JAKARTA – Dua pesawat maskapai asing pada awal bulan Mei ini mengalami turbulensi hebat di udara wilayah Indonesia. Dua pesawat tersebut adalah Etihad Airways EY -474 rute Abu Dhabi-Jakarta pada Rabu (4/5/2016) dan Hong Kong Airlines CRX-6704/ HX-6704 rute Denpasar – Hong Kong pada Sabtu (7/5/2016).

Hong Kong Airlines mengalami turbulensi di wilayah udara sekitar pulau Kalimantan saat hendak menuju Hong Kong setelah lepas landas dari Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Sedangkan Etihad Airways terkena turbulensi di kawasan bukit barisan Sumatera saat sekitar 45 menit kemudian mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.

Akibat turbulensi itu dari Etihad Airways menyebutkan 31 penumpang dan awak pesawat mereka terluka diantaranya memar-memar hingga patah tulang akibat guncangan sekitar 30 menit. Sementara turbulensi  Hong Kong Airlines yang membawa 204 penumpang menyebabkan 17 penumpang mengalami luka ringan dan 3 luka berat.

Laporan meteorologi tersebut dipublikasikan oleh tim meteorolog penerbangan BMKG oleh Mustafa Heru Jatmika selaku Kepala Bidang Meteorologi Penerbangan BMKG bersama sejumlah staf bidang Informasi Meteorologi Penerbangan BMKG.

Turbulensi Etihad Airways

Mengutip laporan BMKG dari situs resminya, Rabu (18/5/2016) kejadian Etihad Airways diduga akibat turbulensi di sekitar pulau Sumatera Bagian Selatan pada 4 Mei 2016 sekitar pukul 13.00 – 14.00 WIB.

Kejadian pada ketinggian sekitar 37.000 feet pesawat mengalami gerak keatas dan ke bawah yang mengakibatkan penumpang yang sedang tidak berada pada tempat duduk terlempar keatas dan kebawah, serta barang-barang di dalam bagasi kabin terlempar berhamburan menimpa penumpang yang duduk.

Menurut BMKG, diperkirakan kekuatan goncangan turbulensi ini pada tingkat severe. Pada level ini menurut Federal Aviation Adminstration (FAA) pesawat mengalami perubahan ketinggian dan arah yang besar  sehingga pesawat tidak dapat terkontrol dalam beberapa saat.

Berdasarkan analisis citra satelit Himawari 8 produk jenis awan dan kanal 8,9,dan 10, antara  pukul  13.00 – 14.00  WIB  EY-474  tidak  memasuki  awan  CB  pada  jalur penerbangan. Kejadian ini disebut Turbulensi cuaca cerah, Clear Air Turbulance (CAT), yang terjadi secara umum pada lapisan atas atmosfer (sekitar 30.000 – 50.000 feet). Diindikasikan turbulensi tingkat severe/parah ini kombinasi dari Gelombang dekat Pegunungan Bukit Barisan di Sumatera Bagian Selatan dan Awan CB di sekitar jalur penerbangan EY-474.

Turbulensi Hong Kong Airlines

Sementara terhadap pesawat Airbus milik Hong Kong Airlines yang terjadi dua hari kemudian akibat turbulensi pada lapisan ketinggian sekitar 41.000   kaki. Turbulensi ini juga diperkirakan dengan kekuatan tingkat severe, tetapi karena skalanya kecil produk SigWx WAFC London dan Washington tidak mendeteksi CAT tersebut.

Menurut BMKG, kejadian beruntun dari turbulensi tingkat severe ini diindikasikan akibat peningkatan perbedaan kecepatan angin pada level atas pada level tropopause (39.000 – 45.000 kaki) Hal ini menyebabkan shear (perbedaan arah dan kecepatan) yang besar yang berpotensi pada kejadian Turbulensi.

Meterolog penerbangan BMKG menyebutkan, aktifitas konvektif/awan CB pun memberikan kontribusi meningkatnya turbulensi cuaca cerah di daerah disekitar awan CB. Dari model cuaca menunjukkan potensi terjadinya CAT dengan prosentase antara 2 – 4 % di dekat lokasi insiden turbulensi.

Oleh karena fenomena CAT sulit dideteksi secara tepat lokasi kejadiannya, BMKG mengharapkan kepada maskapai penerbangan untuk meningkatkan awareness-nya dan menyampaikan AIREP kejadian CAT dan turbulensi lainnya kepada unit ATS untuk disampaikan tanpa delay kepada Kantor Meteorologi setempat.

“Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia sebagai langkah pengurangan dampak risiko keselamatan penerbangan dan sebagai bahan evaluasi serta perkembangan model prakiraan CAT,” tulis laporan BMKG. (asr)

Share

Video Popular