Oleh: Shi Hanping

Di dalam “Shi Hanping Mengatakan: Megatrands Ekonomi, 20 Tahun Mendatang,” saya telah meramalkan pola dan megatrands seluruh dunia. Titik beratnya menekankan pada krisis besar yang belum pernah terjadi dan bakal dihadapi oleh badan ekonomi baru yang sedang berkembang.

Krisis terbesar yang bakal dihadapi oleh RRT (Republik Rakyat Tiongkok) pada saat itu, yang ingin saya katakan adalah krisis kemanusiaan.

Dalam kontak dengan orang Jerman,  Anda akan menemukan bahwa mereka akan menggunakan seumur hidupnya melakukan sesuatu dengan tulus dan tekun, suatu produk diusahakan supaya lebih sempurna sampai menjadi seperti benda seni. Orang Jepang juga demikian. Banyak sekali bangsa yang brilian semuanya memiliki karakter yang stabil dan fokus. Sedangkan di zaman sekarang, banyak orang yang hanya ingin mendapatkan keuntungan secara instan, berapa banyakkah yang dapat bekerja dengan tulus dan tekun?

Manusia yang bersifat ceroboh (terburu nafsu), bagaikan tidak berakar dan bangsa itu pun akan menjadi tidak berakar. Manusia yang berhati masa bodoh, egois dan kejam, tidak mungkin akan dihormati orang lain.

Keterangan foto: Menginjak kepala seorang nenek di kota Kunming. Petugas Satpol PP di kota-kota besar RRT dalam menindak pedagang kaki lima acap kali di luar batas peri kemanusiaan. (internet)
Keterangan foto: Menginjak kepala seorang nenek di kota Kunming. Petugas Satpol PP di kota-kota besar RRT dalam menindak pedagang kaki lima acap kali di luar batas peri kemanusiaan. (internet)
Keterangan foto: Menghunjam kepala seorang pemuda dengan kaki di kota Yan An.  Petugas Satpol PP di kota-kota besar RRT dalam menindak pedagang kaki lima acap kali di luar batas peri kemanusiaan. (internet)
Keterangan foto: Menghunjam kepala seorang pemuda dengan kaki di kota Yan An. Petugas Satpol PP di kota-kota besar RRT dalam menindak pedagang kaki lima acap kali di luar batas peri kemanusiaan. (internet)

Pernah satu kali, saya meminta pendapat seorang wartawan Jerman mengenai suatu hal, “RRT itu di dalam dunia internasional sedemikian menahan diri dan cenderung mengalah, bahkan dengan semangat heroik filantrofis besar telah membantu dana besar ke sejumlah negara dengan royal, mengapa dunia internasional masih saja melontarkan isu teori ancaman Tiongkok?”

Wartawan Jerman itu balik bertanya, “Suatu bangsa yang tega menjual makanan beracun kepada bangsanya sendiri, suatu bangsa yang demi mengejar uang rela mencelakai secara kejam bangsanya sendiri, suatu negara yang tidak tahu mengasihi bangsanya sendiri, standard terendahnya di mana? Apa yang tidak berani dilakukannya? Apakah Anda sendiri tidak merasa hal ini sangat menakutkan?”

Jawaban tersebut membuatku amat sangat terguncang.

Menjelang tahun baru Imlek 2016 lalu, ada teman yang mengirimkan sepotong video. Seorang petugas (semacam Satpol PP), muda, kuat dan seorang tua renta bongkok yang sudah kenyang suka duka kehidupan. Petugas itu hendak menarik becak sang kakek yang berusaha melawan dengan merebutnya, tapi setiap kali didepak jatuh oleh si petugas kekar. Kakek itu meronta tanpa ada yang menolong, ia merangkak bangun lagi, didepak jatuh lagi.

Di dekat mereka berkerumun sekelompok penonton yang apatis dan menjulurkan leher, “Seolah-olah segerombol bebek yang  dijinjing oleh tangan-tangan yang tak nampak dan diangkat ke atas.”

Tak pelak muncul rasa pedih dalam hati. Sekalipun menjalankan hukum, hendaknya melaksanakannya secara beradab! Seelok apa pun wajah kota, apakah lebih penting daripada kehidupan manusia?

Seorang kakek tua uzur, yang layak menerima santunan hari tua, tapi masih mengandalkan becak tua untuk menafkahi hidupnya dan bukannya pergi mengemis. Sosok yang renta namun patut dihormati.

Di kalangan masyarakat kebaikan dibinasakan, dunia hukum juga membinasakan kebaikan. Peng Yu yang dituntut dan harus dihukum karena memapah orang tua yang jatuh (kasus menolong orang yang terjatuh malah dituduh menjatuhkan orang tersebut dan dituntut di pengadilan. Red.).

Seorang wanita lemah yang harus menerima tuntutan hukum bukannya menerima penghargaan hanya karena melawan tindakan perkosaan sehingga penjahatnya mati. Orang-orang baik hati, tambah lama tambah tidak berani berbaik hati, orang yang masa bodoh semakin lama semakin banyak pengikutnya. Ketika gejala demikian semakin lumrah, maka akan berubah menjadi suatu krisis yang maha besar yakni krisis kemanusiaan.

Lalu, darimanakah datangnya krisis semacam ini?

DalamWeChat dan internet tersebar sebuah artikel pendek ,”Kita telah membasmi bangsawan, namun justru menyisakan bajingan.” Di dalam artikel itu kita dapat melihat mengapa negara besar dengan peradaban beberapa ribu tahun, dalam waktu singkat tiba-tiba berubah mengalami krisis kemanusiaan.

Akibatnya, peradaban ‘bajingan’ menggantikan peradaban bangsawan, di dalam proses pergantian peradaban bangsawan menjadi bajingan, muncul penggencetan dan penghinaan terhadap si lemah. Ketamakan terhadap secuil keuntungan, penipuan, bernyali kecil, dan terlalu berhati-hati, tidak berani bertanggung-jawab, merasa senang melihat nasib buruk orang lain, mulai menjadi arus utama suatu masyarakat.

Berkilas balik sejenak, andaikan dalam diri petugas Satpol PP tersebut terdapat sedikit saja semangat kebangsawanan, apakah ia akan menggunakan metode kejam terhadap orang tua renta yang dengan kekuatan sendiri mencari sesuap nasi di musim dingin? Apakah para penonton yang santai tidak sampai tergerak hatinya malah menikmati tontonan si kuat menghina si lemah tersebut tanpa mengeluarkan sepatah kata pun? Dapat dengan santai melihat seorang tua renta yang meronta-ronta berjuang untuk menhidupi diri sendiri dengan kekuatannya sendiri?

Krisis terbesar yang dihadapi RRT saat ini adalah krisis sifat kemanusiaan, orang-orang di daratan Tiongkok perlu mencari kembali semangat bangsawan yang pernah ada pada diri leluhurnya, yakni  percaya diri, kredibilitas, gagah berani, terpelajar, sopansantun, penuh kasih, berani bertanggung jawab. (pur/whs/rmat)

Share

Video Popular