tak ragu-ragu mengukur tekanan darahnya, yakni “Ketahui Tekanan Darahmu.” Tujuannya adalah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya mencegah dan mengendalikan hipertensi. (rmat)

Share

Video Popular