Pemerintah Korea Utara/ Korut mengirim surat diplomatik kepada pemerintah Inggris yang memberitahukan tentang pengangkatan Ri Yong-ho sebagai Menteri Luar Negeri menggantikan Ri Su-yong. Beberapa analis berpendapat bahwa penggantian tersebut mungkin bertujuan untuk mengurai ketegangan hubungan antara Korut dengan negara lain di dunia.

Laporan media menyebutkan bahwa Ri Yong-ho adalah seorang diplomat karir. Ia dipromosikan dari jabatan Wakil Menteri Luar Negeri. Selain dipercaya menjadi ketua delegasi Korut dalam negosiasi mengenai masalah nuklir. Ia juga pernah menjabat sebagai duta besar Korut untuk Inggris.

Dalam surat yang dikirim ke Inggris itu, pemerintah Korut tidak menyinggung soal mengapa Ri Su-yong diganti. Tetapi badan intelijen Korea Selatan pernah mengatakan bahwa Ri Su-yong dipromosikan menjadi Wakil Komite Sentral Partai Buruh untuk urusan Internasional.

Beberapa analis berpendapat bahwa penunjukan Ri Yong-ho sebagai Menteri Luar Negeri mungkin bertujuan untuk memulihkan hubungan diplomatik dengan negara-negara yang memburuk akibat uji coba nuklir dan peluncuran roket jarak jauh. Tindakan Korut yang belakangan ini memicu kemarahan masyarakat internasional, dan membuat Dewan Keamanan PBB mengeluarkan sanksi yang paling berat.

Presiden Korea Selatan Park Geun-hye di Istana Biru, Seoul pada 17 Mei 2016 mengatakan bahwa bila saja Korea Utara mau mencontoh Iran menghentikan program pengembangan nuklir dan membuka pintu untuk kepentingan pemeriksaan internasional, maka negara itu akan memperoleh bantuan Korea Selatan dan masyarakat internasional yang akan menghantar pertumbuhan ekonomi bagi negara itu. Namun, bila mereka tetap mengabaikan peringatan Korea Selatan dan masyarakat internasional, bahkan bersikeras melakukan provokasi, maka mereka hanya akan dihadapkan pada tekanan dan sanksi lebih keras dari masyarakat internasional, sampai akhirnya menemui ajal.

Baru-baru ini Korut menyelenggarakan Kongres Partai Buruh. Namun ucapan selamat dari Beijing tak kunjung diterima sampai pada hari pembukaannya. Ucapan yang ditujukan kepada Kim Jong-un itu selain tidak menggunakan sebutan rekan sebagaimana lazim dipakai oleh orang-orang Partai Komunis Tiongkok/ PKT memanggil sesama, juga tidak disertai dengan harapan dari Xi Jinping yang disampaikan secara tertulis. Hal ini menunjukkan bahwa Beijing menyangkal sejalan dengan Korut dan juga menjaga jarak hubungan dengan Kim Jong-un beserta Partai Buruh Korut.

Sementara itu, mantan pejabat Deplu Tiongkok Dai Bingguo di Seoul pada 16 Mei 2016 mengatakan, “Korut sudah berada dalam kondisi sulit untuk bertahan hidup bila mereka tidak bersedia melakukan perubahan,”

Ia juga menyinggung, “Kalau saja di Korea Selatan, maka periode kepemimpinan Ketua Partai Buruh Kim Jong-un itu seharusnya sudah berakhir.”

Orang kedua di Korea Utara, Kim Yong-nam diketahui terbang dari Pyongyang menuju Beijing dengan menggunakan pesawat milik Korut Air Koryo pada Selasa (17/5/2016). Dari Bandara Beijing ia kemudian naik kendaraan menuju arah kota.

Media Jepang mengatakan bahwa Kim Yong-nam tidak melakukan kunjungan ke Tiongkok tetapi hanya transit pesawat yang menuju Afrika dan tidak menemui pejabat Tiongkok. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular